Part 48

1492 Kata

“Argh ....” “Kenapa selalu kaya gitu.” Mengetahui punggung Rain yang sudah tak terlihat termakan oleh pintu gerbang, Bagas melajukan mobilnya kembali. Sesampainya Bagas di kediamannya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur king sizenya Menatap lekat tembok sambil memegangi bola basket. “Gue boboh. Argh ...”umpatnya Dug Bagas melempar bola basket itu dengan kesal hingga membentur tembok. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa banyak berbicara ketika berada di depan Rain, padahal moment bisa bertemu dengan Rain dan bisa makan bersamanya itu adalah sebuah moment yang langka. Semenjak Rain masih sekolah, sudah berapa kali Rain tidak mengindahkan ajakannya. Meskipun Rain mengucapkannya secara halus, tapi tetap saja itu bermakana menolak. Dan hari ini, sebut saja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN