Pagi itu, kabut masih tipis bergelayut di atas rerumputan. Ayam jantan bersahut - sahutan dari arah kandang belakang, sementara embun menggantung di ujung daun pisang. Di kamar mungil berdinding kayu itu, Laras berdiri di depan cermin yang menempel di lemari pakaiannya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri. Rambut hitam panjangnya tergerai hingga punggung, berkilau lembut diterpa cahaya matahari yang menembus jendela bambu. Dengan hati-hati, ia merapikannya, lalu menyematkan jepit rambut kecil bermotif kupu-kupu berwarna hijau, hadiah dari ibunya yang sudah lama tiada. “Cantik…” gumamnya pelan, tapi ada getar samar di suaranya. Entah sedang memuji diri sendiri, atau sekadar menghibur hati yang belum tenang sejak semalam. Di luar kamar, terdengar suara bapaknya Laras yang sedang memberi

