BAB 22 Diantara Dua Nama

1394 Kata

Di rumah Marsya, lampu ruang tamu menyala kuning temaram, memantulkan cahaya lembut di dinding yang penuh bingkai foto-foto kecil. Di luar hujan sangat lebat. Tok… tok… tok… Ketukan di pintu memecah sunyi.Marsya yang sejak tadi duduk di ruang tengah, menatap ponselnya tanpa arah,tersentak kecil. Ia berjalan perlahan ke arah pintu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pintu dibuka dan di sana, di bawah cahaya lampu teras, berdiri Leon. Basah kuyup.Jaket dan rambutnya meneteskan air. Matanya sayu, wajahnya letih. Ada kelelahan yang tak hanya berasal dari hujan, tapi juga dari sesuatu yang lebih dalam rasa bersalah yang belum selesai. “Leon?” suara Marsya serak, antara lega dan marah. “Kamu kehujanan…” Leon menunduk pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku… lupa bawa jas huja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN