BAB 3 Hasrat Dan Rahasia

1088 Kata
Marsya masih menggenggam foto itu, tatapannya menusuk seperti ingin menelanjangi seluruh isi hati Leon. Tangannya sedikit bergetar, bibirnya berusaha menahan kata-kata yang sebenarnya ingin meledak keluar. “Leon…” suaranya pelan tapi dingin, berbeda dari kelembutan tadi. “Kenapa ada foto perempuan ini di dompetmu?” Leon terdiam, menelan ludah yang terasa pahit. Ia melangkah setengah maju, lalu berhenti, seolah jarak beberapa langkah itu menjadi jurang yang sulit ia seberangi. “Itu… temanku, Sya,” jawabnya akhirnya, mencoba menenangkan nada suaranya. Tapi tatapannya goyah, jelas berusaha menyembunyikan sesuatu. Marsya menoleh cepat, alisnya berkerut. “Teman? Kau menyimpan fotonya di dompetmu, Leon. Bukan sekadar teman, kan?” Sunyi sejenak. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar, mengiringi jantung Leon yang berdetak semakin keras. Leon menunduk, menarik napas panjang. Bagaimana aku harus menjelaskan? batinnya resah. Marsya berdiri dari ranjang, berjalan pelan ke arahnya. Wajahnya tak lagi sekadar marah—ada luka yang mengintip di balik tatapannya. “Leon tolong jawab jujur. Siapa dia…?” Leon menutup mata sejenak, lalu menatap Marsya dengan sorot bimbang. “Dia… Cindy. Teman kuliahku. Dan....” Kalimat itu menggantung di udara, seperti pisau yang siap mengiris perasaan Marsya kapan saja. Leon menelan ludahnya lagi, wajahnya kaku namun matanya berusaha menenangkan. Ia melangkah pelan mendekati Marsya, berusaha merebut foto itu dari tangannya. “Sya… jangan salah paham dulu. Cindy itu… memang temanku. Kami sering kerja kelompok bareng, jadi ya… aku simpan fotonya cuma buat kenang- kenangan,” ucap Leon lirih, suaranya terdengar bergetar meski ia mencoba terdengar meyakinkan. Marsya menatapnya tajam, tidak bergeming. Jemarinya justru meremas foto itu lebih erat, seolah takut jika Leon berusaha menyembunyikannya kembali. “Kenang-kenangan?” Marsya mendengus pelan, lalu matanya memerah. “Leon, aku bukan anak kecil. Tak ada lelaki menyimpan foto ‘teman biasa’ di dompet, apalagi serapi ini.” Leon tersenyum kecut, mencoba menutupi kegugupannya. Tangannya terulur, menyentuh bahu Marsya lembut. “Kamu terlalu cemburu, Sya. Aku cuma sama kamu malam ini, kan? Kamu tahu aku nyaman di sini, sama kamu…” Marsya menggigit bibir bawahnya, wajahnya masih diliputi ragu. Separuh hatinya ingin percaya pada kata-kata manis Leon, tapi separuh lainnya berteriak penuh curiga. Keheningan kembali menyergap. Hanya napas mereka yang terdengar, saling mendesah berat. Marsya akhirnya meletakkan foto itu di meja samping ranjang, tapi matanya tak pernah lepas dari Leon. “Baiklah, aku percaya. Tapi, Leon…” suaranya bergetar, penuh luka yang ia sembunyikan. "kalau suatu hari aku tahu kamu berbohong, jangan pernah berharap aku akan memaafkanmu.” Leon terdiam, hanya mampu menunduk. Senyum tipisnya muncul, tapi di balik itu dadanya terasa sesak—karena ia tahu, cepat atau lambat kebohongannya akan terbongkar. Marsya masih menatap Leon lama, seolah berusaha membaca kejujuran dari sorot matanya. Tapi ketika Leon meraih tangannya, mengecup lembut punggung jemarinya, hatinya perlahan luluh. “Percayalah sama aku, Sya…” bisik Leon dengan suara pelan, hampir seperti doa. Marsya menarik napas panjang, mencoba menghapus kegalauan dari benaknya. Ia lalu tersenyum samar, meski senyum itu tak sepenuhnya utuh. “Aku… hanya ingin kamu jujur, Leon. Itu saja.” Leon mendekat, mencium keningnya dengan lembut, lalu menelusuri wajah Marsya dengan tatapan penuh kasih. Perlahan, ketegangan tadi berubah jadi kehangatan yang kembali mengalir. Marsya pun membalas dengan memeluk pinggang Leon erat, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar miliknya. Ciuman mereka kembali bertaut, kali ini lebih dalam, lebih lama, penuh gairah yang menuntut. Jemari Marsya tak sabar menjelajahi tubuh Leon, sementara Leon merespons dengan desahan kecil yang membuat suasana semakin menggetarkan. Malam itu, keintiman kembali menyatukan mereka. Selimut tipis menjadi satu-satunya saksi yang menutupi tubuh mereka yang saling mencari kehangatan. Marsya bersandar di d**a Leon, matanya perlahan terpejam, namun hatinya masih berbisik resah. Apakah aku benar-benar satu-satunya bagi Leon? Atau ada cinta lain yang diam-diam ia sembunyikan dariku? Leon mengusap lembut rambut Marsya, membiarkan dirinya larut dalam pelukan itu. Ia menatap langit-langit dengan mata yang tak bisa sepenuhnya tenang. Sebab ia tahu, kebohongan malam ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar. Dan akhirnya, keduanya tertidur dalam pelukan, rapuh sekaligus hangat, menyisakan tanda tanya yang belum terjawab. --------- Uap tipis masih menempel di kaca kamar mandi saat Leon keluar dengan hanya mengenakan handuk putih melilit pinggangnya. Tubuhnya yang masih basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi dari jendela. Marsya, yang sejak tadi menyiapkan baju di ranjang, menoleh dan tersenyum tipis. “Sini, coba pakai baju ini,” ucap Marsya sambil mengangkat stelan kemeja casual berwarna biru muda dan celana kain gelap yang rapi. Leon sempat tertegun, lalu mengerutkan kening. “Kamu beliin aku baju lagi?” Marsya mengangguk sambil menyodorkan baju itu. “Dua hari lalu. Aku pikir… kamu akan terlihat lebih dewasa kalau memakainya. Dan lebih menawan.” Bibirnya melengkung nakal, pipinya sedikit merona. Leon terkekeh, lalu mengambil baju itu. “Sya, kamu… selalu saja memperhatikan aku detail. Nanti aku jadi manja.” Dengan tenang Leon mengenakan baju tersebut, lalu berdiri di depan cermin besar. Tangannya merapikan kerah kemeja, sementara Marsya berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerakan. Leon mengusap rambutnya ke belakang, membuat penampilannya terlihat segar dan berwibawa. Marsya tiba-tiba mendekat, melingkarkan tangan ke pinggang Leon dari samping, lalu mencium pipinya dengan hangat. “Sekarang kamu terlihat seperti dosen beneran, bukan cuma mahasiswa ekonomi ” Leon tersenyum kecut, menoleh sekilas, lalu berkata lembut, “Sya… ini sudah jam tujuh. Aku ada kuliah jam setengah delapan. Jangan dulu, ya.” Mata Leon menatap Marsya dengan sorot penuh permintaan, seolah berharap Marsya bisa menahan hasratnya. Marsya terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil sambil tersenyum tipis, meski ada kilatan kecewa di matanya. “Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti malam aku menagih.” Leon tertawa pelan, meraih dagu Marsya dan mengecup bibirnya sekilas sebelum menjauh. “Iya Sya, aku janji” Marsya pun segera mengenakan seragam dosennya, merapikan jilbab dan tas kerja, sementara Leon sudah siap dengan ranselnya. Keduanya lalu berjalan keluar rumah bersama. Udara pagi masih segar, burung-burung berkicau di pepohonan. Marsya membuka pintu mobilnya, Leon ikut masuk. Di dalam kabin mobil, sejenak mereka hanya saling berpandangan, tersenyum samar, seakan tak ingin berpisah walau hanya beberapa jam. Marsya menyalakan mesin mobil, lalu berbisik pelan, “Ingat ya. Jangan bikin aku cemburu lagi.” Leon menoleh cepat, seolah kata-kata itu menusuk hatinya. Namun ia segera menyembunyikan kegugupannya dengan senyum. “Aku hanya milikmu, Sya.” Mobil pun melaju pelan, membawa mereka menuju hari baru—tapi di balik senyum hangat, masing-masing menyimpan rahasia yang bisa meledak kapan saja. Marsya menggenggam erat setir mobil, tak menyadari bahwa dari dalam ransel Leon yang diletakkan di jok belakang, ada sebuah buku catatan di dalamnya, ada tulisan tangan rapi bertuliskan: “Cindy… aku rindu kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN