BAB Cinta Yang Terselubung

1202 Kata
Mobil terus melaju di jalanan yang mulai ramai. Marsya fokus menatap ke depan, sementara Leon hanya memandangi jendela, pikirannya melayang entah ke mana. Ada sesuatu di balik sorot matanya—perasaan yang Marsya tak bisa tebak, meski ia mencoba menutupinya dengan senyum. Sesampainya di kampus, Marsya berhenti di depan gedung Fakultas KIP Bahasa dan Sastra Inggris. Tepat di sisi gerbang utama kampus, terbentang sebuah baner besar berwarna biru muda bertuliskan. “UNIVERSITAS MERDEKA. SELAMAT DATANG CALON MAHASISWA BARU " Tulisan itu tampak jelas di antara hiruk-pikuk mahasiswa yang lalu-lalang. Di bawahnya tertera beberapa jurusan: FKIP Matematika, Fisika, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Ekonomi Koperasi, Fakultas Teknik Sipil, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum. Baner itu bergoyang pelan tertiup angin pagi menambah semarak suasana penerimaan mahasiswa baru yang tampak di setiap sudut kampus—mulai dari spanduk kecil di taman hingga papan petunjuk pendaftaran di depan gedung rektorat. Leon menatap sekilas tulisan di baner itu, senyumnya samar. “Wah… suasananya kayak waktu pertama kali aku daftar kuliah dulu,” gumamnya pelan. Marsya hanya tersenyum tipis, pandangannya mengikuti langkah- langkah mahasiswa baru yang membawa map berwarna-warni. “Aku turun di sini saja, Sya. Jangan sampai ada mahasiswa yang lihat kamu nganterin aku. Bisa jadi bahan gosip.” Marsya menghela napas, lalu tersenyum samar. “Ya sudah, tapi ingat janjimu semalam.” Leon mengangguk. Ia membuka pintu mobil, berdiri tegap, lalu melongok sebentar ke arah Marsya. “Aku telepon nanti, ya.” Marsya mengangguk, berusaha menahan keinginannya untuk memeluk Leon sekali lagi. Ia menatap sosok itu berjalan menjauh, langkahnya mantap, tubuhnya gagah dalam balutan kemeja biru yang ia pilihkan sendiri. Namun jauh di dalam hati, Marsya merasakan ada jarak yang tak bisa ia jangkau. Begitu Leon menghilang di balik gedung, Marsya duduk sejenak di dalam mobil, menggenggam setir erat. Dadanya sesak. Ia menepuk pipinya pelan, berusaha mengusir bayangan wajah perempuan di foto tadi malam. “Sya.. kamu harus percaya bahwa Leon hanya milikmu,” bisiknya pada diri sendiri. Suasana kampus siang itu ramai oleh hiruk-pikuk mahasiswa yang bergegas menuju kelas masing-masing. Leon berjalan cepat melewati koridor, ranselnya masih tergantung di punggung. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada kuliah hari itu—bayangan Marsya yang penuh kasih dan tatapan Cindy yang selalu menghantui membuat dadanya sesak. Di tikungan koridor, langkah Leon mendadak terhenti. Cindy berdiri di sana, menunggu dengan senyum hangat yang membuat waktu seakan melambat. Tatapan matanya seolah berkata lebih banyak daripada seribu kalimat. “Leon… kita perlu bicara,” ucap Cindy lirih, namun tegas. Dan saat itu juga, hati Leon terasa ditarik ke dua arah—antara Marsya yang sudah begitu dalam ia masuki hidupnya, dan Cindy yang masih memegang kunci masa depannya. Cindy menatap Leon dengan sorot mata yang tak bisa ia sembunyikan. Ada kerinduan yang begitu nyata, sekaligus kecewa yang perlahan menggerogoti. “Leon… siang ini kamu ada waktu, kan?” tanyanya pelan, hampir seperti memohon. “Kita jalan sebentar saja. Sudah lama kita nggak seperti dulu.” Leon terdiam. Ia menunduk, mengusap tengkuknya yang dingin oleh keringat. Bibirnya bergerak, tapi suara yang keluar justru membuat Cindy semakin tersakiti. “Maaf, Cin. Aku nggak bisa. Nanti siang aku harus ngajar bahasa Inggris di kelas fisika. Bu Marsya ada jadwal di kampus lain, jadi aku yang gantiin.” Cindy menatapnya tajam. “Ngajar lagi, ngajar lagi… Sejak kamu sibuk jadi asisten dosen, kamu selalu nggak punya waktu sedikit pun buat aku.” Nada suaranya terdengar getir, seperti menahan tangis. Leon segera meraih tangannya, menggenggam erat. “Cin… tolong pahami aku. Percaya, aku nggak pernah lupa sama kamu.” Cindy mengalihkan pandangan, menahan air matanya agar tak jatuh. Hanya sebuah anggukan kecil keluar dari dirinya, meski hatinya jelas tidak puas dengan jawaban itu. Leon menarik napas lega, lalu tersenyum samar. “Cin nanti… waktu jam kuliah, kamu duduknya di dekatku ya... supaya aku merasa kamu tetap ada, nemenin aku.” Sorot mata Cindy melunak, bibirnya perlahan melengkung. “Hanya itu obat kecewaku, ?” tanyanya manja, meski ada getir yang terselip. Leon terkekeh canggung. “Untuk sekarang… iya. Boleh, kan?” Cindy menatap sekeliling yang masih sepi. Hanya mereka berdua di lorong koridor kampus itu. cahaya matahari menyusup dari celah jendela, menciptakan suasana yang terlalu hening. Perlahan Cindy mendekat, wajahnya terangkat menatap Leon penuh arti. “Kalau begitu… cium aku. Sebelum kelas ini penuh orang. Aku butuh bukti kalau kamu masih milikku.” Jantung Leon berdegup kencang. Pandangannya beralih ke pintu kelas yang masih terbuka setengah, lalu kembali pada Cindy yang kini berdiri tepat di depannya, begitu dekat. “Cin…” suaranya bergetar, namun Cindy tak memberi ruang untuk alasan lagi. Ia meraih kerah kemeja Leon, menariknya mendekat. Detik berikutnya, bibir mereka bertemu. Hangat, intens, dan penuh kerinduan yang terpendam. Sebuah ciuman yang singkat namun membakar, menyisakan napas mereka yang tersengal. Ketika Cindy akhirnya melepaskan, matanya berkilau. “Itu baru cukup,” bisiknya lirih. Leon hanya bisa menunduk, hatinya diliputi rasa bersalah. Di benaknya, wajah Marsya seketika muncul bersanding dengan senyum Cindy yang masih melekat di bibirnya. Dua dunia, dua rahasia, dan satu hati yang mulai retak. Suara langkah kaki dari lorong mulai terdengar. Cindy buru-buru merapikan rambutnya, sementara Leon menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih berlari. Pintu kelas berderit terbuka, beberapa mahasiswa mulai masuk sambil bercengkerama. Leon langsung mengambil buku catatan di meja, pura-pura sibuk menyiapkan materi. Cindy dengan tenang duduk di bangku paling dekat dengannya, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa detik lalu. ------ Marsya berjalan pelan menyusuri lorong fakultas, map berisi catatan kuliah terselip di lengannya. Senyumnya masih mengembang samar, teringat wajah Leon pagi tadi saat mengenakan kemeja biru muda yang ia pilihkan sendiri. Ada rasa bangga di hatinya—seolah Leon benar-benar sudah tampak dewasa dan pantas menyandang sebutan Mr. Leon yang kini melekat padanya. Namun jauh di balik rasa bangga itu, Marsya masih menyimpan secuil resah. Bayangan foto perempuan bernama Cindy semalam terus menghantui benaknya, meski ia sudah berusaha menepis. “Jangan terlalu curiga… Leon hanya butuh dipercaya,” gumamnya lirih, berusaha menenangkan diri. Ia membuka pintu ruang dosen, menyapa beberapa kolega, lalu duduk sambil menyalakan komputer. Di sela-sela kesibukannya, Marsya membuka ponsel dan menatap layar lama. Tak ada pesan baru dari Leon. Ia menghela napas, mencoba tersenyum. Sementara itu, di ruang kelas manajemen ekonomi, suasana mulai ramai.Mahasiswa-mahasiswa ekonomi duduk di bangkunya masing-masing, bersiap mendengarkan dosen mata kuliah manajemen yang baru saja masuk. Leon duduk di barisan tengah bersama teman-temannya, tampak rapi dengan kemeja biru muda yang Marsya belikan. Di sampingnya, Cindy sudah lebih dulu menaruh buku dan bolpennya. “Pagi, Mr. Leon!” goda salah satu mahasiswa laki-laki dari belakang. Kelas pun riuh oleh tawa kecil. Sejak Leon dipercaya menjadi asisten dosen bahasa Inggris, julukan itu melekat padanya. Leon hanya mengangkat tangan dan terkekeh, meski wajahnya sedikit tegang. “Sudah, jangan ribut. Dosen sudah datang, tuh.” Cindy tersenyum tipis, lalu membisik pelan, hanya untuk Leon, “Tetap saja… buatku, kamu bukan Mr. Leon. Kamu cuma Leon-ku.” Ucapan itu membuat Leon tercekat sejenak. Ia menunduk, pura-pura menyalin catatan dari papan tulis, sementara hatinya berdegup kencang. Cindy tersenyum puas, merasa berhasil membuat Leon gelisah. Dari luar kelas, Marsya masih sibuk di ruang dosen, sama sekali tak tahu bahwa di ruang ini, Leon dan Cindy duduk berdampingan, menyimpan rahasia yang suatu saat bisa menghancurkan segalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN