BAB 5 Diantara Dua Cinta

1409 Kata
Setelah kelas berakhir, mahasiswa mulai berhamburan keluar. Suara riuh memenuhi lorong kampus, bergema dari langkah kaki dan tawa-tawa ringan yang saling bersahutan. Leon masih sibuk merapikan buku dan catatan di mejanya. Cindy, dengan santai namun penuh arti, menghampirinya. Mereka berdiri di depan kelas, jaraknya begitu dekat. Cindy tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Leon. “Leon, tadi kenapa sih waktu kuliah kamu kayak nggak fokus? Apa kamu lagi ada masalah?” tanyanya lembut, sorot matanya menelisik wajah Leon. Leon menghela napas kecil. “Nggak, Cin. Aku nggak ada masalah… cuma lagi capek saja.” Sambil berkata begitu, Leon membuka ranselnya. Dari dalam ia mengeluarkan sebuah buku catatan berwarna biru tua. Ia menatap Cindy sejenak, lalu menyerahkannya. "Ini… bacalah. Ada catatanku di situ untuk kamu.” Cindy menerimanya dengan penasaran. Ia membuka lembar pertama, dan seketika matanya membesar. Tertera tulisan tangan Leon yang sederhana namun penuh makna: “Cindy, aku rindu kamu” Senyum merekah di bibir Cindy, matanya berbinar. “Terima kasih, Leon…” bisiknya, suara nyaris bergetar. Leon menunduk, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Cin, itu buku diary untuk kamu… anggap saja kado ulang tahun dariku. Maaf, kemarin aku nggak bisa ada di sampingmu di hari ulang tahunmu.” Mata Cindy berkaca-kaca. Ia hampir tak kuasa menahan perasaan yang mengalir deras di dadanya. Dengan spontan, ia ingin memeluk Leon—membalas perasaan yang akhirnya terang itu. Namun sebelum ia sempat, Leon menahan tangannya. “Leon,” panggil Cindy lembut, “temenin aku makan siang, ya? kita udah lama nggak makan bareng. Kita ke kantin lama aja. Tempat kita makan dulu” Leon menatap Cindy, wajahnya penuh keraguan. Bibirnya ingin berkata iya, tapi hatinya menolak. Baru saja ia hendak menjawab, suara tawa dosen perempuan terdengar dari lorong, semakin mendekat. “Cin…” suara Leon rendah, nyaris berbisik. Cindy terdiam, bingung. Ia mengikuti arah pandang Leon. Dari lorong, suara langkah mendekat disertai tawa kecil. Marsya muncul bersama seorang dosen lain, map hitam terselip di tangannya. Ia melangkah anggun, senyumnya ramah khas seorang dosen yang terbiasa jadi pusat perhatian. Namun, saat matanya menangkap Leon dan Cindy berdiri terlalu dekat di pintu kelas, senyum itu berubah—tetap indah, tetapi tajam menusuk. Waktu serasa berhenti. Leon kaku di tempatnya. Cindy buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk merapikan bukunya. Marsya menghampiri dengan tenang, suaranya lembut namun sarat penekanan. “Leon… sudah selesai kelasnya?” Leon menunduk, mencoba menyembunyikan kegugupannya. “Iya, Bu… baru saja selesai.” Marsya mengangguk, lalu menoleh pada Cindy. Senyumnya masih ada, tapi sorot matanya tajam—seperti sedang membaca isi hati seseorang. “Oh, kamu yang namanya Cindy ya? . Cantik sekali. Kamu dekat dengan Leon ya?" Cindy menelan ludah, memaksakan senyum meski jantungnya berdegup kencang. “I-iya, Bu… saya sering bareng Leon, soalnya satu kelas.” Marsya mengangguk pelan, lalu menepuk bahu Leon sebelum melangkah pergi bersama rekannya. Langkahnya tetap anggun, aroma parfumnya tertinggal, namun map hitam di tangannya bergetar halus—tanda ada sesuatu yang sedang ia tahan dalam hatinya. Cindy menoleh pada Leon, wajahnya penuh cemas. Ia berbisik, hampir tak terdengar. ' Leon… Bu Marsya tahu aku dari mana? dan aku bisa lihat dari tatapannya. Dia seperti curiga.” Leon menutup mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya yang kalut. d**a naik-turun menahan debaran, lalu ia menghela napas panjang, seolah mencari kekuatan dari udara yang dihirupnya. Suaranya keluar pelan, sedikit bergetar, “Aku… pernah cerita tentang kamu ke Bu Marsya.” Marsya yang mendengarnya sontak terkejut. Bola matanya membesar, refleks mengerjap cepat seakan tak percaya. Alisnya terangkat, bibirnya sedikit terbuka tanpa kata. Tubuhnya maju sedikit, mencondongkan diri ke arah Leon, menatapnya dengan sorot mata penuh tuntutan jawaban. Dengan suara lirih namun tajam menusuk, ia berbisik, “Kamu menceritakan aku ke Bu Marsya… untuk apa ?” Pertanyaan itu membuat jantung Leon semakin berdentum keras. Tenggorokannya terasa kering, lidahnya kelu. Keringat dingin mulai muncul di pelipis. Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah dengan senyum dipaksakan yang justru tampak kaku. Dengan suara yang gugup, terputus-putus, ia mencoba menutupi keresahannya. “Ka… karena kamu pacarku.” Kata-kata itu akhirnya keluar, berat dan terasa seperti duri di lidahnya. Matanya tak berani menatap Cindy terlalu lama, hanya melirik singkat lalu kembali mengalihkan pandangan. Ada rasa bersalah yang menyelinap di balik sorotnya, namun ia memaksa menampilkan kepastian semu. Cindy menatap Leon dengan ragu. Ada sesuatu yang aneh dari sikapnya sejak Bu Marsya tadi menghampiri. Tatapannya kosong, wajahnya seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ditunjukkan. Cindy merasakan perubahan itu dengan jelas, seakan ada jarak tak kasat mata yang tiba-tiba tercipta di antara mereka. Dengan hati-hati, ia meraih tangan Leon. Jemarinya menggenggam lembut, mencoba mengalirkan rasa tenang ke dalam dirinya. Sentuhan itu seharusnya hangat, namun yang dirasakannya justru dingin—seolah Leon sedang menjauh meski tubuhnya ada di sampingnya. Cindy mendekat, matanya menatap penuh tanya. Bibirnya bergetar tipis sebelum akhirnya ia berbisik pelan, hampir seperti doa yang takut terhempas angin, “Leon… ayo kita pergi.” Leon hanya diam. Matanya sempat berkedip cepat, lalu menoleh perlahan ke arah Cindy. Ada kegamangan yang jelas terbaca—antara ingin mengikuti ajakan itu, atau tetap terikat pada bayangan Marsya yang menahannya di sini. Cindy melihat sorot mata Leon seakan penuh rahasia dan semakin kuat perasaannya mengatakan bahwa Leon sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Leon perlahan melepaskan genggaman tangan Cindy. Ada jeda singkat di udara, seolah kehangatan itu enggan benar-benar terputus. Jemarinya terasa dingin, keringat tipis membasahi telapak tangannya. Dengan gerakan tergesa, ia meraih tas ranselnya lalu menggendongnya ke bahu. Nafasnya tidak teratur, sedikit memburu. Ada gugup yang jelas terlihat dari cara ia menelan ludah, juga dari sorot matanya yang berusaha tegar. Pandangannya kemudian terarah lurus ke depan—ke pintu ruangan dosen yang setengah terbuka. Di balik kaca bening pintu itu, bayangan Marsya terlihat samar. Hatinya bergetar tak karuan; seakan ada dua dunia yang saling bertabrakan dalam dirinya. Mata Leon menajam, sorotnya penuh ragu sekaligus dorongan kuat untuk melangkah. Wajahnya menegang, rahangnya sedikit mengeras, menahan gejolak yang tak bisa ia tunjukkan pada siapa pun. Cindy sempat menatapnya heran, namun Leon tak bergeming. Seluruh perhatiannya kini tertuju pada sosok di dalam ruangan itu—Marsya. "Cin. Aku… aku harus pergi dulu, Cin. Nanti kita bicara lagi.” Ia melangkah cepat meninggalkan Cindy, menyisakan gadis itu terpaku dengan mata berkaca-kaca. Leon berjalan menyusuri lorong kampus dengan langkah tergesa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Kepalanya dipenuhi gambaran wajah Marsya—senyumnya yang lembut, tapi kali ini dengan tatapan yang menusuk tajam. Ia tahu, Marsya bukan perempuan bodoh. Sekali ia mencium ada kebohongan, ia pasti akan mencari tahu. Dan kalau itu terjadi… rahasia Leon bisa hancur dalam sekejap. Di ruang dosen, Marsya duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya tetap tenang di depan rekan-rekan, tapi ketika semua orang sibuk dengan komputer masing-masing, ia membuka ponsel, menatap layar kosong tanpa pesan baru dari Leon. Tangannya mengepal. "Leon… jangan sampai kamu bohongi aku. Aku sudah terlalu jauh masuk dalam hidupmu. Kalau kamu berani mengkhianati… aku akan tahu segalanya." Sementara itu, Cindy berjalan sendirian ke arah taman kampus. Di bangku beton bawah pohon, ia duduk dengan wajah muram. Air matanya jatuh perlahan, meski ia buru-buru menyekanya agar tak ada yang melihat. “Leon meskipun sebenarnya kamu adalah selingkuhanku, tapi aku lebih mencintaimu dari pada tunanganku. Aku nggak akan kalah, Leon. Kamu terlalu berharga untuk aku lepaskan begitu saja. Bahkan kalau harus bersaing sama dia… aku akan tetap berjuang.” Langit siang itu mulai mendung, angin bertiup kencang, seolah menjadi pertanda akan ada badai yang datang. Tiga hati kini terikat dalam simpul yang makin rumit. Leon dengan rahasia yang ia simpan, Cindy dengan cintanya yang tak rela dilepaskan, dan Marsya dengan naluri kepemilikan yang semakin kuat. Di tengah keramaian kampus, tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum, sapa, dan gelak tawa, sedang ada benih konflik yang perlahan tumbuh. Sebuah cinta yang terselubung—rapuh, namun juga berbahaya. Dan pada saatnya, satu rahasia akan terbongkar. Satu kebohongan akan runtuh. Dan satu hati, mungkin, akan hancur. Di ruang dosen, Marsya menatap layar ponselnya sekali lagi. Senyum tipis terlukis di wajahnya—bukan senyum hangat seorang pengajar, melainkan senyum yang menyimpan rencana. Ia mulai mengetik sesuatu, jarinya bergerak pelan namun pasti. "Kalau memang ada yang kamu sembunyikan dariku, Leon… cepat atau lambat, aku akan tahu. Dan ketika saat itu tiba—bukan hanya cintamu yang akan hancur, tapi juga hidupmu." Pesan itu tidak ia kirimkan. Ia hapus. Lalu ia menyimpan ponselnya dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Namun dalam hatinya, Marsya sudah mulai merajut benang permainan. Badai itu bukan lagi sekadar pertanda di langit. Ia sudah lahir… dan siap menyapu siapa pun yang berani melawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN