BAB 6 Yang Tertinggal Di Lorong FKIP

1489 Kata
Siang itu, kampus FKIP dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa baru.Lorong depan Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris riuh oleh suara calon mahasiswa yang sedang mengurus berkas pendaftaran.Tumpukan map warna-warni memenuhi meja pelayanan, sementara kipas angin besar di pojok ruangan berputar lambat, menyebarkan aroma kertas dan tinta. Laras berjalan di samping Tina, sahabatnya sejak kecil. Keduanya sama-sama gadis desa;langkah mereka masih tampak kaku di tengah hiruk pikuk kampus yang megah.Tina, dengan rambut dikepang sederhana, tampak memeluk map merah berisi dokumen pendaftaran. Sementara Laras rambut panjangnya tergerai rapi, hanya dijepit dengan jepit kecil bergambar bunga.Wajahnya polos tanpa make up, kulitnya putih bersih, tubuhnya langsing, dan senyumnya memancarkan kecantikan alami seorang gadis desa. Ia mengenakan baju hem berkerah warna putih motif bunga-bunga dan celana kain hitam dengan tas selempang kain warna merah. Penampilannya sederhana, tapi menarik dan bersahaja. “Aduh, Ras...gedung kampusnya besar sekali ya... kayak di Jakarta,” bisik Tina dengan mata berbinar. Laras tersenyum tipis, rambutnya sedikit tergerai tertiup angin.“Iya, Tin. Semua orang di sini terlihat pintar, pakaiannya rapi. Aku jadi malu masuk ke sini, rasanya seperti nggak pantas.” “Ah, kamu ini kenapa sih. Kamu kan cuma nganterin aku aja, Ras, yang penting aku bisa daftar dulu.Siapa tahu nanti kamu bisa kuliah bareng aku.” jawab Tina sambil menepuk lengan Laras pelan. Laras hanya mengangguk kecil. Ia menunduk, menggenggam diary cokelat lusuh yang selalu menemaninya.Diary itu sudah penuh dengan curahan hati seorang gadis desa yang sering merasa mimpinya terlalu besar untuk kenyataan hidupnya. Saat Tina sibuk mengurus formulir di dalam ruangan, Laras duduk di kursi panjang depan prodi. Ia membuka diary itu sebentar, menuliskan cepat dengan tulisan khasnya yang miring: ***Rasanya aku hanya orang luar yang berdiri di depan pintu. Tak punya kunci untuk masuk, tapi hatiku tetap rindu dengan tempat ini. Aku ingin...meski hanya sehari saja bisa jadi mahasiswa.*** Laras Ia buru-buru menutup diary itu ketika suara petugas administrasi terdengar memanggil nama Tina dari dalam.Tak lama kemudian,Tina keluar dengan wajah lega, sambil menggenggam map merahnya. “Alhamdulillah, Ras! Sudah selesai.Aku resmi jadi calon mahasiswa!” serunya dengan semangat. Laras tersenyum lebar.“Syukurlah,Tin. Aku senang banget.” Petugas administrasi di dalam ruangan menutup kaca loket sambil berkata, “Sudah ya, Mbak.Hari ini cukup sampai di sini. Pendaftarannya kita tutup.Besok buka lagi jam delapan pagi.” Tina menoleh ke Laras dengan mata berbinar.“Berarti aku pendaftar terakhir, Ras! Wah, pas banget ya, kalau tadi kita telat lima menit aja, mungkin sudah nggak sempat.” Laras tertawa kecil,“Iya, rezekimu, Tin.” Keduanya berjalan menyusuri lorong yang mulai sepi.Suara tawa mahasiswa baru perlahan menghilang, hanya terdengar langkah sepatu Tina dan sandal Laras serta desah angin sore dari jendela terbuka. Matahari condong ke barat, memantulkan bayangan panjang di dinding lorong kampus yang kini tampak lengang. Tanpa mereka sadari, diary cokelat milik Laras terjatuh tepat di depan pintu Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris. ---- Beberapa menit kemudian, suasana kampus benar-benar sunyi.Petugas administrasi menutup pintu, papan bertuliskan “TUTUP" tergantung di depan pintu ruangan. Leon datang dengan langkah tenang. Kemeja biru muda, ransel hitam di punggung, dan map di tangannya menandakan kesibukannya sebagai asisten dosen. Ia sempat menatap sekitar lorong sudah kosong, kursi tunggu juga tidak ada yang menduduki seorangpun. Ketika Leon mau masuk ke ruang dosen, matanya menangkap sebuah buku kecil di lantai.Ia membungkuk, memungutnya. Sampul cokelat lusuh dengan tulisan tangan puitis di dalamnya menarik perhatiannya.Nama “Laras” muncul berulang di setiap halaman. Salah satu catatan membuat Leon terdiam lama: ***Rasanya aku hanya orang luar yang berdiri di depan pintu. Tak punya kunci untuk masuk, tapi hatiku tetap rindu dengan tempat ini. Aku ingin... meski hanya sehari saja bisa jadi mahasiswa.*** Laras Leon menutup buku itu perlahan, menghela napas panjang. Ia menatap lorong yang kini benar-benar sepi, lalu bergumam pelan,"Sudah jam empat sore…sepi sekali.Mungkin yang punya buku ini sudah pulang.” Leon menatap halaman terakhir diary itu sekali lagi sebelum memasukkannya ke dalam tas.Lorong kampus kini benar- benar sunyi. Hanya suara gemerisik daun dari halaman luar yang terdengar samar. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menuju ruangan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris.Dengan hati-hati, Leon mendorong daun pintu ruangan itu pelan.Ruangan itu rapi dan wangi, meja-meja dosen berjajar dengan tumpukan buku, vas bunga plastik, dan beberapa cangkir kopi yang sudah kosong. Ia berjalan ke arah meja paling dekat dengan jendela meja milik Marsya. Kemudian di meja itulah Leon meletakkan map berisi materi kuliah siang ini.Tangannya sempat berhenti sesaat di atas meja, matanya menatap papan nama bertuliskan “Marsya Pratiwi, M.Pd”.Ada sesuatu di sorot matanya perpaduan antara kagum dan getir. Setelah memastikan semua rapi, Leon keluar dari ruangan.Pintu ia tutup perlahan, hingga terdengar bunyi klik lembut di keheningan lorong.Di depan ruangan itu, Leon menyalakan ponselnya, lalu menekan nama Marsya di daftar panggilan. Suara di seberang terdengar lembut, hangat, tapi juga berwibawa. “Ya, Leon?” Leon menghela napas pendek sebelum menjawab, “Sya, materi kuliah hari ini sudah aku taruh di meja kerjamu, ya. Sekarang aku mau langsung pulang.” “Iya, Leon.Kamu langsung pulang saja,” jawab Marsya, suaranya terdengar lembut namun ada nada kepemilikan di baliknya.“aku ngajarnya sampai sore. Ingat, nanti malam kamu temenin aku lagi, ya.” Leon terdiam sesaat, ia teringat dengan Cindy yang tadi siang terpaksa dia kecewakan lagi. “Iya, Sya... Tapi agak malam, ya. Aku mau ngerjain tugas kuliah dulu.” “Iya, tidak apa-apa,” jawab Marsya pelan. Ada jeda hening di antara mereka, hening yang terasa akrab namun juga penuh rahasia. Leon menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum memasukkannya ke saku. Angin sore berembus pelan, menerpa wajahnya. Ia menatap gedung fakultas yang perlahan mulai teduh, lalu berbisik lirih, " Aku harus ke rumah Cindy sekarang. Tapi kenapa kok hari ini aku merasakan ada yang beda?" Kemudian dia mengingat tentang Buku Diary yang setiap halamannya ada nama Laras. Tangannya menyentuh tas tempat diary cokelat itu tersimpan. Sebuah buku lusuh milik perempuan yang bahkan belum pernah ia kenal, tapi entah mengapa, namanya sudah meninggalkan jejak di hati yang belum sempat ia pahami. Leon memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan menyusuri lorong-lorong kampus.Angin sore membawa aroma tanah dan daun kering, menandakan hari mulai condong menuju senja. Langkahnya terhenti di area parkiran kampus.Di antara deretan kendaraan, motor sport hitam metalik miliknya berdiri mencolok mengilap di bawah cahaya matahari yang mulai meredup. Tubuhnya tegap, kemeja biru mudanya tertiup angin, rambutnya sedikit berantakan, membuatnya tampak seperti sosok yang sempurna di antara sepinya kampus. Namun di sisi lain parkiran, tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak dua gadis sederhana tengah bersiap pulang. Salah satunya duduk di atas motor tua yang suaranya batuk-batuk setiap kali distarter, sementara yang satu lagi berdiri di sampingnya, memegang map merah.Bagi Leon yang sempat memandanginya , mereka tampak asing di lingkungan kampus seperti dua warna yang berbeda di antara dunia yang mewah. Suara mereka terdengar samar oleh Leon, terbawa angin sore. “Tin, besok aku sudah mulai kerja di pabrik rokok,” ujar gadis yang berdiri, suaranya lembut tapi mengandung nada gugup.“Kamu bisa nggak nganterin aku hari pertamaku kerja? Sampai pintu gerbang pabrik juga nggak apa-apa.” “Iya, besok aku anterin,” jawab gadis yang duduk di motor butut itu dengan nada yakin. Keduanya tersenyum, lalu tertawa kecil tawa yang jujur dan sederhana. Leon sempat menoleh ke arah mereka. Pandangan matanya bertemu sekejap dengan mata gadis yang berdiri itu. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat waktu seolah melambat bagi gadis itu. Ada sesuatu di sorot mata Leon tenang, berwibawa, tapi jauh dan dingin yang menimbulkan rasa kagum aneh di dadanya. Ia tak tahu siapa lelaki itu. Hanya tahu, sosok itu tampak berbeda… terlalu sempurna untuk dunia yang ia kenal. Sementara Leon, setelah tatapan singkat itu, hanya menunduk ringan, membuka helmnya, lalu menyalakan motor sportnya.Tak ada perasaan istimewa, tak ada tanda pengenalan.Baginya, dua gadis itu hanyalah bagian dari keramaian kampus di hari pendaftaran. Suara mesin motornya menggelegar, kontras dengan bunyi batuk-batuk motor tua di sebelahnya.Angin sore berembus membawa debu ringan ketika Leon melaju pergi meninggalkan halaman kampus. Dari kejauhan, Laras masih menatap punggungnya yang semakin menjauh. “Laras… ayo cepat naik! Sudah sore, nanti kalau kelamaan bisa sampai rumah pas malam,” seru Tina, suaranya agak meninggi agar terdengar di tengah riuh suara mesin motornya. Laras mengangguk pelan.Ia meraih helmnya, lalu menatap sekeliling kampus yang mulai sepi.Cahaya senja memantul di kaca jendela gedung, memberi semburat jingga pada wajahnya. Ada rasa enggan yang samar di matanya, seolah masih ingin berlama-lama di tempat itu. Dengan gerakan hati-hati, Laras memasang helm, menyibak sedikit rambut panjangnya yang tersangkut di tali pengikat."Iya, bentar, Tin…” gumamnya pelan. Begitu ia duduk di belakang, motor tua milik Tina bergetar pelan sebelum akhirnya melaju keluar dari halaman kampus. Suara knalpotnya yang khas terdengar parau, berpadu dengan semilir angin sore yang mulai dingin. Di belakang, Laras memegang ujung jaket Tina. Pandangannya tertuju pada jalan di depan. Di wajahnya terlukis lelah, tapi juga damai seolah perjalanan pulang itu membawa lebih dari sekadar langkah menuju rumah, tapi juga sebuah awal dari sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN