Suara mesin motor sport hitam Leon memecah kesunyian jalanan.Angin sore menerpa wajahnya, membawa aroma aspal panas dan sisa debu kota yang menempel di udara.
Leon menatap lurus ke depan tatapan tajam tapi lelah, seolah sedang mengejar sesuatu yang tak bisa dikejar waktu.
Dalam dadanya bergetar satu gumam lirih, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
“Aku harus ke rumah Cindy sekarang... nanti malam aku ke rumah Marsya. Dua janji di satu hati, tapi kenapa rasanya seperti berdiri di tepi jurang?”
Motor Leon melesat melewati deretan rumah-rumah elit di pinggiran kota. Di kepalanya, nama Cindy berputar bersama wajah Marsya dua dunia berbeda yang sama-sama mengikatnya.
Tak lama, Leon memutar gas perlahan dan berhenti di depan rumah megah bercat putih gading.Pilar-pilar tinggi berdiri gagah, taman di depannya tertata rapi dengan bunga mawar dan melati yang sedang mekar.Di pos depan, seorang satpam berusia paruh baya berdiri tegak dengan seragam rapi.
“Selamat sore, Mas. Mau bertemu dengan siapa?” tanya satpam itu sopan, matanya mengamati motor sport Leon yang berkilau di bawah cahaya lampu taman.
Leon melepas helmnya, menampakkan wajah tampan dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dingin namun berwibawa.Ia menjawab datar tapi sopan,“Saya mau ketemu sama Cindy, Pak.”
Satpam itu tersenyum ramah,“Nona Cindy ada di dalam. Silakan masuk, Mas.”
Gerbang besi terbuka pelan dengan suara derit lembut. Leon kembali menyalakan motornya dan melaju pelan ke halaman dalam.Di bawah rindang pohon flamboyan, ia memarkir motornya, menatap sebentar rumah itu—megah, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia mengetuk pintu tiga kali.
Tak lama, pintu dibuka oleh seorang perempuan tua berpakaian daster biru, pembantu Cindy yang sudah lama bekerja di keluarga itu.
“Mas mau ketemu siapa, ya?” suaranya lembut tapi penuh kehati-hatian.
Leon menunduk sedikit, menghormati. “Saya temannya Nona Cindy, Mbok. Mau ketemu sebentar.”
Perempuan tua itu mengangguk sopan. “Sebentar ya, Mas.Saya panggilkan dulu Nona Cindy.Mas namanya siapa, ya?”
“Leon, Mbok,” jawabnya pelan.
Simbok itu menghilang ke dalam. Ruang tamu sunyi sesaat. Aroma bunga mawar dari vas di meja bercampur wangi kayu jati. Leon menatap sekeliling, memandangi lukisan besar di dinding dan deretan foto Cindy kecil bersama kedua orang tuanya. Ada rasa getir yang tiba-tiba muncul perasaan bahwa tempat ini terlalu hangat untuk hatinya yang mulai gelap.
Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar dari luar. Leon menoleh.Sebuah sedan merah elegan masuk dan berhenti di halaman.Dari dalam mobil keluar seorang lelaki tampan, berpenampilan rapi dengan kemeja putih dan dasi biru, seolah baru pulang dari kantor.
Lelaki itu berjalan cepat ke arah pintu rumah, langkahnya mantap, percaya diri.
Pintu ruang tamu sedikit terbuka, sehingga Leon bisa melihat siluetnya lewat celah.
Di saat bersamaan, Cindy muncul dari arah tangga gaun santai warna peach membalut tubuh semampainya, rambutnya dikuncir longgar. Wajahnya berbinar melihat Leon duduk di sofa.
“Hai, Leon...” sapanya ceria “Aku seneng banget kamu ke rumahku.”
Ia langsung duduk di samping Leon, begitu dekat hingga aroma parfumnya menyentuh udara di antara mereka. Ia memanggil pembantunya.
Tak lama, Simbok kembali dengan nampan berisi dua gelas jus jeruk dan toples kue kering. Namun baru saja ia hendak meletakkannya di meja, suara dari luar terdengar jelas.“Selamat sore, Mbok!”
Simbok menoleh kaget.“Eh, Mas Rio! Simbok sampai kaget.Kapan pulangnya, Mas?”
Cindy spontan berdiri, tubuhnya menegang."R...Rio?” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Leon hanya menatap bingung, alisnya berkerut halus.
Rio masuk ke ruang tamu sambil tersenyum lebar.Ia menyalami Simbok, lalu menatap Leon sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke Cindy.
“Saya dari Jakarta langsung ke sini, Mbok.Sengaja nggak ngabarin Cindy dulu.Mau kasih kejutan untuk dia.”
Kata “kejutan” itu menggema di kepala Leon, seperti sebuah tamparan halus.
Ia menatap Cindy dan pandangan mata mereka bertemu.Cindy menunduk cepat, wajahnya pucat, tangannya gemetar.
Leon mencoba tersenyum tenang, tapi di dalam dadanya, ada getaran aneh. “Siapa laki-laki ini yang datang begitu akrab menanyakan Cindy?” pikirnya.
Simbok buru-buru mempersilakan Rio duduk di kursi seberang.Namun sebelum ia sempat bicara, Rio sudah melangkah cepat dan memeluk Cindy.Pelukan yang hangat, penuh rindu, tapi menohok bagi Leon yang hanya bisa duduk menyaksikan. “Sayang, aku kangen banget sama kamu,” ujar Rio pelan, suaranya serak tapi lembut.
Cindy terdiam. Ia tak berani menatap Leon. Wajahnya merah, antara canggung dan takut. Dengan gugup, ia berusaha mengalihkan suasana.“Mas Rio mau minum apa? Saya buatin dulu, ya?”
Rio tersenyum lembut.“Iya, sayang. Aku haus banget.Tolong ambilin air putih saja.”
Sebelum beranjak, Rio sempat mencubit lembut hidung Cindy dengan manja.
Cindy tertegun, tersenyum hambar, lalu buru-buru masuk ke dapur.
Ruangan kembali hening.Hanya suara detik jam dinding yang terdengar.
Rio menatap Leon dari kepala hingga ujung kaki.Tatapannya tenang, tapi tajam, seperti sedang mengukur sesuatu. “Kamu temannya Cindy, ya?” tanyanya sambil mengulurkan tangan."Saya Rio.”
Leon menjabat tangannya, menyembunyikan keterkejutan di balik senyum tipis “Saya Leon, Mas. Iya, teman kuliahnya Cindy.”
Rio mengangguk kecil, masih tersenyum. Tapi kalimat berikutnya menghantam seperti badai.“Saya tunangannya Cindy.”
Dunia Leon mendadak hening. Suara jam berhenti berdetak, udara seolah membeku. Matanya menatap kosong, napasnya tercekat. Darahnya berdesir cepat, tapi wajahnya tetap tenang seolah sedang menelan racun dengan senyum.
"Tunangannya…” gumam Leon pelan dalam hati.Selama ini... Cindy nggak pernah bilang apapun.Leon menunduk.Di dalam dadanya, antara cinta dan luka beradu hebat.
Dari dapur, Cindy kembali membawa gelas air putih untuk Rio dan menatap Leon sekilas mata mereka bertemu sepersekian detik. Ada rasa bersalah yang begitu dalam di sana, tapi juga sesuatu yang tak bisa diucapkan: penyesalan.
Leon berdiri perlahan, menyembunyikan getar di suaranya.“Kalau begitu...saya pamit dulu, Mas Rio. Cindy, makasih.. jusnya enak.”
Cindy ingin bicara, tapi lidahnya kelu.
Leon berjalan keluar rumah, melewati taman yang tadi terasa indah kini berubah menjadi dingin dan asing. Saat menyalakan motornya, ia sempat menatap rumah itu sekali lagi rumah yang menyimpan kebohongan di balik senyum.
Helm ia pasang, suara mesin meraung pelan, dan ia melaju pergi di bawah langit yang kini berubah gelap.
Angin malam menggigit, dan hanya satu kalimat yang bergema di benaknya:
"Mungkin... cinta memang bukan tentang siapa yang paling setia, tapi siapa yang paling bisa menyembunyikan luka.”
-----
Malam turun perlahan, membungkus kota dengan kelam dan cahaya lampu jalan yang redup.Suara mesin motor sport Leon berhenti di depan rumah bergaya modern yang berdiri megah di tengah lingkungan elit.Garasi rumah itu terbuka, di dalamnya terparkir mobil milik Marsya yang masih mengilap.
Leon turun dari motornya, melepas helm, menatap langit sebentar seolah mencoba menenangkan pikirannya yang masih berantakan setelah kejadian di rumah Cindy.Lalu ia menutup pintu garasi dengan gerakan pelan.
Di hadapannya, rumah Marsya tampak sunyi tapi hidup. Lampu di ruang tamu memantulkan cahaya hangat ke arah taman depan.Ia mengetuk pintu dua kali, suaranya menggema di keheningan malam.Tak lama, pintu terbuka.
Marsya berdiri di ambang pintu dengan senyum yang tak sepenuhnya tenang. Ia mengenakan piyama satin tipis berwarna merah muda yang menempel lembut di kulitnya.Di tangan kirinya, sebatang rokok mengepulkan asap tipis. Matanya tajam, tapi di balik itu ada sesuatu yang lembut dan haus akan perhatian."Leon..akhirnya kamu datang juga,” ucapnya pelan, suaranya serak tapi manis.“Kamu sudah selesai ngerjain tugas kuliahnya?”
Leon menatapnya sesaat sebelum menjawab“Sudah, Sya.”
Marsya mendekat, bibirnya menyentuh pipi Leon sekilas.Ciuman ringan yang membuat d**a Leon terasa sesak.Ia menarik Leon masuk, lalu menutup pintu perlahan, membiarkan malam tertinggal di luar.
Tangannya merangkul pinggang Leon, membimbingnya ke arah sofa ruang tamu yang besar dan empuk.Di meja kaca kecil di depan mereka, sudah tersusun dua gelas kristal dan sebotol minuman berwarna keemasan yang tampak mahal.Aroma manis dari cairan itu menyebar samar, bercampur dengan wangi rokok Marsya dan parfum tubuhnya yang lembut tapi memabukkan.
Marsya menuangkan sedikit minuman ke dalam gelas, menyerahkannya kepada Leon sambil menatapnya dalam."Minum sedikit aja, biar rileks,” katanya pelan, senyumnya tipis tapi menawan.
Leon menerimanya, meneguk perlahan. Cairan itu menghangatkan tenggorokan, menenangkan pikirannya yang kusut.
Marsya lalu duduk di sampingnya, jarak mereka nyaris tanpa ruang. Cahaya lampu temaram membuat kulitnya tampak berkilau lembut, dan mata Leon tak bisa berpaling.“Kamu kenapa? Wajahmu kelihatan capek banget,” tanya Marsya, menyentuh pipinya lembut.“Ada yang kamu pikirin?”
Leon menghela napas panjang.“Banyak, Sya...terlalu banyak hal yang harus aku urus.”
“Kuliah?” tanya Marsya
“Bukan cuma itu.” Nada Leon turun perlahan, seperti menahan sesuatu yang tak bisa ia ceritakan.
Marsya menatapnya lekat.Tatapan itu seperti ingin menembus segala lapisan pertahanan Leon. Ia meletakkan rokok di asbak, lalu memiringkan tubuh, menyandarkan kepala di bahu Leon.
“Kalau kamu lelah, istirahatlah di sini” bisiknya."Kamu nggak harus selalu kuat di depan semua orang.”
Leon menoleh.Pandangan mereka bertemu hening, Marsya menatapnya lama, matanya bergetar.
Leon tersenyum kecil, tapi matanya sendu“Kamu selalu bisa bikin aku tenang, Sya.”
Marsya mendekat perlahan.Jarak mereka semakin tipis. Suara napasnya berpadu dengan desah halus yang nyaris seperti lagu. Saat wajah mereka semakin dekat, hanya tinggal jarak satu helaan napas, Marsya berbisik, “Kalau begitu.. akan aku buat kamu bahagia ...malam ini.”