BAB 8 Dalam Dekap Marsya

1650 Kata
"Leon… kamu sangat beda dengan mantan suamiku,” bisik Marsya lirih, seolah takut suaranya mengusik malam.“Entah kenapa hatiku nggak bisa lepas dari kamu. Kamu… beda.” Leon hanya menarik napas panjang. Pandangannya dalam, tapi lembut antara iba, rindu, dan sesuatu yang lebih rumit dari sekadar kasih.Ia meraih jemari Marsya, menggenggamnya, menautkan setiap ruas seperti ingin memastikan kehadiran itu nyata. Dalam genggaman itu, ada denyut yang halus…tapi mengguncang. Marsya menunduk, menatap jemari mereka yang saling mengait, lalu perlahan mendekat. Napasnya hangat menyentuh kulit wajah Leon. “Lihat aku, sayang…” Tanpa menunggu jawaban, Marsya duduk di pangkuan Leon.Dunia di sekitar mereka seketika menjadi samar.Yang tersisa hanyalah jarak yang lenyap, napas yang bertemu, dan mata yang saling bicara tanpa kata. Leon menatap Marsya lama, dan semua bahasa tiba-tiba kehilangan arti. Tangannya terangkat pelan, menyentuh wajah Marsya seolah menyentuh sesuatu yang rapuh dan suci. Jemarinya menelusuri garis pipi, berhenti di leher, membuat Marsya memejamkan mata—membiarkan waktu berhenti di sana. Udara menjadi berat, tapi hangat. Suara napas mereka berbaur, saling mengejar, saling mencari ritme. Ketika bibir mereka akhirnya bersatu, segalanya terasa tenang dan liar sekaligus seolah semua luka yang pernah ada, perlahan menemukan tempat untuk sembuh. Tak ada lagi siapa yang memulai atau menyerah. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang sama-sama lelah berpura - pura kuat, kini memilih diam dalam pelukan yang mengerti. Tirai di jendela bergoyang pelan, menjadi saksi diam bagi pertemuan dua rindu yang terlalu lama terpendam. Malam berlarut dalam keheningan yang tak ingin diakhiri, dalam ritme yang hanya mereka berdua pahami. Dan ketika akhirnya segalanya mereda, mereka terkulai di sofa yang menjadi saksi. Marsya bersandar di d**a Leon, mendengar detak jantungnya yang pelan tapi nyata. Tak ada kata, hanya helaan napas yang saling mencari ruang untuk tenang. Malam itu, bukan hanya tubuh yang menyatu tapi dua jiwa yang sama-sama letih dengan kepalsuan, akhirnya menemukan kedamaian yang tak perlu dijelaskan. "Leon.." bisiknya lirih. “aku mencintaimu" Leon mengecup keningnya pelan. “Malam ini… kamu rumahku,” ucapnya singkat. Keduanya terdiam.Di luar, angin menggeser tirai putih yang menjadi saksi dua hati yang akhirnya berhenti berlari. ----- Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang tamu, jatuh lembut ke sofa tempat semalam dua tubuh pernah menyatu dalam diam yang hangat. Aroma kopi dan roti panggang mengisi udara. Marsya berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan langkah anggun, mengenakan blus krem dan rok span hitam. Rambutnya disanggul rapi, hanya beberapa helai terlepas, membuat wajahnya tampak lembut sekaligus berwibawa. Leon, masih dengan kemeja biru dan celana bahan hitam, sedang merapikan ranselnya di meja tamu. Wajahnya tenang di luar, tapi matanya menyimpan bayangan panjang yang belum sempat padam. Bayangan tentang kemarin di rumah Cindy, tentang tunangannya yang muncul tiba-tiba, tentang pandangan malu sekaligus takut di mata Cindy. Marsya tersenyum kecil sambil membawa setumpuk berkas tugas mahasiswa. "Leon,” panggilnya pelan. “Tolong nanti ini taruh di meja aku di kampus, ya. Sudah aku nilai semua. Biar anak-anak bisa ambil sendiri.” Ia menatap Leon lama, lalu meletakkan berkas itu meja di depan Leon. Leon menerima berkas itu. “Iya, Bu…” ia sempat berhenti, menatap Marsya, lalu tersenyum canggung. “Maksudku… iya, Sya.” Marsya terkekeh kecil. “Masih aja formal gitu di rumah. Aku ini bukan dosenmu sekarang.” Ia mendekat, memegang wajah Leon, menatap dalam. “Kamu itu pacarku” Marsya mengecup pipi Leon lembut, hangat, tapi sedikit nakal. Leon tersenyum samar, tapi di balik senyum itu ada resah yang tak bisa ia sembunyikan. Saat ia hendak memasukkan berkas - berkas ke dalam ransel, sesuatu terjatuh bersama kertas-kertas yang lepas dari genggamannya. Sebuah buku diary lusuh berwarna coklat. Marsya menunduk, cepat membantu memunguti kertas-kertas yang berserakan. Tangannya lalu berhenti ketika menyentuh buku itu. Ia membaliknya, membuka halaman pertama. Tulisan tangan seorang perempuan halus, penuh emosi. Nama itu tercetak di sudut halaman pertama: “Laras.” Marsya mengerutkan dahi. “Leon… siapa Laras?” Leon sontak menegakkan badan, wajahnya menegang. "Oh itu, bukan siapa-siapa, Sya. Aku nemuin diary itu kemarin sore di depan prodi Bahasa dan Sastra Inggris. Mungkin jatuh dari mahasiswa baru. Aku simpen dulu, siapa tahu nanti atau besok pemilik buku ini mencarinya di kampus. Jadi aku amanin dulu." Marsya menatapnya lama. Tatapannya lembut tapi tajam. "Hmm…” ia hanya mengangguk pelan. “Kamu memang suka nolong orang ya, Leon. Sampai Diary orang pun kamu amankan.” Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada getar halus di ujungnya getar dari perempuan yang tak sepenuhnya percaya, tapi belum ingin ribut. Leon tersenyum kecil, berusaha tenang. “Nggak, Sya. Aku cuma...” Tapi sebelum kalimatnya selesai, ponselnya bergetar di atas meja. Kedua mata mereka otomatis tertuju pada layar. Layar menyala, menampilkan satu nama yang langsung membuat Marsya menoleh: Cindy. Leon cepat-cepat mematikan panggilan itu tanpa ekspresi. Marsya sempat menatapnya, senyum di wajahnya perlahan memudar. "Kenapa nggak diangkat, Leon? Siapa yang nelpon?” tanyanya pelan, nada suaranya datar, tapi sorot matanya penuh tanya. Leon mengangkat kepala, menatap Marsya sesaat, lalu menunduk lagi. “Bukan siapa-siapa, Sya. Hanya teman.” Marsya tak menjawab. Hanya menatapnya lalu menarik napas panjang. Ada sesuatu yang menggantung di udara, perasaan yang sulit dijelaskan antara curiga, takut, dan menahan kecewa. Hening kembali mengisi ruang tamu. Leon menatap ponselnya, napasnya berat. Tapi belum sempat ia menaruhnya kembali, layar itu menyala lagi. Cindy menelepon lagi. Kali ini Leon tak berpikir dua kali. Ia langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku celana.Marsya hanya memperhatikan gerak tubuh itu diam-diam, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap tenang Leon. Wajah Leon menegang. Rahangnya mengeras, matanya kosong menatap ke arah luar jendela. Marsya ingin bertanya, tapi menahan diri. Ia tahu,ada sesuatu yang tidak beres dan Leon sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia bagi. “Roti panggangmu sudah dingin, Leon,” ucap Marsya akhirnya, suaranya lembut tapi terdengar getir. Leon menoleh, memaksakan senyum kecil. "Nggak apa-apa Sya." Marsya menatapnya, lama. Ada sesuatu di tatapan itu antara ingin memeluk dan takut kecewa. Ia tahu, mungkin pagi ini bukan hanya roti panggang yang kehilangan hangatnya, tapi juga seseorang di hadapannya. Setelah sarapan, Leon pamit dengan senyum kecil yang terasa asing. Marsya hanya mengangguk, menatap punggungnya menghilang di balik pintu. Begitu suara mesin motornya menjauh, hening memenuhi rumah. Marsya duduk kembali di sofa, menatap dua cangkir kopi di meja yang satu sudah dingin, yang satu tak tersentuh. Ada rasa yang sulit ia pahami. Bukan marah, bukan pula cemburu…lebih seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat ia miliki sepenuhnya. Ia menghela napas pelan, memejamkan mata. Dalam diam itu, nama Laras dan Cindy terlintas begitu saja di benaknya seperti bisikan halus yang tiba-tiba terasa menyesakkan d**a. ------ Pagi ini, matahari meneteskan sinarnya pelan di antara pepohonan kampus. Udara masih lembab, dan embun yang menempel di jok motor berkilat seperti kaca kecil. Suara deru knalpot saling bersahutan, khas suasana parkiran kampus di jam masuk kuliah. Leon baru saja datang, jaket jeans birunya terbuka separuh, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Leon memarkirkan motornya tepat di sebelah motor Bayu, sambil melepas helmnya dan mengibaskan rambut yang sedikit berantakan. Udara pagi bercampur aroma bensin menyatu di pelataran parkiran kampus itu. Bayu masih duduk di atas motornya, menatap layar ponsel dengan mata setengah mengantuk. Tak jauh dari situ, Raka sedang menggoda Rani dengan gaya andalannya yang sok percaya diri. “Ran, kamu tuh jadi cewek terlalu tomboy, makanya dari dulu nggak pernah punya pacar,” kata Raka sambil mencondongkan badan ke arah Rani. Rani melipat tangan di d**a, menatap Raka dengan senyum sinis. “Memang kenapa kalau aku jomblo, Rak?” Raka pura-pura berpikir, lalu menjawab cepat, “Ya nggak apa-apa sih… aku kan mau daftar.” Leon dan Bayu kompak bersiul. "Wuih, pepet terus, Ka!” seru Leon sambil menepuk tangannya. Bayu ikut menimpali, “Rani, jangan malu-malu meong dong!” Rani mendengus, wajahnya memerah karena ditertawakan. “Apaan sih, Mister.. Dari pada pacaran sama Raka, lebih baik jomblo seumur hidup!” Raka mencubit lengannya pelan. “Yakin, Ran? Jangan nyesel nanti!” Suasana parkiran pecah oleh tawa. Tapi tawa mereka pelan-pelan mereda ketika suara motor tua terdengar dari kejauhan. Suara knalpotnya serak, seperti batuk pagi yang belum sarapan. “Beughhh… brmmm… brmmm…” Dua gadis berboncengan muncul di ujung jalan kampus. Motor mereka butut, tapi keduanya menungganginya dengan gaya seperti dua petualang yang tak kenal malu. Leon dan ketiga temannya fokus memandangi dua gadis desa yang naik motor tuanya itu lewat disampingnya. Samar-samar terdengar oleh mereka. “Tin, ini motor mau pensiun kali, suaranya udah kayak perut kosong,” keluh gadis yang duduk di belakang sambil tertawa kecil. “Yang penting masih bisa nganterin kita ke mana-mana Jangan ngeluh!” jawab gadis yang di depan sambil menepuk setang motornya yang bergetar. Mereka memarkir motor agak jauh dari dari motor Leon yang mencolok. Saat keduanya turun dan berjalan melewati deretan motor, tatapan Laras tiba-tiba berhenti. Matanya menatap satu sosok di antara kerumunan mahasiswa, Leon. Hatinya bergumam "Dia adalah laki-laki tampan yang kemarin sore aku lihat di parkiran ini. Dan sejak itu, wajahnya seolah terus berputar di kepalaku. Leon ikut menatap balik. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena tatapan itu asing, melainkan karena wajah gadis itu terasa familier. harinya bergumam lirih " Aku seperti pernah melihat gadis itu…" berpikir sejenak. "ya... gadis yang aku lihat kemarin sore." Bayu langsung menepuk bahu Leon yang masih terpaku. "Woy, Mister! Kalau lihat cewek cantik jangan bengong gitu. Matamu hampir copot tuh,” ujarnya sambil ngakak. Raka ikut menimpali, “Fix, Mister Leon naksir cewek itu!” Rani menambahkan sambil terkikik, “Pantesan tadi nyisir di spion motor. Mau tampil kece ya, Mister?” Leon cuma menghela napas panjang, mencoba menahan senyum. “Kalian tuh, mulutnya pagi-pagi udah kayak radio rusak.” Laras sempat tersenyum kecil mendengar mereka bercanda. Dalam hatinya ia bergumam, Oh… jadi dia namanya Mister Leon” Baru beberapa langkah menjauh, Tina menepuk dahinya. “Ras,..! Coba kamu ingat-ingat deh… diary kamu itu kira-kira jatuhnya di mana." Laras berhenti sejenak, menatap Tina dengan wajah bingung. “Hah? apa mungkin Diarynya jatuh di parkiran kampus waktu kemarin sore?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN