Suasana parkiran kampus masih ramai. Deru motor datang dan pergi. Tapi di tengah riuh itu, ada dua gadis yang sedang berperang dengan dirinya sendiri .
Tina dan Laras berhenti di bawah pohon mangga besar dekat parkiran.Angin pelan meniup ujung rambut Laras, sementara jantungnya berdegup begitu keras.
Laras spontan menoleh ke arah Leon lagi dan kali ini, tatapan mereka bertemu untuk kedua kalinya. Leon menegakkan tubuh, sedikit mengangkat alis, seolah menanyakan sesuatu lewat pandangan mata. Dan di detik itu juga, waktu seakan menahan napas.
Bayu yang melihat dari jauh langsung berseru, "Wah, wah! ada Tatapan maut!"
Raka menambahkan sambil tertawa, “Fix! Ini parkiran bukan tempat motor, tapi tempat jodoh!”
Rani menggoda sambil mengangkat alis ke arah Leon. “Hati-hati, Mister. Nanti bukan cuma motor yang parkir, hatimu juga nyangkut di situ.”
Leon hanya tersenyum samar. “Kalau hatinya nyangkut di tempat yang tepat, kenapa harus takut?”
Bayu dan Raka langsung bersuit lagi, menggoda habis-habisan. Sementara Laras menunduk, pipinya merona, dan langkahnya semakin cepat mengikuti Tina.
“Tin…” suara Laras lirih, nyaris tak terdengar. “Aku malu, sumpah. Masa aku harus nanya langsung ke mereka?”
Tina menatap sahabatnya dengan ekspresi campur antara geli dan prihatin. “Laras, kalau kamu nggak nanya, Nanti kamu bisa nyesel loh.... siapa tahu dia tahu keberadaan Diarymu itu."
Laras menatap Tina dengan wajah muram. “Ya tapi kan… aku malu sama mister itu”
Tina terkekeh. “Justru itu alasannya kamu harus ke sana. Masa kalah sama tatapan cowok ganteng?”
Laras melotot pelan, pipinya memerah. “Tin, serius. Aku deg-degan banget.”
Tina menepuk bahunya, lembut tapi mantap. “Ayo, Ras. Ini cuma nanya. Bukan lamaran.”
Laras menelan ludah, menarik napas panjang. Lalu dengan langkah kecil tapi mantap, ia mulai berjalan mendekat. Tina berjalan di sampingnya, wajahnya penuh semangat seperti tentara yang sedang mengantar pasukan gugup menuju medan perang.
Dari jauh, Bayu sudah menyenggol siku Raka. "Bro, bro, liat deh. Itu dua gadis tadi jalan ke arah kita.”
Raka langsung berdiri tegak, merapikan rambut. “Wah, ini kesempatan langka nih. Kalau bukan tugas kuliah, berarti tugas cinta.”
Rani melipat tangan di d**a, menatap mereka dengan sinis. “Kalian berdua, tolong ya, kali ini tahan sedikit hormon kebaperannya.”
Leon hanya diam, matanya sudah terpaku pada sosok Laras yang semakin dekat. Setiap langkah gadis itu seperti memperlambat waktu. Ada sesuatu dalam dirinya yang aneh getaran halus yang belum pernah ia rasakan. Seperti deja vu yang berbalut rasa ingin tahu dan rasa kagum yang tak bisa dijelaskan.
Tina menyenggol bahu Laras pelan. “Udah… ayo bicara.”
Laras menggenggam tangannya erat, menatap Leon dan kawan-kawannya yang berdiri di depan barisan motor. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri.
“Mas…” suaranya lirih tapi cukup jelas untuk terdengar oleh mereka. “Maaf mau tanya, apa di antara kalian ada yang lihat buku diary warna coklat? Kemarin jatuh di kampus ini. Dalam buku itu ada nama Laras. Itu punya saya.”
Bayu langsung menatap Raka, lalu menatap Rani, dan dengan ekspresi sok serius berkata, “Tidak, Mba.Tapi barusan aku melihat hati seseorang yang hampir jatuh cinta di parkiran ini.”
Suasana langsung pecah.Rani menepuk lengan Bayu sambil tertawa keras. “Gila, Bay! Gombal pagi-pagi udah level dewa!”
Raka ikut menimpali, “Maksudnya hati siapa, Bro? Hati cewek berjaket krem yang lagi gugup itu?”
Tina sampai menutup mulut menahan tawa,sementara Laras mematung antara ingin kabur atau tertawa ikut mereka.
Leon masih terdiam, matanya tak lepas dari wajah Laras. Ia menatap gadis itu lama, seolah ingin memastikan bahwa semua ini nyata. Ada sesuatu dalam kelembutan matanya yang menenang kan, tapi juga membuat dadanya sesak.
Bukan karena jatuh cinta. Tapi karena perasaan aneh: ingin mengenalnya lebih dalam, dan sekaligus takut kehilangan momen sekecil ini.
Laras menunduk, menatap ujung sepatunya. “Ya sudah mas, kalau tidak ada yang tahu, saya mau mencari di tempat lain.” Suara itu begitu halus, tapi meninggalkan bekas di d**a Leon.
Ia menoleh cepat, seperti terkejut oleh niat gadis itu untuk pergi. "Tunggu, Mba Laras.”
Langkah Laras terhenti. Hatinya berdebar tak karuan. Ia perlahan berbalik, dan menemukan Leon berdiri sedikit lebih dekat dari sebelumnya.
“Mba Laras,” kata Leon pelan, “saya minta nomor HP kamu aja, ya. Siapa tahu nanti saya nemu buku diary kamu, bisa langsung saya hubungi.”
Bayu menatap Leon dengan ekspresi tak percaya. “Waduh, Mister… ini modus baru ya? Bikin alasan diary buat minta nomor cewek?”
Raka ngakak sambil menepuk bahu Leon. “Keren, bro! Udah nggak usah belajar pickup line lagi, ini alami banget!”
Rani hanya mendecak, “Dasar cowok absurd. Tapi jujur, yang ini smooth banget.”
Tina cepat-cepat menimpali, pura-pura serius tapi penuh senyum nakal. “Iya betul, Mas." Rani menyikut tangan Laras. "Kasih aja, Ras. Siapa tahu dia beneran bantu nyari. Lagian dari tadi aku lihat mister orang baik kok.”
Laras menoleh pelan ke Tina dengan pandangan tajam sambil bergumam "kalau kamu bukan sahabatku, udah aku cubit kamu hidup-hidup'" Tapi akhirnya, ia menghela napas kecil dan berkata pelan, “Boleh saya minta kertas dan pulpen, Mas?”
Leon mengeluarkan buku catatan dari tasnya, robek satu halaman, lalu mengulurkan pulpen. Tangannya bersentuhan dengan jari Laras secara tak sengaja.Sekilas, tapi cukup membuat udara di sekitar mereka mendadak hangat.
Laras buru-buru menunduk dan menulis nomornya di secarik kertas itu.
Tina menatap adegan itu seperti sedang menonton drama Korea live. “Aduh Ras, tanganmu gemetar tuh, kayak nulis surat cinta pertama!”
Laras menyodorkan kertas itu pada Leon dengan cepat, pipinya sudah memerah. “Ini, Mas.”
Leon menerimanya, matanya menatap angka-angka itu lama, seolah tiap digit punya makna sendiri. “Oke, Laras… akan aku simpan baik-baik nomormu.”
Senyum itu muncul lagi. Lembut, tapi berbahaya bagi jantung siapa pun yang melihatnya.
Bayu menyenggol Raka, berbisik keras - keras tapi tetap bisa terdengar."Fix, Bro. Si Mister jatuh cinta.”
Raka menimpali, “Atau mungkin jatuh ke dalam obsesi barunya.”
Rani melipat tangan, dan hatinya bergumam lirih "Leon kalau saja kamu bukan sahabatku, aku udah pasti ungkapkan cintaku sama kamu dari dulu."
Tina menatap mereka satu-satu dengan alis naik. “Mas-mas kalian semua kocak ya."
Leon hanya tertawa pelan, tapi matanya masih tak lepas dari Laras. "Terima kasih, Mba. Semoga diary-nya cepat ketemu.”
Laras mengangguk pelan. “Iya, Mas. Terima kasih.”
Mereka berdua menatap satu sama lain dalam diam beberapa detik. Dan dalam diam itu, ada sesuatu yang tumbuh pelan, lembut, tapi nyata.
Saat Laras dan Tina berbalik untuk pergi, Leon masih berdiri di tempat, menatap punggung gadis itu sampai benar-benar hilang dari pandangan.
Bayu menepuk pundaknya pelan. “Bro, kenapa diem aja kayak patung?”
Leon menghela napas panjang. “Aku nggak tahu, Bay. Tapi gadis itu... kayak punya sesuatu yang ngebuat aku tenang.”
Rani menatapnya curiga. “Tenang? emangnya selama ini aku nggak bikin kamu tenang, mister?"
Bayu dan Raka sontak tertawa sambil menepuk punggung Rani. "Ran... ada juga kamu selalu membuat bencana di hatinya mister Leon." ungkap Raka
Leon hampir tidak peduli dengan celoteh ketiga sahabatnya itu. Ia hanya tersenyum samar, menatap kertas kecil di tangannya. Huruf-huruf angka itu terlihat biasa, tapi bagi Leon terasa seperti kode rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh hatinya sendiri.
Dalam hati ia bergumam lirih, “Laras… sebenarnya buku diary kamu sudah ada sama aku. Tapi entah kenapa, aku belum siap mengembalikannya. Maafkan aku.”
Tiba -tiba ponsel Leon bergetar di saku celananya, menggetarkan udara tenang di antara tawa Bayu dan Raka.Ia mengeluarkan nya, dan di layar muncul nama "Cindy" Wajah Leon mendadak berubah. Tatapan yang tadi hangat, kini mendung. Ia menatap layar itu lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Lalu, tanpa ragu, jempolnya menekan tombol reject.
Bayu mengerutkan kening. “Eh, bukannya itu si Cindy, pacarmu, Bro?”
Raka ikut menimpali, “Waduh, biasanya tiap dia nelpon kamu langsung nyaut tuh. Tumben banget ditolak.”
Rani menatap Leon lekat-lekat, ekspresinya campur antara heran dan curiga. “Ada apa, Leon? Berantem sama Cindy?”
Leon hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip tameng dari pada ekspresi tenang. “Nggak,” katanya pelan. “Cuma... lagi nggak pengen ngomong aja.”
Bayu dan Raka saling pandang. Rani mendengus pelan, tapi matanya masih memperhatikan Leon.
Suasana sejenak hening,. Leon menatap layar ponselnya yang kini gelap, seolah di balik benda itu tersimpan ribuan hal yang ingin ia lupakan.
Namun belum sempat ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, layar itu kembali menyala kali ini nama yang muncul membuat napasnya tertahan.
Marsya.
Jantungnya berdegup pelan tapi kuat. Ia melirik sekilas ke arah teman-temannya, lalu berkata datar, “Aku angkat dulu, ya.”
Ia melangkah menjauh, berdiri di bawah pohon mangga yang rindang, sedikit memunggungi mereka. Ia menekan tombol hijau pada ponselnya. "Iya Sya...."
Dari seberang Marsya menjawab "Sayang bekas-berkas tugas anak-anak sudah ditaruh di meja belum?"
Leon sontak menjawab dengan gugup. "maaf belum Sya, bentar lagi saya taruh di meja."
"Iya sayang. karena udah ditanyakan sama anak-anak" Marsya mematikan telponnya.
Leon menatap langit sambil memegang ponselnya yang layarnya sudah gelap. hatinya bergumam lirih "Sepertinya, hidupku baru saja mulai berubah."