Panji Tak dihargai

1095 Kata
“Duduk dulu, biar aku ambilkan air es. Biar aku kompres.” Cintya hendak melangkah meninggalkan Samuel, tetapi tangannya langsung diraih oleh Samuel.     “Nggak usah, aku pulang aja. Nggak enak sama suamimu.” Samuel melirik Panji, dia merasa menang.     “Udahlah, nggak apa-apa.” Cintya pun melepas tangan Samuel perlahan.     Lalu, dia menatap Panji dengan sinis.     “Kamu ngapain, sih? Mau jadi sok pahlawan?! Samuel itu tamuku! Aku yang mengizinkannya ke sini. Kenapa main hajar aja?” tanya Cintya.     Panji kaget mendengar perkataan Cintya. Cintya malah marah padanya.     “Ma! Apa kamu pikir aku nggak marah dan cemburu melihat istriku disentuh pria lain? Wajar dong kalau aku marah sama dia!” Panji menatap Samuel dengan tajam.     “Nggak usah lebay deh! Cuma dipegang tangannya doang. Lagian dia Cuma ngehibur aku!” Cintya masih marah pada Panji.     “Apa Ma? Kamu bilang aku lebay? Mama keterlaluan! Aku capek habis cari Arkhan dari tadi nggak ketemu, terus sampai rumah malah menemukan pemandangan yang membuatku marah. Lalu, saat aku melampiaskan kekesalanku, kamu bilang aku lebay!” Panji meluapkan semua kemarahannya.     “Jangan dikira selama ini aku diam dan nggak marah, terus aku diam aja saat melihat istriku disentuh pria lain,” lanjut Panji.     “Ah, udah ah, capek ngomong sama kamu!” Cintya pun melangkah ke dapur.     “Dan kamu lebih baik pulang sekarang juga! Daripada aku bisa bertindak lebih dari ini! Aku nggak peduli meski Cintya terus membelamu dan marah padaku! Aku nggak peduli!” Panji mengusir Samuel.     “Kamu nggak berhak ngusir tamuku!” sentak Cintya.     “Aku berhak, karena ini juga rumahku dan kamu istriku. Aku bisa saja ngebunuh dia sekarang juga. Nggak peduli kalaupun kamu memarahiku!” Mata Panji merah menyala, napasnya memburu. Dia langsung melangkah ke arah meja dan mengambil vas bunga, dan hendak melempar ke kepala Samuel.     Cintya yang melihatnya panik.     “Kamu gila, ya?” tanya Cintya dan mendorong vas bunga yang dipegang Panji.     “Ya, aku gila!” bentak Panji.     Cintya kaget karena selama ini tak pernah melihat Panji marah. Wajah Panji menyeramkan saat marah seperti ini. Cintya pun meminta Samuel untuk pulang sekarang juga. Dia tak mau terjadi sesuatu yang buruk malam ini. Selain tak ingin Samuel kenapa-kenapa, juga tak mau Panji jadi pembunuh.     “Ok, aku pulang. Tapi, bukan berarti aku kalah dari kamu Panji. Aku nggak takut sama kamu, cuma aku juga manusia, punya perasaan. Aku nggak mau nanti Arkhan sedih kalau harus kehilangan kamu. Jangan dikira aku pergi karena takut sama kamu.” Setelah berkata seperti itu Samuel pun melangkah keluar. Dia mengusap bibirnya yang masih berdarah.     “Kamu lebay tahu nggak?” tanya Cintya masih dengan nada marah setelah Samuel pergi.     “Aku berhak marah, karena nggak mau harga diriku diinjak-injak.” Panji membela diri.     “Istri itu harusnya menjaga kehormatannya kalau suami nggak ada, bukan malah berduaan dengan pria lain. Apalagi sampai pegang-pegangan tangan. Kalau aku nggak datang tadi, mungkin kalian sudah ngelakuin hal yang lebih jauh.” Panji menatap Cintya tajam.     “Aku juga tahu batasanlah! Nggak mungkin juga aku aneh-aneh. Samuel itu sahabat aku. Setiap hari aku ketemu dia di kantor. Dia orangnya baik. Selalu ada saat aku kesusahan.” Cintya masih saja tak mau disalahkan. Dia merasa wajar melakukan semua itu.     Panji menghela napas dalam. Dia beristighfar di dalam hati. Panji merasa gagal menjadi suami. Dia belum bisa mengingatkan dan menasihati istrinya.     “Udah, lebih baik kita sholat dulu. Aku capek, ingin istirahat dulu, sebelum nanti cari Arkhan lagi.” Panji mengajak Cintya untuk salat. Namun, istrinya itu bergeming.     “Maafkan sikapku tadi,” ucap Panji lagi. Cintya masih diam.     Panji menghela napas dalam, lalu melangkah menuju kamarnya. Dia hendak berwudu, lalu bersujud pada Sang Pemilik hidup.   Setelah mandi dan bersuci, Panji pun menjalankan kewajibannya pada Sang Pemilik hidup. Dia memohon ampun atas apa yang telah terjadi. Panji merasa gagal menjadi suami. Dia mengadukan semuanya pada Yang Mahakuasa.     Selesai bermunajat pada Yang Kuasa, Panji pun merasa tenang. Hatinya begitu damai. Sampai selesai sholat, ternyata Cintya tak ada tanda-tanda menyusul ke kamar untuk sholat.     Kapan Cintya bisa sholat bareng-bareng? Semoga hati Cintya segera terbuka dan mau sholat. Ya Allah Engkau Maha Membolak-balikkan hati, hamba mohon bukakanlah pintu hidayah pada Cintya.  Panji mengusap wajahnya dengan lembut. Setelah itu dia pun keluar kamar, dia ingin menemui Cintya. Biasanya Cintya ada di ruang keluarga kalau malam begini. Panji ingin meminta maaf pada Cintya, tak peduli meskipun yang salah Cintya.   Ternyata benar, Cintya ada di ruang keluarga. Dia sedang menelepon seseorang.       “Telepon siapa, Ma?” tanya Panji setelah ada di dekat Cintya.       “Telepon Papa. Mau tanya ke Papa, apa sudah menemukan Arkhan. Aku tadi minta bantuan Papa untuk mencari Arkhan!” ucapnya tanpa melihat Panji.   Panji menghela napas dalam. Salah dan dosanya apa? Kenapa istrinya selalu bersikap seperti itu?       “Kenapa harus minta bantuan Papa, Ma? Ayah bisa kok cari sendiri. Habis ini mau cari Arkhan lagi.” Panji tetap berusaha berkata dengan nada lembut. Meskipun dalam hatinya ada rasa marah tak terima.       “Kalau ngandelin kamu, nggak bakal cepet ketemu. Papa, kan, punya banyak anak buah, pasti Arkhan bisa segera ditemukan.” Lagi-lagi Cintya berkata dengan nada kasar.     “Ma, bisa nggak ngomongnya biasa aja, nggak usah teriak? Ayah bisa dengar, kok,” ucap Panji sambil menatap Cintya.     Cintya tak menggubrisnya.     “Gimana, Pa? Arkhan udah ketemu?” tanya Cintya.     “Belum, Cintya. Nanti kalau ketemu pasti Papa kabarin.” Suara dari seberang.     “Yah, hari udah makin malam, Pa. Kasihan Arkhan.” Cintya pun menangis tersedu-sedu.     Panji yang melihatnya merasa kasihan dan bersalah. Semua ini memang salah Panji.   “Kalau sampai besok nggak ketemu, kita lapor polisi, Nak.”     “Iya, Pa.”       Panji ingin menenangkan Cintya, tapi pasti dia tak terima dan akan marah. Maka, Panji pun melangkah pergi meninggalkan Cintya yang sedang ngobrol dengan papanya.     Lalu, terlihat Bi Inah tampak berlari ke arah Panji.       “P-pak, i-itu, Mas Arkhan.” Bi Inah menunjuk ke ruang tamu.       Mata Panji membulat sempurna. Arkhan? Dia sudah pulang? Tanpa basa-basi Panji segera berlari ke ruang tamu.       Tubuh Panji terasa kaku dan tulang-tulangnya seakan-akan hilang, melihat pemandangan di depan matanya.       “Ibu …,” desis Panji.       “Alhamdulillah, Arkhan bersama Ibu.”  Panji pun bernapas lega.     Panji meminta Bi Inah membawa Arkhan ke kamar dan memandikannya.       Untuk beberapa lama mereka terdiam. Panji tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, dia sudah tenang karena Arkhan sudah kembali. Namun, di sisi lain, dia merasa marah pada ibunya, karena sudah membawa Arkhan tanpa pamit. Sehingga membuat semua orang panik. Bahkan, gara-gara semua ini, Panji harus menelan pil pahit, melihat istrinya berduaan dengan pria lain.  *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN