“Kenapa Arkhan bisa bersama Ibu?” tanya Panji akhirnya.
“Ibu kangen sekali sama Arkhan, karena lama nggak bertemu. Jadi tadi pagi sengaja ke sekolah Arkhan. Sampai waktu pulang nggak ada yang menjemput. Akhirnya Ibu ajak ke rumah.” Ibunya Panji berkata dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa nggak langsung membawa Arkhan pulang ke rumah? Ibu sudah membuatku panik,” ucap Panji.
“Maafkan, Ibu, Nak. Memang Ibu sengaja ingin menghabiskan waktu sehari ini bersama Arkhan. Ibu kangen sekali dengannya.” Mata ibunya Panji berkaca-kaca. Terlihat sorot matanya memang menunjukkan rasa rindu yang begitu dalam.
“Setidaknya Ibu memberiku kabar, agar nggak membuat semua orang panik. Mencari ke mana-mana nggak juga ketemu. Sampai Cintya menghubungi papanya.” Panji menatap ibunya dengan rasa yang entah.
Panji juga bingung harus bagaimana. Panji juga tidak terpikirkan untuk menghubungi ibunya untuk menanyakan Arkhan.
“Kalau Ibu memberitahumu, pasti Cintya menyuruh menjemput Arkhan. Kamu tahu sendiri, dia nggak pernah suka Arkhan bersama Ibu.” Mata ibunya Panji terus berkaca-kaca, lalu meluncur cairan bening.
Mendengar perkataan ibunya, Panji menghela napas dalam. Dia tahu semua itu. Cintya tidak pernah mengizinkan Arkhan bertemu dengan ibunya Panji. Dia takut, ibu membawa Arkhan dan tak pernah mengembalikannya. Ketakutan yang sangat tidak masuk akal. Cintya takut Arkhan lebih sayang pada ibu.
Jelas Arkhan lebih sayang pada ibunya Panji, karena lebih peduli daripada Cintya. Cintya tak pernah sekali pun meluangkan waktu berdua dengan Arkhan. Apalagi semenjak naik jabatan, selalu pekerjaan yang menjadi nomor satu.
“Oh, jadi Ibu yang sudah menculik Arkhan! Bagus ya, mengambil anak orang tanpa izin!” bentak Cintya yang tiba-tiba sudah muncul.
“Mama! Jaga omongan kamu! Yang sopan sama mertua!” geram Panji.
“Halah, nggak peduli. Dia sudah membuat orang panik. Membawa Arkhan tanpa izin! Aku sudah pernah bilang jangan pernah menemui Arkhan!” Mata Cintya melotot tajam.
“Ibu kangen sama Arkhan, Nak. Dia cucu Ibu satu-satunya. Hanya kalian yang Ibu miliki.” Mata Ibu tampak berkaca-kaca.
Cintya sungguh keterlaluan. Dia berani membentak ibu di depan Panji, anaknya. Rahang Panji mengeras, tangan mengepal kuat. Sudah gatal ingin menampar mulut kurang ajarnya. Namun, di depan ibunya, Panji harus bisa menahan diri.
“Nggak usah sok dramatis deh, Bu. Lebih baik sekarang Ibu pulang. Cintya nggak mau Arkhan nanti ikut Ibu.” Lagi-lagi Cintya berkata dengan kasar pada ibunya Panji.
“Mama! Hari sudah malam, biarkan Ibu menginap di sini,” ucap Panji.
“Apa? Menginap katamu? Nggak! Ini rumahku! Jadi yang berhak menentukan siapa yang boleh ke sini cuma aku!” Mata Cintya menatap Panji dengan sinis.
“Nggak apa-apa, Panji. Ini belum terlalu malam kok. Ya sudah Ibu pamit ya,” pamit ibunya Panji.
“Ibu, sebentar. Jangan pulang dulu, aku akan bicara pada Cintya.” Panji masih membujuk ibunya. Dia akan berusaha meyakinkan Cintya untuk mengizinkan ibunya menginap malam ini saja.
Panji menarik tangan Cintya ke dalam. Dia ingin berbicara pada Cintya.
“Ma, tolong, biarkan Ibu menginap di sini malam ini saja. Arkhan pasti senang.” Panji terus membujuk Cintya.
“Nggak, sekali nggak ya nggak!” Cintya tetap kekeh melarang mertuanya menginap.
“Jadi, kamu lebih mengizinkan pria lain yang boleh menginap di sini, dibanding ibuku, mertua kamu?” tanya Panji dengan nada yang sedikit keras. Dia begitu marah pada Cintya.
“Apa, sih, maksud kamu? Udah nggak usah ngajak debat. Siapa juga yang mengizinkan pria lain nginep di sini? Tadi, kan, cuma bertamu.” Cintya tak mau disalahkan. Dia pun kembali ke ruang tamu. Panji terpaksa mengikuti.
“Ibu masih di sini? Kan, aku udah bilang, nggak boleh nginep di sini!” sentak Cintya.
Panji hanya bisa menelan ludah, tak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa bersalah pada ibunya.
“Iya, Nak. Ibu akan pulang, kok. Assalamualaikum,” ucap ibunya Panji.
Cintya hanya bergeming, lalu dia melangkah masuk meninggalkan ruang tamu dengan langkah yang angkuh. Panji menghela napas dalam. Dia pun mencium tangan ibunya.
“Ibu, biar Panji antar ya?” pinta Panji.
“Nggak usah, nanti istrimu marah,” tolak ibunya.
“Nggak apa-apa. Panji kasihan sama Ibu. Lagian bawa motor Panji endiri kok, jadi Cintya nggak bakal marah. Bensinnya juga beli dengan uang hasil kerja sendiri.” Panji tersenyum meyakinkan ibunya.
Ibunya pun menerima tawaran Panji. Panji tak mungkin membiarkan ibunya pulang sendiri, malam-malam begini.
Ibu maafkan Panji. Ternyata istri pilihanku salah. Andai saja waktu bisa berputar kembali, pasti menerima jodoh yang ibu pilih. Nasi telah menjadi bubur.
Panji menghela napas dalam. Semua ini pilihannya, maka dia harus ikhlas dan sabar dalam menjalaninya.
Selama dalam perjalanan, Panji hanya bisa diam. Dia merasa bersalah pada ibunya. Di antara lalu lalang kendaraan, sesekali Panji melirik ibunya lewat spion, dia ingin memulai percakapan, tetapi ragu. Kesedihan terlihat menghiasi wajahnya.
“Ibu sudah makan?” tanya Panji akhirnya.
“Sudah Nak, tadi sebelum ngantar Arkhan, Ibu makan dulu. Arkhan juga, kok,” jawab sang ibu.
Kemudian, suasana pun kembali hening. Panji terus melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Perut Panji terasa lapar, lalu saat melihat ada Abang penjual nasi goreng di pinggir jalan, dia pun meminggirkan motornya.
“Bu, kita mampir makan nasi goreng bentar, ya?” Panji tersenyum melihat ibunya.
“Tapi, Ibu kenyang, Nak,” jawab sang ibu.
“Tapi, Panji pengen makan nasi goreng di pinggir jalan bareng Ibu.” Panji terus membujuk lagi. Dia tak bisa mengatakan kalau perutnya lapar.
“Kamu lapar? Sejak kecil, kan, kamu kalau lapar selalu ngebujuk Ibu untuk makan bareng.” Ibunya Panji menatap anaknya dengan wajah sedih. Semenderita itukah Panji setelah menikah dengan Cintya? Ibunya Panji segera menepis pikiran jeleknya. Dia berpikir mungkin karena dari tadi kebingungan mencari Arkhan, jadi lupa makan.
“Ibu tahu aja. Iya, nih, lapar dari tadi belum makan. Soalnya langsung cari Arkhan, bingung, lupa kalau belum makan, Bu.” Panji lalu menggandeng ibunya untuk masuk ke warung nasi goreng.
“Bang nasi goreng biasa 2,” pesan Panji.
“Siap Mas, tunggu sebentar,” jawab si Abang penjual.
Sambil menunggu nasi goreng siap, Panji pun bercengkerama dengan ibunya. Panji memang jarang sekali mengunjungi ibunya, karena Cintya melarang. Cintya takut, jika Panji sering mengajak Arkhan menemui ibunya, Arkhan jadi terbiasa ke rumah ibu mertuanya.
“Ini Mas, nasi gorengnya.”
“Makasih Bang.”
Lalu, Panji pun segera melahap nasi gorengnya. Ibunya yang melihat hanya geleng-geleng kepala.
“Pelan-pelan, Panji.” Ibunya menasihatinya. Panji hanya tersenyum, karena memang sangat lapar.
Akhirnya, setelah selesai makan, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama sampailah mereka di rumah ibunya Panji. Saat hendak turun, tiba-tiba ponsel Panji berdering. Tertera di layar nama Cintya. Panji pun mengangkatnya.
“Iya, Ma. Ada apa?” tanya Panji.
“Ada apa, ada apa? Kamu tuh nganter Ibu ke mana? Ke Jerman? Lama amat? Cepet pulang! Tuh si Arkhan rewel mulu, nyariin neneknya. Ibu kamu itu emang suka bikin gara-gara!” sentak Cintya.
Panji berjingkat mendengar suara kasar Cintya dari seberang.
“Ya, bujuk Ma. Bilang kalau neneknya udah pulang. Ibuku, ibu kamu juga.” Panji mencoba bersabar.
“Udahlah dari tadi. Malah nangis minta ikut kamu. Sekarang nyariin kamu itu. Cepet pulang sekarang! Nggak usah lama-lama di situ!” bentak Cintya lagi.
“Iya, iya, aku pulang sekarang Ma.”
Telepon pun langsung dimatikan oleh Cintya, membuat Panji mengusap dadanya sambil menghela napas panjang. Sang Ibu yang melihat pun merasa peka.
“Ya udah Panji, kamu pulang, ya? Udah malam juga, nggak usah mampir ke rumah Ibu. Ibu juga udah mau tidur ini, capek.” Ibunya Panji tersenyum sambil menatap Panji.
Panji pun merasa tak enak. Mungkinkah ibunya tadi mendengar perkataan Cintya?
“Iya, Bu, Panji pulang ya? Sebenarnya pengen mampir dulu, pengen nginep juga. Tapi, kan, nggak sama Arkhan. Kasihan Arkhan, katanya tadi nyariin Panji terus Bu.” Panji tetap tersenyum meskipun hatinya merasa miris.
“Ya udah, hati-hati,” ucap ibunya.
“Iya, Bu.” Panji mencium tangan ibunya dengan takzim, lalu segera pamit.
Panji melakukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia tak mau datang terlambat di rumah. Selain itu Panji khawatir Arkhan mendapat perlakuan buruk dari Cintya.
***
Bersambung