Perdebatan Panji dengan Cintya

1238 Kata
Cintya benar-benar marah, saat tahu kalau Arkhan dibawa Bu Desi, neneknya. Cintya sangat tidak menyukai ini. Di mana semua orang kebingungan, tetapi ternyata Arkhan bersenang-senang dengan neneknya. Tiba-tiba teleponnya berdering. Pak Darto, papanya, menelepon. “Iya, Pa,” sapa Cintya. “Gimana, Arkhan udah ketemu?” tanya Pak Darto. Cintya bingung harus mengatakan apa. Sebab, pasti papanya akan marah besar kalau tahu Arkhan dibawa Bu Desi. Ya, Pak Darto sebenarnya memang tidak menyetujui pernikahan Cintya dengan Panji. Namun, dulu Cintya tetap kekeh ingin menikah dengan Panji dengan alasan cinta. Ternyata cinta saja tidak cukup, setelah menjalani kehidupan rumah tangga. “Cintya, ditanya, kok, malah diam saja.” Pak Darto terdengar begitu kesal. “Eh, iya, Pa, sudah. Arkhan sudah pulang, dia ... tadi sama neneknya,” lirih Cintya. Dia pun tak bisa berbohong pada papanya. “Apa? Bu Desi? Kok, bisa? Papa, kan, sudah bilang jangan biarkan Arkhan sering bergaul dengan neneknya yang miskin itu!” sentak Pak Darto. “Iya, Pa. Maaf, kali ini Cintya ceroboh, lain kali akan Cintya pertegas Pa. Biar Bi Inah terus menjaga Arkhan di sekolah. Biar nggak dijemput neneknya lagi.” Cintya berkata dengan nada ketakutan. “Ya sudah kalau gitu.” Setelah mengatakan itu Pak Darto pun mematikan teleponnya. Cintya menghela napas dalam. Dia merasa tenang karena papanya tidak terlalu marah. Kemudian, dia pun menuju kamar Arkhan. Kemarahan Cintya muncul saat melihat Arkhan merengek mencari Bu Desi. “Arkhan! Kenapa nangis?” tanya Cintya dengan nada keras, membuat Arkhan makin kencang tangisannya. “Ditanya kenapa malah nangisnya kenceng?” Mata Cintya melotot tajam. “Mas Arkhan nangis cari Bu Desi, Bu. Katanya mau tidur sama Bu Desi.” Bi Inah akhirnya yang menjawab, karena Arkhan masih terus menangis. Bi Inah masih berusaha menenangkan Arkhan. “Nenek kamu udah pulang, diantar ayahmu. Bentar lagi ayahmu juga pulang,” jawab Cintya dengan nada santai. Dia sama sekali tak mau mencoba menenangkan Arkhan. “Tapi, tadi kata Nenek mau tidur di sini sama Arkhan. Makanya Arkhan mau diajak pulang.” Arkhan berkata sambil tersedu. Dia mengusap matanya yang dibanjiri air mata. “Nenek itu punya rumah! Jadi ngapain mau tidur di sini! Udah kamu diem! Mama itu capek, tadi habis nyariin kamu! Tahunya malah asyik sama Nenek. Lain kali awas kalau sampai ikut nenek lagi!” ancam Cintya. Arkhan hanya diam, dia terus mendekap Bi Inah. “Kamu dengar Mama ngomong?” tanya Cintya. Arkhan mengangguk. “Kenapa diam? Kamu nurut sama Mama! Jangan sekali-kali ikut nenek lagi! Nggak boleh ada bantahan!” sentak Cintya. “Bi urus Arkhan, suruh dia diam. Saya capek, mau istirahat.” Setelah mengatakan itu pada Bi Inah, Cintya pun melangkah meninggalkan Arkhan. “Mama jahat! Mama nggak sayang Arkhan!” teriak Arkhan. Seketika Cintya pun berhenti dan menoleh ke arah Arkhan. Dia benar-benar marah mendengar kata-kata Arkhan. Mata Cintya menatap tajam pada Arkhan. “Apa kamu bilang? Mama jahat?” tanya Cintya, lalu menampar pipi Arkhan. Arkhan pun menangis. Bi Inah tak bisa berbuat apa-apa kalau Cintya sedang marah. Dia takut kena marah juga. Bi Inah hanya mencoba melindungi Arkhan. “Ini yang nggak Mama suka kalau kamu habis sama nenek kamu. Jadi berani sama Mama! Mau Mama pukul lagi?” tanya Cintya dengan mata melotot tajam. Tangan Cintya sudah hampir mendarat di pipi Arkhan. “Mama! Apa-apaan ini?” tanya Panji saat tahu Cintya hendak memukul Arkhan. “Nah, itu ayah kamu udah datang! Tuh urus anak kamu! Dia udah berani ngelawan aku, gara-gara ibu kamu!” Cintya bukannya takut pada Panji, dia malah berani mengatai mertuanya. “Tapi, nggak harus dikasar kayak gitu!” bentak Panji. Cintya hanya melambaikan tangannya. “Aku capek mau istirahat. Pusing ngurusin kalian berdua!” Cintya pun melenggang pergi. Panji pun hanya geleng-geleng melihat Cintya. Lalu, meminta Bi Inah untuk keluar. “Arkhan sayang, kenapa kok nangis?” tanya Panji dengan lembut. “Nenek kenapa pulang, Yah? Tadi katanya mau tidur di sini bareng Arkhan.” Arkhan menumpahkan semuanya pada ayahnya. Mendengar kata-kata Arkhan, Panji sedih. Panji tahu Arkhan begitu merindukan neneknya. Mereka jarang bertemu, bahkan tidak pasti satu bulan sekali bisa bertemu. Panji juga heran kenapa Cintya tidak pernah mengizinkan Arkhan bersama neneknya. “Nenek nggak bisa tidur kalau nggak tidur di kamar Nenek, Sayang.” Panji mengusap kepala Arkhan dengan penuh kasih sayang. Lalu, menenggelamkan kepala Arkhan ke dadanya. Mata Panji berkaca-kaca, sebisa mungkin dia menahan agar air matanya tidak jatuh. “Ayah, apa Mama nggak suka Arkhan sama Nenek?” tanya Arkhan. Panji mengurai pelukan dan menatap Arkhan dengan aneh. “Kenapa Arkhan bilang begitu?” tanya Panji. “Soalnya tadi Mama marah, sampai pukul Arkhan, katanya Arkhan harus nurut Mama. Nggak boleh ikut Nenek lagi.” Arkhan mengatakan dengan jujur pada ayahnya tentang apa yang dibilang Cintya. “Nggak, kok, Mama. Tadi Mama bilang begitu karena Mama lagi capek. Tadi habis nyariin Arkhan, Mama kebingungan karena Arkhan hilang. Nah, lain kali Arkhan harus izin Mama dulu, biar nggak kebingungan nyarinya.” Panji tersenyum sambil membelai lembut rambut Arkhan. “Iya, Yah.” Arkhan tersenyum. “Nah, gitu dong senyum, jangan sedih lagi.” Arkhan pun mengangguk. “Ya udah sekarang Arkhan tidur. Ayah temenin dulu.” Arkhan pun menurut dan berbaring, Panji menutup tubuh Arkhan dengan selimut sampai sebatas d**a. Lalu, tak lama kemudian Arkhan pun sudah tertidur. Panji menghidupkan lampu tidur dan mematikan lampu kamar yang terang. Setelah itu Panji keluar dan menutup pintu kamar Arkhan dengan rapat. Panji masuk ke kamar, dan mendapati Cintya sedang tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. “Lagi chatingan sama siapa? Sama Samuel?” tanya Panji tanpa basa-basi. “Suka-suka akulah mau chatingan sama siapa!” sentak Cintya. “Ma, lain kali jangan kasar sama Arkhan, kasihan Ma. Dia masih kecil.” Panji duduk di samping Cintya yang sedang bermain ponsel. “Kalau nggak dikasar ntar dia ikut neneknya lagi. Lagian ya gara-gara ibu kamu, Arkhan jadi berani ngelawan aku!” Cintya melirik Panji dengan tajam. “Arkhan nggak ngelawan Mama, dia, kan, cuma mengatakan keinginannya Ma. Wajar dong. Arkhan itu kangen sama neneknya.” Panji terus membujuk Cintya agar mengizinkan Arkhan sering bermain bersama Bu Desi, ibunya. “Halah, pasti karena sudah diracuni kata-kata nggak bener sama neneknya. Udahlah, nggak usah bahas itu, aku capek. Mau tidur!” Cintya pun menaruh ponselnya di nakas, lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Panji menghela napas dalam. Selalu begitu setiap kali Cintya diajak berbicara. “Kamu selalu bilang capek kalau kuajak ngobrol, tapi kalau main ponsel sampai larut malam nggak capek. Emang ada hubungan apa kamu sama Samuel? Masak urusan kerjaan sampai tengah malam.” Panji sering melihat Cintya chatingan sampai larut malam, terkadang Cintya sampai ketawa-ketawa sendiri. Selama ini Panji diam, karena dia pikir Cintya ngobrol dengan teman ceweknya, tetapi setelah kejadian tadi, Panji jadi curiga. “Kamu ngomong apa, sih, Yah? Aku sama Samuel hanya sebatas teman kerja dan sahabat, nggak lebih,” jawab Cintya. “Tapi, sikap Samuel ke kamu nggak kayak sahabat, seperti ada rasa tersendiri. Pandangannya padamu berbeda Ma.” Panji terus mendesak Cintya. “Udahlah, Yah. Nggak usah bahas hal yang nggak penting!” sentak Cintya. “Ok, aku nggak bakal bahas hal ini. Tapi, aku minta Mama juga jangan berlaku kasar pada Arkhan. Dia anakmu, Ma.” Panji menatap Cintya yang membelakanginya. Tak ada jawaban. Cintya hanya bergeming, dia merasa malas menanggapi omongan suaminya yang menurutnya tak penting. Panji pun akhirnya diam saat omongannya sama sekali tidak direspons oleh istrinya. Panji menghela napas dalam. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN