Kesedihan Arkhan

1013 Kata
Hari ini, Panji pulang lebih awal dari biasanya. Dia telah berjanji pada Arkhan untuk mengajaknya jalan-jalan, walau hanya di taman kota. Arkhan bilang ingin sekali pergi jalan-jalan bertiga, karena memang selama ini tidak pernah berlibur bersama. Cintya terlalu sibuk di kantornya, sejak dia menjabat menjadi manajer keuangan. Jabatannya yang tinggi membuat lupa pada keluarga. Bahkan terhadap Arkhan. Ya, sejak dulu memang Cintya tidak menginginkan kehadirannya. Meski memang harus menunggu hampir dua tahun baru bisa memilikinya. Namun, tak seharusnya dia menyia-nyiakan waktu bersama Arkhan. Apalagi Cintya sekarang seperti dekat dengan teman kantornya, Samuel. Walaupun diliputi rasa curiga, tetapi Panji tak bisa berbuat apa pun. Sebab, Cintya tak mau mengaku, selain itu Panji juga belum pernah memergokinya melakukan hal yang di luar batas. Hanya waktu Arkhan hilang dia melihat mereka berpegangan tangan. Cintya pun selalu mengelak tiap kali ditanya oleh Panji. Panji akhirnya meminta waktu pada Cintya untuk meluangkan sedikit demi Arkhan. Sebab, Arkhan sering meminta waktu berlibur pada Cintya. Namun, Cintya selalu beralasan sibuk, meskipun hari minggu atau tanggal merah. Dia lebih suka berinteraksi dengan teman sosialitanya. Lebih asyik dengan gawai pintarnya. Seperti semalam Arkhan minta tidur ditemani mamanya, tapi Cintya menolaknya. Panji kasihan melihat wajah sedih Arkhan. “Ma, Arkhan mau tidur dikelonin,” rengek Arkhan. “Apa sih kamu ini! Udah besar kok minta kelon. Biasanya juga tidur sendiri. Udah sana, jangan manja jadi cowok itu!” Cintya menyuruh Arkhan pergi. Arkhan pun melangkah dengan gontai, wajahnya terlihat lesu. Panji kasihan melihatnya. Dia hanya ingin diperhatikan, tapi mamanya tak mau mengerti. “Mama! Arkhan hanya ingin minta perhatianmu saja! Kasihan, dia anakmu!” geram Panji. “Ya udah, Ayah aja sana yang temani Arkhan. Dia, kan anakmu juga,” ucap Cintya tanpa melihat ke arah Panji.  Panji meraih gawai dari tangan Cintya dan melihat ke layarnya, ternyata sedang asyik chit-chat dengan teman sosialitanya. Sungguh keterlaluan Cintya. “Apa sih kamu ini, Yah. Main rebut ponsel orang aja. Nanti kalau lecet gimana? Mahal ini, gajimu dua bulan mana cukup buat ganti.” Cintya merebutnya dari tangan Panji. Ternyata jabatan membuat seseorang lupa diri. Andai saja waktu bisa diputar kembali, Panji tidak akan membiarkan Cintya meraih kariernya. Tanpa banyak cakap, Panji pun melangkah menuju kamar Arkhan. “Sayang, sudah tidur?” tanya Panji. Tak ada sahutan. Mungkin Arkhan sudah tidur. Lalu, Panji mendekat ke arahnya yang sedang meringkuk di ranjang. Hati pria itu terasa perih, mendengar isakan Arkahan. Bahunya berguncang naik turun. “Sayang, jagoan Ayah kenapa nangis?” tanya Panji. Hening. Tak ada jawaban. Panji menghela napas berat. Panji bisa merasakan bagaimana perasaan Arkhan. Pasti sangat sedih karena diabaikan oleh ibunya. Walaupun masih anak-anak, tetapi dia memiliki hati dan perasaan. “Arkhan, jagoan Ayah yang hebat dan ganteng. Cerita dong sama Ayah,” ucap Panji sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Arkhan menatap Panji lama, kemudian secara perlahan duduk. Bukan menjawab dia malah memeluk ayahnya. Bahunya berguncang hebat dan isakannya semakin kencang. “Menangislah, Nak. Setelah puas cerita sama Ayah ya?” Panji terus membelai lembut kepala Arkhan. Hatinya ikut perih sebenarnya, tetapi Panji berusaha biasa saja di hadapan Arkhan. Walaupun Panji tahu, Arkhan sedih karena ucapan mamanya tadi. Namun, Panji harus bisa membujuknya supaya bercerita pada Panji. Anak-anak juga manusia yang sudah memiliki hati dan perasaan. “Ayah, kenapa Mama nggak pernah mau menemani Arkhan tidur? Apa memang nggak sayang sama Arkhan? Arkhan ingin jadi kecil lagi, nggak mau sekolah, biar Mama mau menggendong dan memelukku.” Arkhan melepaskan pelukannya. Hati Panji terasa nyeri sekali mendengar ucapan Arkhan. Ya Tuhan sebegitu sedihnya Arkhan karena diabaikan mamanya? “Maafkan Mama ya, Sayang. Mama sayang kok sama Arkhan, cuma lagi capek dan banyak kerjaan jadi nggak mau nemani tidur. Besok pasti mau kok. Sekarang tidur sama Ayah ya?” Seperti ada yang nyeri di dalam dadanya, ketika mengatakan suatu kebohongan pada Arkhan. Namun, Panji percaya di dalam lubuk hati Cintya, sebenarnya dia menyayangi Arkhan. Mungkin hanya karena terlalu capek dan pusing dengan kerjaannya saja. Panji menghela napas dalam. Hatinya benar-benar perih jika ingat raut wajah Arkhan semalam. Panji sudah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan sore ini. “Ayah, Mama kok belum pulang? Kita jadi, kan jalan-jalannya?” tanya Arkhan. “Sebentar ya, Ayah telepon dulu. Mungkin masih banyak kerjaan.” Panji berusaha menenangkan Panji. Panji menekan nomor Cintya. Lama tak ada jawaban. Panji mencoba menghubunginya lagi. Akhirnya, telepon pun diangkat. “Halo, Ma,” ucap Panji ketika sudah tersambung. “Iya, Yah, ada apa? Mama lagi sibuk ini, kerjaan masih numpuk.” Cintya terdengar begitu kesal. “Loh Mama lupa ya? Kan kita mau jalan-jalan ke taman.” Panji berusaha mengingatkan Cintya. “Aduh, Ayah, Mama semalam bilang nggak janji. Udah deh, mending kalian pergi berdua aja.” Cintya dibuat semakin kesal dengan pernyataan Panji. “Ta--” Belum sempat bicara, telepon sudah diakhiri oleh Cintya. Panji menarik napas panjang. Bagaimana menjelaskannya pada Arkhan? Semalam Panji sudah berjanji bahwa sore ini mamanya akan mengajak jalan-jalan. Kasihan Arkhan. “Gimana, Yah? Mama sudah pulang belum?” Panji menggeleng. Lalu, tampak wajah Arkhan yang tadi berbinar kini telah meredup. Hati Panji benar-benar perih menyaksikannya. Arkhan memang masih anak-anak, tapi dia memiliki hati nurani, ingin diperhatikan dan diberi kasih sayang. Ada saatnya di mana nanti anak-anak sudah tidak mau lagi bersama orang tua. “Nggak usah sedih, tanpa Mama pun kita bisa tetap jalan-jalan kok. Ayo,” ajak Panji pada Arkhan. Arkhan menggeleng, matanya sedikit memerah. “Kenapa?” tanya Panji. “Ar-arkhan, mau sama Mama.” Lalu meluncurlah setetes cairan bening dari sudut matanya. Panji berjongkok menyejajari Arkhan. Kemudian menyeka sudut mata dan mencium keningnya. Hati Panji terasa benar-benar perih. Teringat akan dirinya waktu kecil, kurang kasih sayang dari orang tua. Bedanya, dulu ibunya terlalu sibuk demi mencari sesuap nasi. Karena ayahnya entah ke mana, sampai sekarang pun tak tahu ada di mana. Sementara, sekarang Cintya sibuk demi mengejar kariernya. “Mama, kan masih sibuk. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi. Sekarang sama Ayah aja ya?” bujuk Panji lagi. Panji bingung harus bagaimana agar Arkhan tidak lagi sedih. Cintya memang keterlaluan. Semalam dia berjanji menyanggupi permintaan Arkhan. Namun, sekarang dia membatalkan janjinya. Padahal Arkhan sudah sangat berharap. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN