Di tempat lain, Cintya begitu lelah. Kerjaannya seharian ini membuatnya pusing. Lalu, ketika dia melihat jam sudah sore, dia pun bisa lega karena bisa beristirahat. Dia masih enggan pulang. Cintya malas pulang jika akhirnya nanti harus adu mulut dengan Panji. Cintya merasa Panji selalu menekan Cintya. Padahal sebenarnya niat Panji baik. Namun, Cintya sudah terlanjur berburuk sangka.
Saat Cintya sedang menghilangkan sedikit rasa penatnya, tiba-tiba muncul sosok Samuel.
“Belum pulang? Yuk, bareng.” Samuel memulai percakapan.
“Eh, Sam. Masih males mau pulang. Capek, ntar di rumah berantem lagi. Ah, makin malas.” Cintya berkata sambil tersenyum miris.
“Emmm, gimana kalau kita pergi nonton dulu. Ya, barangkali bisa menghilangkan kepenatan kamu.” Samuel menatap Cintya dengan penuh harap. “Tapi, itu kalau mau,” lanjut Samuel.
Sejak kejadian di rumah Cintya itu, bukannya Samuel menjauh dari Cintya, tetapi mereka justru semakin dekat.
“Jelas maulah. Kamu emang sahabat terbaikku, Sam.” Cintya berbinar menatap Samuel.
“Kamu nggak apa-apa pergi sama aku?” tanya Samuel memastikan.
“Lah, kenapa emang? Kan, biasanya juga sama kamu.” Cintya menatap Samuel dengan dahi berkerut.
“Ya, kan, suamimu bakal marah kalau tahu. Kayak yang di rumahmu itu, padahal niat aku cuma ngehibur kamu.” Samuel menatap Cintya.
“Halah nggak usah dipikirin dia. Emang gitu, suka ngelarang-larang. Lagian aku juga butuh hiburan kali,” jawab Cintya.
Lalu, mereka pun melangkah ke luar kantor. Namun, tiba-tiba ponsel Cintya berdering. Dia menarik napas ketika melihat siapa yang menghubunginya. Dia pun mengabaikannya.
“Kok, nggak diangkat, Cintya?” tanya Samuel yang melihatnya.
“Males, nggak penting. Ntar pasti marah-marah.” Cintya menjawab dengan asal.
Mendengar jawaban Cintya, Samuel yakin kalau yang menghubungi Cintya, suaminya.
“Angkat aja dulu. Tuh bunyi lagi. Siapa tahu penting.” Samuel berusaha bersikap sedikit baik, meskipun dia yakin Cintya tetap akan memilih pergi bersamanya.
Akhirnya, Cintya pun mengangkat ponsel yang terus berdering karena merasa risih. Saat diangkat langsung terdengar suara Panji. Dia meminta Cintya segera pulang, karena semalam berjanji akan mengajak Arkhan jalan-jalan bertiga. Cintya yang mendengarnya pun merasa kesal. Dia merasa tidak berjanji apa pun. Seingat Cintya dia hanya berkata kalau tidak sibuk dan tidak lelah. Namun, Panji bersikukuh kalau Cintya sudah berjanji dan Arkhan menunggunya.
“Udahlah, kalian pergi berdua saja! Aku lagi sibuk!” Tanpa basa-basi lagi Cintya pun mematikan ponselnya.
“Tuh, kan, bener, dia itu emang suka bikin kesal!” Cintya berdecak kesal.
“Udah, nggak usah marah-marah. Cantiknya hilang nanti.” Samuel berusaha membuat Cintya tersenyum.
Cintya pun menoleh pada Samuel. Pipinya bersemu merah. Samuel selalu bisa membuatnya merasa dihargai dan hatinya sedikit tenang. Samuel memang pria idaman. Cintya jadi berandai-andai.
“Malah ngelamun, ayuk,” ajak Samuel.
“Tunggu, ini gimana? Kita naik mobil sendiri-sendiri atau gimana? Nggak enaklah kalau sendiri-sendiri,” ucap Cintya.
“Bawa mobilku aja. Mobil kamu tinggal di parkiran kantor aja. Nanti kita ambil lagi. Kan, satpamnya 24 jam di sini.” Samuel memberikan usul.
“Males kalau nanti malam harus balik ke sini ambil mobil.” Cintya berkata dengan nada manja.
“Dasar manja.” Samuel mencubit hidung Cintya. Mereka seperti pasangan muda yang mabok asmara.
Cintya lupa kalau dirinya seorang ibu dan istri. Bahkan, dia tidak tahu bagaimana sedihnya putranya karena gagal jalan-jalan dengannya. Cintya malah asyik dengan pria lain.
“Atau gini aja, mobil kamu biar di sini aja. Nanti kamu pulang aku antar. Tapi, pulang malam bareng aku nggak apa-apa? Entar aku dibunuh suamimu.” Samuel berkata sambil terkekeh.
“Gitu juga ok. Daripada entar balik ke sini lagi.” Cintya menyetujui usul Samuel.
“Tapi, entar suamimu tahu, bisa marah besar.”
“Udahlah, nggak usah mikirin dia. Nggak bakal berani macam-macamlah dia. Cuma omong kosong aja dia. Ngebunuh nggak bakal beranilah.” Cintya melambaikan tangannya sambil tersenyum miring.
Lalu, mereka pun meninggalkan kantor setelah mengatakan pada satpam kalau mobil Cintya ditinggal di kantor. Satpam pun mengiakan.
Di dalam perjalanan mereka tampak bahagia. Cintya benar-benar lupa akan kodratnya. Jabatan dan uang memang bisa membuat manusia lupa diri. Samuel merasa senang karena Cintya bisa luluh padanya. Dia tidak peduli meskipun Cintya istri orang. Toh, mereka nyaman bersama.
“Kita mau nonton apa?” tanya Samuel.
“Terserah deh. Yang penting bikin aku seneng dan nggak suntuk lagi,” sahut Cintya sambil melihat ke luar jendela.
Jalanan begitu padat karena memang jam waktu pulang bekerja. Hari pun semakin sore. Langit tampak jingga di ufuk barat. Mereka pun akhirnya terlibat obrolan yang begitu seru. Mereka berhaha ria berdua. Sesekali Samuel tampak mencubit pipi Cintya, membuat Cintya membalas memukul lengan Samuel dengan tertawa riang.
Akhirnya, tanpa terasa mereka pun sampai di salah satu bioskop di kota ini. Setelah membeli tiket mereka pun masuk. Cintya akhirnya ingin menonton film romantis. Dia ingin mengulang masa-masa mudanya dulu.
“Berarti sekarang kamu tua, ya?” goda Samuel sambil terkekeh.
“Eh, apaa? Nggaklah.” Cintya cemberut karena dibilang tua.
“Yah, kok, ngambek? Kan, kamu sendiri yang bilang ingin mengulang masa muda. Berarti sekarang udah tua.” Samuel tertawa.
“Apaan, sih, kamu Sam. Mengulang masa muda bukan berarti sekarang aku tua.” Cintya masih terus merajuk.
“Makin cantik kalau cemberut kayak gitu.” Lagi-lagi Samuel membuat Cintya melayang tinggi. Dia seperti seorang remaja yang sedang dirayu kekasihnya.
Perlahan bibir Cintya menyunggingkan sebentuk senyuman yang indah.
“Malah senyum sendiri, abis cemberut, sekarang tersenyum sendiri.” Samuel terus menggoda Cintya.
“Jangan gitu ah Sam. Kamu bikin aku merasa melayang. Ini kayak nggak napak.” Cintya tersipu malu.
Samuel pun mencubit pipi Cintya pelan. Lalu, menggandeng tangannya dan terus berjalan menuju dalam bioskop. Cintya tak bisa berkutik, dia menurut dengan perlakuan Samuel. Panji tak pernah sekali pun mengajak Cintya nonton dari dulu. Bahkan, sebelum mereka memiliki anak sekali pun. Kini, Cintya merasa menemukan sosok yang begitu peduli pada Cintya. Cintya menyesal kenapa tidak dari dulu bisa kenal dengan Samuel. Kenapa harus sekarang? Cintya menarik napas dalam.
Setelah tiba di dalam gedung, mereka pun menuju tempat duduk. Mereka berada di jejeran depan. Sambil menunggu film diputar mereka pun terus mengobrol. Entah apa yang mereka perbincangkan. Ada banyak hal yang membuat mereka saling tertawa. Kemudian, lampu bioskop pun mulai dimatikan. Film pun diputar. Tangan Samuel dan Cintya terus berpegangan selama film diputar. Apalagi saat adegan mesra dan romantis diperlihatkan, mereka semakin erat saling menggenggam. Sesekali Samuel terlihat mencium tangan Cintya. Wanita itu hanya pasrah, dia seperti menikmati perlakuan manis dari Samuel. Melihat Cintya hanya diam dan menikmati perlakuan manisnya, Samuel semakin berani. Dia pun tiba-tiba mencium pipi Cintya. Cintya tampak kaget karena ciuman Samuel yang tiba-tiba. Cintya menoleh, tetapi dia tidak marah. Cintya kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Samuel. Samuel pun mendekapnya dengan erat. Sampai film selesai diputar mereka masih seperti itu.
Lampu pun kembali menyala sebagai tanda film sudah selesai. Samuel memberi kode pada Cintya agar mengangkat kepalanya. Cintya pun tersipu malu setelah sadar akan posisinya seperti apa.
“Menikmati sekali filmnya, ya? Sampai nggak mau pulang.” Samuel tersenyum tipis.
“Apa, sih?” tanya Cintya malu-malu.
“Kita pergi makan dulu, ya? Lapar.” Samuel memegang perutnya sambil tersenyum.
Cintya pun hanya mengangguk. Rasa lelah dan kesal pun hilang setelah acara menonton film. Cintya merasa senang memiliki sahabat seperti Samuel. Dia tak peduli jika nanti harus kembali merasa sumpek ketika berada di rumah.
****
Bersambung