Senyum Arkhan

1223 Kata
Arkhan masih terdiam meski Panji sudah membujuknya dan menenangkannya.Arkhan tampak masih sedih, karena keinginan untuk berlibur dengan mamanya gagal. Namun, tiba-tiba matanya berbinar.     “Arkhan mau jalan-jalan, tapi kita harus pergi ke rumah seseorang dulu,” pinta Arkhan.     “Ke mana?” Dahi Panji berkerut.   “Bu Iffah. Kita jalan-jalan sama Bu Iffah.” Arkhan berkata dengan mata berbinar. “Bu Iffah pasti mau, Yah,” lanjut Arkhan.     Bu Iffah? Guru Arkhan? Kenapa harus mengajaknya? Apa Arkhan begitu dekat dengan gurunya itu? Panji pun menjadi bingung. Pria itu juga berubah jadi gugup. Dia hanya berpikir apa yang akan dikatakan orang nanti saat melihat seorang suami jalan dengan guru anaknya.     “Ayah! Kalau nggak mau, nggak jadi jalan-jalan.” Arkhan merajuk.     “I-iya, tapi apa Bu Iffah mau?” tanya Panji meyakinkan Arkhan.     “Pasti mau, Yah. Bu Iffah, kan, baik. Sayang sama Arkhan.” Arkhan tersenyum.     “Memangnya Arkhan tahu rumahnya?” tanya Panji lagi.     Arkhan mengangguk antusias. Panji mengacak rambutnya kasar. Kemudian, mendudukkan di jok belakang. Lalu, Panji memacu sepeda motor dengan cepat. Berdasar petunjuk Arkhan, motor melaju menuju sekolah TK-nya. Rumah Bu Iffah dekat dengan sekolah kata Arkhan.     Dalam perjalanan Panji hanya terdiam. Selain memikirkan tentang Arkhan, dia juga berpikir soal Cintya. Panji benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam pikiran Cintya. Kenapa dia sama sekali tak mau meluangkan waktunya untuk Arkhan, barang sekejap saja. Panji menghela napas dalam.     Akhirnya, tanpa terasa sampailah mereka di tempat tujuan. Setelah tiba di dekat sekolah, Panji bertanya pada Arkhan.     “Mana rumah Bu Iffah?” tanya Panji.     “Itu, Yah, yang bercat hijau muda. Ada pohon mangga di halamannya.” Arkhan menunjuk ke arah rumah yang ada pohon mangganya.     Lalu, mereka pun pergi ke sana. Kemudian, masuk ke halaman yang tidak ada pagarnya. Setelah turun dari motor dan melangkah ke pintu, dia mengetuk pintu, lama tak ada jawaban dari dalam. Sepertinya tak ada orang.     “Kalau Bu Iffah nggak ada kita jalan-jalan sendiri ya?” pinta Panji.     “Pasti ada, Yah, coba ketuk lagi pintunya,” jawab Arkhan.     Lalu, dia pun ikut memanggil nama Bu Iffah. Sementara, Panji menurut apa yang diminta Arkhan. Tak lama kemudian pintu terbuka.     “Assalamualaikum, Bu.” Panji mengangguk pada Bu Iffah.     “Waalaikumsalam,” jawab Bu Iffah     Dahi Bu Iffah tampak berkerut, sepertinya terkejut karena yang datang Panji dan Arkhan.     “Ibu.” Arkhan lalu menghambur memeluk Bu Iffah.     “Eh, Arkhan sayang. Kok tumben main ke rumah Ibu? Ayo silakan duduk dulu.” Bu Iffah mempersilakan duduk di bangku yang ada di teras.     “Maaf, Bu, kalau kedatangan kami mengganggu,” ucap Panji setelah duduk.     “Nggak apa-apa, Pak. Cuma saya sedikit kaget, kok, tumben ke sini?” Kedua alis Bu Iffah bertaut.     Belum sempat Panji membuka mulut, Arkhan langsung menyela.     “Arkhan mau ngajak Ibu jalan-jalan.” Arkhan tersenyum riang.   “Arkhan,” bisik Panji pelan. Panji merasa tak enak pada Bu Iffah, karena Arkhan langsung mengatakan tujuannya datang ke sini.     “Kan memang benar, Yah. Kita mau jalan-jalan.” Arkhan berkata dengan polosnya.     Kedua alis Bu Iffah bertaut. Menatap Panji untuk meminta penjelasan. Panji menelan ludah.     “Ma-maaf sebelumnya, Bu, kalau mengganggu waktunya. Saya semalam janji mau ajak Arkhan jalan-jalan bersama mamanya juga. Ternyata mamanya nggak bisa. Arkhan ngambek dan mau pergi kalau sama Ibu.” Panji pun akhirnya menjelaskan pada Bu Iffah agar tidak merasa tidak enak.     Bu Iffah masih bergeming. Tampaknya sedang berpikir. Sepertinya dia akan menolak ajakan Arkhan. Panji menarik napas panjang.     “Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Bukannya menolak, tapi saya nggak enak kalau harus jalan dengan kalian. Apa kata orang nanti, saya jalan dengan lelaki beristri.” Bu Iffah menunduk.     “Bu Iffah, nggak mau jalan sama Arkhan? Nggak sayang sama Arkhan?” Terdengar suara Arkhan sedikit bergetar.     “Bukan begitu, Arkhan. Ibu sayang sama kamu, cuma nggak boleh pergi bersama.” Bu Iffah mencoba memberi pengertian pada Arkhan.     “Kenapa?” tanya Arkhan.     Suaranya semakin serak. Terdengar isakannya. Sudut matanya sudah dipenuhi dengan cairan bening.     “Arkhan, Bu Iffah sedang sibuk. Kita jalan berdua aja ya?” bujuk Panji pada Arkhan.     “Nggak mau! Memang nggak ada yang sayang sama Arkhan! Mama sama Bu Iffah nggak sayang sama Arkhan!” Tangis Arkhan semakin pecah.     Hati Panji benar-benar sakit melihat Arkhan menangis. Aku menghela napas panjang.     “Bu, saya mohon, demi Arkhan,” ucap Panji memohon.     Tampak Bu Iffah menghela napas panjang.     “Baiklah ... demi Arkhan.” Akhirnya, itulah yang keluar dari mulut Bu Iffah.     Panji pun menarik napas lega.     “Terima kasih, Bu.”     Bu Iffah mengangguk.   “Saya pamit sama ibu dulu ya? Sebentar.”     Arkhan tampak bahagia. Wajahnya berbinar dan ceria. Hati Panji sedikit tenang melihatnya tersenyum riang. Tak lama kemudian Bu Iffah muncul. Dia memakai jilbab instan panjang berwarna pink, celana kain panjang polos, dan tunik berwarna pink juga. Panji mengalihkan pandangan. Menutupi rasa gugup dan wajah yang memanas. Bagaimanapun Panji seorang lelaki beristri, tak seharusnya tertarik pada wanita lain. Panji harus bisa menjaga mata dan hati.     Dalam perjalanan ke taman, mereka saling terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Panji terus melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.     Tak perlu waktu lama, mereka pun sampai di taman. Panji memutuskan duduk di bangku taman, sambil menyaksikan Arkhan bermain ditemani Bu Iffah. Wajah Arkhan sangat bahagia. Matanya tampak berbinar. Sudah lama Panji tak melihat binar kebahagiaan di wajah Arkhan. Sejak Cintya tak lagi memperhatikannya. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dunianya sendiri.     Panji menghela napas. Seharusnya meskipun sibuk bekerja. Seorang istri harus tetap ingat akan tugas dan kewajibannya. Keluarga harus tetap diutamakan. Namun, Cintya sudah lalai dengan tugasnya. Bahkan dia tak lagi menghargaik Panji sebagai suami.     “Ayah!” panggil Arkhan.     “Iya, Nak.”   “Ayo, sini. Main ayunan sama Arkhan.”     Panji tersenyum dan menggeleng.     “Ayah menonton saja dari sini. Lanjutkan aja mainnya. Nanti kalau sudah puas kita pulang,” tolak Panji dengan halus.   Arkhan pun kembali bermain. Panji senang melihat Arkhan bisa tertawa bahagia meski hanya bermain di taman.     Tanpa terasa hari sudah menjelang senja. Namun, Arkhan sepertinya sangat menikmati kebersamaan dengan Bu Iffah. Panji tak tega untuk mengajaknya pulang. Dia pun melangkah menuju ke arah Arkhan.     “Arkhan, sudah hampir senja ini. Ayo kita pulang.” Panji mencoba mengajak Arkhan pulang.     “Nggak mau, Yah. Bentar lagi,” tolak Arkhan.     Arkhan memang keras kepala, sama seperti Cintya. Panji pun menatap Bu Iffah, dia tampak tersenyum.     “Maaf, Bu. Sepertinya sudah waktunya pulang. Bisa bujuk Arkhan supaya mau pulang,” pintaku.     Bu Iffah mengangguk.     “Arkhan, sudah ya mainnya. Ini sudah hampir senja, kapan-kapan kita ke sini lagi.” Bu Iffah mencoba membujuk Arkhan supaya mau pulang karena hari sudah sangat sore.     “Tapi, Arkhan masih mau main sama Ibu,” rengek Arkhan.     “Kan, besok masih bisa bertemu Ibu di sekolah. Kita bisa bermain sepuasnya,” bujuk Bu Iffah lagi.     Arkhan terdiam, tapi kemudian turun dari ayunan.     “Baiklah, ayo kita pulang, Yah,” ajak Arkhan.     Panji pun langsung membelalakkan mata, secepat itu bujukan gurunya. Entahlah, kenapa bisa dengan mudahnya Arkhan menurut apa yang diminta gurunya.     “Mari, Pak.”     Panji tersentak kaget.     “Eh, iya, mari.”     Mereka berjalan bersisian, menuju tempat parkir. Arkhan memegang tangan kiri Bu Iffah. Sesekali Panji mencuri pandang wajah Bu Iffah. Membayangkan seandainya Cintya bisa seperti ini.   Hah … Cintya, kapan kamu akan berubah? Entahlah. Panji menghela napas dalam.     *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN