Panji mengantar Bu Iffah pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan mereka terdiam. Mereka hanya mendengar celotehan Arkhan, yang ditanggapi dengan baik oleh Bu Iffah. Melihat sikapnya pada Arkhan seperti ini. Kasih sayang, perhatian serta sifat keibuannya membuat Panji sedikit tertarik pada Bu Iffah. Mengapa tak dari dulu mengenal Bu Iffah? Namun, hati kecil Panji berkata kalau Cintya juga akan bisa seperti itu jika dibimbing dan diberi tahu.
Di dalam jiwa Panji muncul berbagai macam perasaan campur aduk. Beginilah lelaki, selalu lemah jika berhadapan dengan seorang wanita.
Tanpa terasa sampailah mereka di rumah Bu Iffah. Saat tiba di rumah Bu Iffah, tampak ibunya duduk di teras. Sepertinya sedang menunggu Bu Iffah. Bu Iffah mengajak mampir sejenak. Panji pun menurutinya.
“Sore, Bu,” sapa Panji sambil tersenyum ramah.
“Iya,” jawabnya singkat.
Nada suaranya terdengar tidak bersahabat. Sepertinya beliau tidak suka Bu Iffah pergi bersama Panji.
“Iffah, lain kali bilang yang jelas kalau mau pergi. Tadi cuma bilang sama teman. Ternyata sama suami orang.” Ibunya Bu Iffah berkata dengan nada yang tak mengenakkan.
Panji menelan ludah mendengar perkataan ibunya. Ya, memang tidak sopan jalan dengan suami orang. Namun, semua ini demi Arkhan. Mungkin memang Panji egois, hanya mementingkan kebutuhan sendiri tanpa mengerti posisi Bu Iffah.
“Maaf, Bu ... tadi hanya untuk membuat Arkhan supaya nggak sedih.” Panji berusaha menjelaskan pada ibunya Bu Iffah.
“Apa pun alasannya. Itu tetap nggak baik, Iffah. Apa kata orang nanti.” Lagi-lagi ibunya hanya berbicara pada Bu Iffah.
“Maafkan saya, Bu. Semua ini salah saya.” Panji menimpali lagi.
“Hmmm.” Hanya dehaman yang terdengar di mulut ibunya Bu Iffah.
Panji merasa tak enak melihat ibunya Bu Iffah tidak suka padanya. Dia pun langsung berinisiatif mengajak Arkhan pulang.
“Arkhan, ayo kita pulang, Nak,” ajak Arkhan.
Arkhan mengangguk. Lalu, Panji berpamitan pada Bu Iffah dan ibunya. Arkhan mencium tangan kedua wanita di hadapannya. Ketika Panji hendak menjabat tangan ibunya Bu Iffah dia tak menerima uluran tangannya. Setelah berpamitan pada Bu Iffah, Panji dan Arkhan pun segera naik ke atas motor. Lalu meninggalkan halaman rumahnya.
Selama dalam perjalanan hati kecil Panji berkata, memang salah mengajak jalan seorang gadis. Apalagi dengannya yang seorang lelaki bersuami. Namun, semua ini demi Arkhan. Kalau dia tak merajuk ingin pergi dengan Bu Iffah, tak mungkin Panji mengajak Bu Iffah pergi bersama mereka. Panji menghela napas panjang.
“Ayah, kenapa?” Terdengar suara Arkhan.
“Nggak apa-apa kok. Pegangan yang kuat ya, biar nggak jatuh.” Panji menepuk tangan Arkhan dengan lembut.
“Tapi, jangan ngebut ya, Yah? Arkhan takut.” Arkhan merekatkan pegangan pada pinggang Panji.
“Nggak kok, Sayang,” sahut Panji dengan lembut.
Panji pun tersenyum sendiri merasakan tangan Arkhan memegang pinggang dengan kuat. Sepertinya dia takut kalau ngebut. Lalu, Panji memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang. Jalanan mulai tampak padat, banyak kendaraan lalu-lalang. Memang waktunya orang pulang dari bekerja. Perjalanan jadi sedikit terlambat.
Namun, akhirnya mereka sampai dengan selamat. Hari sudah mulai gelap. Lalu, belum terlihat mobil Cintya terparkir di garasi. Sepertinya Cintya belum pulang. Panji segera masuk ke dalam rumah. Lalu mengajak Arkhan untuk mandi. Setelah mandi, Panji mengajak Arkhan mengerjakan tugas dari sekolahnya. Walaupun bukan tugas wajib, tapi dia ingin mengajarinya tanggung jawab. Supaya nanti terbiasa sampai dewasa.
Tanpa terasa sudah hampir setengah jam Arkhan belajar. Jam dinding menunjukkan pukul 19.00. Namun, Cintya belum ada tanda-tanda pulang. Biasanya jam enam atau setengah tujuh sudah pulang. Mungkinkah dia lembur?
“Pak, makan malamnya sudah siap. Mau makan sekarang atau nanti tunggu ibu?” Bi Innah datang menawarkan makan malam.
“Nanti aja, Bi, tunggu Cintya.” Panji tersenyum ramah.
“Baik, Pak. Saya permisi dulu,” pamit Bi Innah.
Panji mengangguk, lalu kembali menemani Arkhan belajar. Setelah selesai belajar, Arkhan meminta ditemani bermain. Bermain mobil-mobilan di ruang televisi sambil menunggu Cintya. Entahlah, perasaan Panji sedikit tidak enak. Kenapa sampai jam segini Cintya belum pulang? Karena, menunggu Cintya tak kunjung pulang. Akhirnya Panji mengajak Arkhan untuk makan, kasihan biasanya jam segini sudah makan.
“Ayah, kok, Mama belum pulang juga?” tanya Arkhan ketika berada di ruang makan.
“Mungkin masih lembur, Nak.” Panji menatap Arkhan sambil tersenyum. Lagi-lagi Panji harus berbohong pada Arkhan. Hatinya terasa perih saat dia harus berbohong pada Arkhan. Panji terus menatap Arkhan yang sedang menyantap makanannya dengan lahap.
“Arkhan pengen sekali makan disuapi Mama,” lirih Arkhan.
Panji menghela napas dalam. Dia begitu sedih mendengar perkataan Arkhan. Namun, Panji tak bisa berbuat apa pun. Dia jadi merasa tak becus menjadi kepala keluarga karena tak bisa membuat Arkhan bahagia serta tak bisa membimbing Cintya.
“Sama Ayah sama aja, kok. Sini Ayah suap.” Panji pun mengambil sendok dari tangan Arkhan. Hati Panji begitu nyeri. Rasanya dia ingin menangis, tetapi ditahannya agar air matanya tidak sampai terjatuh.
Arkhan pun menyantap dengan lahap meskipun sedih karena tidak disuap mamanya. Sampai akhirnya makanannya pun habis
Setelah selesai makan, Panji pun mengajak Arkhan masuk ke kamar. Seperti biasa membacakan dongeng untuknya. Dia senang sekali mendengarkan cerita dongeng. Dulu Cintya yang selalu membacakannya. Kalau ingat kenangan manis beberapa tahun yang lalu, rasanya ingin sekali kembali ke masa itu. Di mana Cintya begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Meskipun gaji Panji kecil karena pekerjaan yang biasa, tapi Cintya tak pernah mengeluh. Bahkan masih menghargainya sebagai suami. Entahlah. Sejak setahun belakangan ini, Cintya banyak berubah. Terutama setelah dia naik jabatan. Mungkin karena merasa dia lebih hebat dan memiliki gaji yang tinggi. Jadi dia seperti tak membutuhkan Panji lagi. Apalagi setelah dekat dengan salah satu teman kantornya.
Belum selesai membacakan dongeng, sudah terdengar suara dengkuran Arkhan. Dia sudah tertidur pulas. Panji menutupi tubuhnya dengan selimut lalu mencium keningnya.
Maafkan ayah ya jagoan. Ayah menyayangimu. Perlahan Panji beringsut dari ranjang lalu melangkah keluar kamar. Dia menunggu Cintya. Entah kenapa tak kunjung pulang. Berbagai pikiran buruk muncul di otak Panji. Namun, segera ditepisnya. Walaupun memang sulit membuang pikiran jeleknya.
Panji pun menghubungi Cintya, tapi tak bisa. Bahkan, w******p-nya tidak aktif. Panji pun berinisiatif menelepon dengan nomor biasa. Namun, malah tidak aktif ponselnya. Panji menghela napas dalam. Panji sama sekali tak habis pikir. Panji begitu khawatir, dia mondar-mandir keluar masuk rumah.
***
Bersambung