Cintya Keterlaluan

1316 Kata
Di tempat lain, Cintya tak kunjung pulang, setelah pulang dari bioskop dia diajak pergi ke rumah Samuel. Cintya heran saat arah mobil Samuel tidak melaju ke rumah Cintya.     “Loh ini ke mana Sam?” tanya Cintya dengan heran.     “Ke rumahku dong. Lagian masih jam segini juga. Daripada pulang ke rumah kamu, ntar yang ada kesal sendiri.” Samuel mencoba merayu Cintya.     “Tapi, gimana dengan keluarga kamu yang lain?” tanya Cintya dengan khawatir.     “Tenang aja, adik aku nggak bakal tanya aneh-aneh meskipun aku bawa temen kantor sekalipun cewek.” Samuel menoleh ke arah Cintya sambil tersenyum.     Cintya pun akhirnya tersenyum dan mengangguk-angguk. Cintya pun menurut, toh pulang nanti juga malah menambah beban pikiran. Cintya juga sengaja mematikan ponselnya agar tak terganggu dari telepon Panji.     Samuel terus melanjukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya tanpa terasa sampailah mereka di rumah Samuel. Cintya takjub saat baru tiba di rumah Samuel. Rumahnya begitu mewah dan besar. Dari halaman saja sudah membuat takjub, bagaimana jika berada di dalam?     Setelah turun dari mobil, Samuel membukakan pintu mobil untuk Cintya membuat Cintya merasa begitu dihargai. Lalu, Samuel menggandeng  tangan Cintya. Cintya hanya bisa pasrah.     Lalu, saat tiba di depan pintu, Cintya dibuat takjub lagi. Pintu rumah Samuel terbuat dari ukiran kayu jati yang begitu mewah.     “Duduk sini dulu, Cintya. Atau mau ikut ke kamarku?” Samuel bertanya sambil terkekeh.     “Ish, apaan, sih, Sam? Mau ngapain ke kamar kamu?” Cintya mendorong lengan Samuel sambil tersipu malu.     “Ya istirahat dong. Mau ngapain emang? Ngeres deh pikirannya.” Samuel terkekeh sambil mencubit hidung Cintya.     Cintya pun tersipu malu karena merasa digoda oleh Samuel. Ya, mereka seperti pasangan muda yang baru dimabok asmara. Meskipun di antara mereka tidak pernah terucap kata cinta bahkan mereka hanya sebatas sahabat, tapi sikap dan perlakuan keduanya bagaikan sepasang kekasih. Namun, bagi Cintya hal semacam ini dianggap wajar.     “Bentar ya aku ke kamar dulu,” ucap Samuel.       “Iya,” sahut Cintya.     Lalu, Samuel terdengar memanggil asisten rumah tangganya. Tak lama kemudian asisten rumah tangganya datang. Terlihat rapi meski hanya seorang ART.     “Buatkan teman aku minum, Bi. Sekalian siapkan makan malam secepatnya!” perintah Samuel.       “Baik, Tuan,” jawab sang ART.     Setelah mengatakan itu Samuel pun meninggalkan Cintya.     “Sebentar ya Mbak, saya ambilkan minum dulu. Emm, mau minum apa, Mbak?” tanya ART Samuel.     “Apa saja deh Bi. Saya manut aja, semua mau kok.” Cintya pun tersenyum.     Lalu, ART Samuel mengangguk dan pergi meninggalkan Cintya. Cintya merasa heran karena rumah sebesar ini begitu sepi. Bukannya tadi kata Samuel ada adiknya? Namun, kenapa tak ada siapa pun?     “Ngelamun aja.”   Cintya kaget karena tiba-tiba Samuel sudah berada di sampingnya. Dia terlihat begitu segar, dengan pakaian casual. Samuel terlihat begitu tampan, membuat Cintya begitu takjub.       “Malah bengong!” Samuel melambaikan tangannya di hadapan Cintya.     “Eh, nggak bengong.” Cintya begitu gugup.       Tak lama kemudian, muncul ART Samuel membawa segelas minuman dingin untuk Cintya. Setelah mempersilakan pada Cintya, dia pun pamit undur diri. Katanya mau menyiapkan makan malam.     “Minum dulu, Cintya.”     Cintya pun hanya mengangguk.     “Oh iya Sam, rumah kamu sepi banget? Katanya tadi ada adik kamu, ke mana dia? Kok, nggak kelihatan?” tanya Cintya karena penasaran.       “Keluar kayaknya. Pergi sama teman-temannya, biasalah anak muda.” Samuel menjawab sambil tersenyum.     Cintya hanya mengangguk-angguk. Lalu, dia hendak bertanya lagi, tetapi Samuel sudah membuka suara.       “Kalau Mama dan Papa aku lagi ke luar negeri. Urusan bisnis. Entah kapan baliknya.” Samuel menatap Cintya. “Makanya aku ngajak kamu ke sini biar aku nggak kesepian,” lanjut Samuel sambil tersenyum.     Samuel semakin mendekat ke arah Cintya, tangannya meraih jemari Cintya dengan begitu erat. Saat hendak mencium jari Cintya, tiba-tiba muncul ART-nya.     “Tuan, makan malamnya sudah siap,” ucap sang ART.       Samuel berdecak kesal. Namun, dia langsung bersikap biasa saja. Sang ART pun bersikap seolah-olah tidak sedang melihat apa pun.       “Iya,” sahut Samuel dengan nada yang datar. Sejujurnya dia merasa kesal karena terganggu.     Setelah ART pergi, Samuel langsung mencium pipi Cintya dengan cepat, Cintya tak bisa menghindar. Dia hanya tersipu malu dan memegang pipinya yang dicium Samuel. Cintya merasa senang diperlakukan manis oleh Samuel. Cintya lupa daratan. Dia lupa diri kalau statusnya seorang istri.     “Yuk makan dulu. Lapar,” ajak Samuel.     Cintya pun hanya bisa pasrah. Menolak sekalipun Samuel pasti akan memaksanya. Saat berada di ruang makan, lagi-lagi Cintya dibuat takjub. Ruang makan yang begitu mewah dan elegan. Lalu, mereka pun menikmati makan malam yang romantis bak sepasang kekasih. Mereka saling bercanda satu sama lain. Sesekali saling menggoda. Hingga akhirnya, acara makan malam selesai.     Setelah makan malam, Samuel mengajak Cintya ke halaman belakang. Ada sebuah kolam renang di sana. Suasana malam berada di kolam membuat suasana begitu romantis. Samuel mengajak Cintya berkeliling di sekitar kolam renang. Lalu, duduk di bangku yang ada di dekat kolam renang. Cintya benar-benar lupa waktu. Dia tidak sadar kalau di rumahnya sedang ditunggu seseorang dengan rasa khawatir. Seseorang yang begitu menyayanginya dengan tulus. Sayangnya Cintya tidak peka akan hal itu. Wanita itu hanya memikirkan perasaan dan kesenangan dirinya sendiri.     “Gimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?” tanya Samuel.     “Sangat baik, Sam. Aku bahagia sekali malam ini. Apalagi suasana kolam di malam hari ini begitu indah. Ditemani seorang pria tampan bak pangeran.” Cintya menoleh pada Samuel sambil tersenyum menggoda.     “Ternyata pintar gombal juga, ya, Cintya ini.” Samuel mencubit pipi Cintya dengan gemas.     Mereka pun tertawa bahagia. Mereka lupa diri dan lupa waktu. Lama mereka bercengkerama. Lalu, Cintya tiba-tiba merasa gelisah karena sadar hari semakin malam.       “Sam, aku harus pulang ini. Udah malam banget ini.” Cintya terlihat begitu panik.     “Tidur di sini sajalah. Nanggung.” Samuel masih enggan melepas pelukan Cintya.     “Nggak bisa. Aku nggak mau suamiku malah mikir aneh-aneh kalau aku nggak pulang.” Cintya berusaha melepas pelukan Samuel.     Samuel pun akhirnya menurut. Saat Cintya menghidupkan ponselnya, dia kaget karena ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Sudah sangat larut. Namun, Cintya tak merasa takut atau yang lainnya. Wajahnya terlihat biasa saja.       “Antar aku pulang, ya?” Cintya menatap Samuel dengan begitu manja.       “Pasti dong. Masak iya aku tega biarin kamu pulang sendiri malam-malam gini. Apalagi mobil kamu di kantor.” Samuel menatap Cintya dengan penuh cinta.     Cintya pun hanya tersenyum. Setelah Samuel memakai jaket kulit, dia pun menggandeng Cintya dan berjalan menuju mobil.     Dalam perjalanan mereka masih terlihat asyik mengobrol.     “Cintya, kamu nggak takut ntar dituduh aneh-aneh sama suamimu?” tanya Samuel mencoba memancing reaksi Cintya.       “Ngapain takut?” Cintya berkata dengan begitu santai.   “Kan, pulang udah larut malam. Diantar aku pula.”       “Halah, gampanglah. Bilang aja baru pulang dari kantor, kerjaan banyak. Malam-malam mau pulang sendiri bahaya,” ucap Cintya dengan santai sambil tersenyum.       Samuel hanya diam mendengar jawaban Cintya. Sebenarnya Samuel ingin Cintya menginap saja di rumahnya. Namun, Samuel tak bisa memaksa saat Cintya bilang lebih baik pulang.     Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah Cintya. Mobil Samuel masuk ke halaman Cintya. Lalu, setelah tiba, Samuel turun terlebih dahulu, dan seperti biasa membukakan pintu untuk Cintya. Saat Cintya sudah turun, Samuel kaget karena tiba-tiba sosok Panji sudah ada di dekat mereka.       “Kamu masih berani ganggu istri aku?” tanya Panji dengan geram.       “Yah, udah nggak usah lebay! Ini sudah malam, kami capek baru pulang. Seharian sampai malam banyak kerjaan. Nggak usah aneh-aneh!” Cintya yang menjawab pertanyaan Panji.     Panji hendak berbicara lagi, tapi dipotong oleh Cintya. “Mending kamu urus diri sendiri saja, nggak usah urus kami berdua.”     Panji tak bisa berkutik.     “Makasih, Sam udah diantar pulang. Hati-hati ya di jalan, udah larut juga ini.” Cintya menatap Samuel sambil tersenyum. Samuel pun mengangguk, lalu dia pamit. Panji tak menanggapi ketika Samuel berpamitan.     Selepas kepergian Samuel, Cintya pun langsung masuk rumah tanpa menghiraukan Panji. Panji pun mengikuti sambil terus memanggil Cintya, tapi tak dihiraukan.       *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN