Cintya terus melangkah ke dalam kamar. Panji mencoba menahan amarahnya, karena dia tak mau terlibat pertengkaran di ruang tamu. Ketika tiba di dalam kamar, Cintya meletakkan tasnya dan hendak duduk. Tiba-tiba tangannya dicengkal oleh Panji. “Jawab jujur! Mama dari mana? Kenapa selarut ini baru pulang!” Panji menatap Cintya dengan tajam. “Ish, apa sih, Yah?” Cintya melepas tangannya dengan kasar. “Ya, dari kantorlah! Dari kerja!” lanjut Cintya. “Nggak usah bohong!” sentak Panji. “Siapa yang bohong!” Cintya menatap Panji dengan mata melotot. “Kenapa bisa diantar Samuel? Terus mobil kamu mana?” tanya Panji. “Tadi udah dijawab, nggak perlu kujawab lagi. Aku capek, baru selesai lembur!” Cintya membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Namun, dicega

