Sejak kejadian beberapa hari lalu, Panji merasa tak tenang. Entah, dia merasa bersalah karena tak memaafkan ayahnya. Namun, rasa gengsi untuk mengakui mengalahkan segalanya. Akhirnya, Panji tetap pada egonya tak mau memaafkan sang ayah. Pagi ini, Panji bersemangat untuk pergi bekerja, demi masa depan yang lebih baik lagi. Panji tak peduli dengan permintaan maaf ayahnya tempo hari. Panji pun menyempatkan untuk mampir ke rumah Bu Desi. Panji merasa rumah ibunya surga baginya, karena setiap kali di rumah ibunya, hatinya begitu tenteram. “Assalamualaikum, Ibu.” Panji mengetuk pintu. “Waalaikumsalam. Eh, Panji Arkhan nggak diajak?” tanya Bu Desi ketika membuka pintu. “Nggak, Bu, kan sekolah.” Panji mengempaskan tubuhnya di kursi. “Tumben mampir ke rumah ibu pagi-pagi.” Bu Desi menata

