Sejak Cintya naik jabatan lagi. Perhatian pada Arkhan pun kembali seperti dulu. Sudah tidak mau lagi menemani Arkhan tidur. Alasannya selalu capek. Yang kemarin mulai sedikit meluangkan waktu untuk Arkhan. Sekarang kembali tak ada waktu untuknya. Bahkan untuk memandikan di waktu pagi pun, tak sempat. “Ma! Arkhan mau mandi sama Mama,” rengek Arkhan. “Sudah deh! Nggak usah manja. Mandi sama Bi Inah, kan bisa, atau sama Ayah.” Cintya membentak Arkhan. “Arkhan maunya sama Mama!” Arkhan mencoba meraih tangan Cintya, tapi ditepisnya. “Apa sih! Sana sama Ayah, Mama udah terlambat ini!” bentak Cintya. Pecahlah tangis Arkhan. Namun, Cintya tak peduli lagi. Dia malah melenggang pergi. “Ma! Arkhan nangis ini lo. Mau sama kamu dulu!” teriak Panji. “Uda

