Setelah meminum sampai habis minuman yang dibuat Riska. Panji pun berniat untuk pulang. “Terima kasih, untuk minumannya, tapi aku harus pulang. Dan aku minta kamu nggak usah ganggu aku lagi,” ucap Panji. Riska hanya diam saat Panji berdiri dan hendak pergi, tetapi tiba-tiba Panji merasa pusing. Sementara, Riska tersenyum penuh arti. “Mas Panji kenapa? Pusing?” tanya Riska. “Iya, nggak tahu kenapa tiba-tiba aku pusing.” Panji memegang pelipis kepalanya. Riska pun menahan tubuh Panji agar tidak jatuh. “Ya udah istirahat dulu aja, Mas, jangan dipaksa.” Riska menuntun Panji ke kamarnya. Panji hanya menurut saja. Sebab, kepalanya terasa berat. Saat tiba di kamar Riska, Panji pun langsung tak sadarkan diri. Dengan susah payah Riska menyeret Panji agar bisa berbaring di ranjangnya. Kemudian

