Tak berapa lama, tibalah Panji di rumah Bu Iffah. Panji mengetuk pintu, lalu tak lama pintu terbuka. Bu Iffah langsung terbelalak melihat keadaan Panji. “Loh, kamu kenapa babak belur gini?” tanya Bu Iffah dengan raut wajah khawatir. “Emmm, tadi habis jatuh.” Panji terpaksa berbohong. “Ya udah ayuk masuk dulu. Aku kompres air hangat dulu. Duh, pasti sakit banget ini. Kok, bisa jatuh sih?” tanya Bu Iffah sambil melangkah masuk rumah yang berjalan di samping Panji. “Namanya juga apes.” Panji tersenyum kecut. Apes karena istrinya lebih memilih pria lain dibanding dirinya. Panji pun duduk di ruang tamu. Bu Iffah melangkah ke belakang untuk menjerang air. Setelah airnya hangat, Bu Iffah kembali ke depan untuk mengompres wajah Panji yang babak belur. Saat Bu

