Tanpa terasa waktu terus berjalan. Hari berganti bulan, mereka menjalin hubungan hampir enam bulan. Akhirnya, Panji pun mengajak Cintya ke rumah untuk bertemu sang ibu. “Kenapa secepat ini, Mas, bertemu ibumu? Aku belum siap, takut.” “Ibu baik, kok, nggak jahat. Nggak bakal tanya aneh-aneh juga.” Panji terkekeh melihat ekspresi Cintya yang gugup dan tegang. Wajahnya memucat serta tangannya basah oleh keringat. “Nggak usah tegang gitu,” ucap Panji.. Cintya terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. “Ayo, nanti keburu sore.” “Iya, sebentar aku bilang sama Mbok Parmi dulu.” Cintya melangkah ke dalam rumah. Menurut Cintya selama ini hanya tinggal dengan Mbok Parmi saja. Orang tuanya tinggal di luar kota, mereka mengurus bisnis tambang di kal

