Semenjak Panji mengajak Cintya ke rumahnya, Bu Desi tak banyak berbicara. Sepertinya Bu Desi tak suka pada Cintya. Entah, mengapa Bu Desi tak menyukai Cintya. Mungkinkah karena Cintya tak menutup aurat dengan baik? Atau karena belum menjalankan kewajiban secara sempurna? Namun, bukankah semua itu bisa diperbaiki? Panji bertekad ingin menikahi Cintya karena dia berpikir nanti setelah resmi menjadi suami istri, akan membimbingnya menjadi lebih baik. Bukankah sebuah tantangan jika menikah dengan wanita yang agamanya masih belepotan? Bisa belajar bersama dari nol. Itu yang ada dalam ekspetasi Panji. “Panji,” panggil Bu Desi saat mereka bersama di suatu malam. “Iya, Bu.” Panji pun menaruh ponselnya dan menoleh pada sang ibu. “Kamu yakin mau menikah dengan Cintya?” tanya Bu Desi.

