Rasa
Selesai makan, Ika dan suaminya perlahan meninggalkan dapur, seolah memberi kesempatan bagi Ben dan Heni. Untuk sejenak, Ben duduk diam sambil terus minum tuak, seteguk demi seteguk. Heni hanya terpekur diam. Perempuan itu sedang memikirkan apa pendapat keluarganya nanti jika tahu ia dijodohkan dengan pemuda yang jauh lebih muda darinya.
Lamunan Heni tiba-tiba terhenti karena Ben beringsut bergerak mendekatinya. Mata pemuda itu menatap tajam padanya kini. Heni hanya membalasnya sebentar, bingung dengan sikap Ben yang hanya diam namun tiba-tiba sudah di sampingnya tanpa bicara sepatah kata pun.
Heni memalingkan wajahnya, tak lagi melihat Ben. "Heni...," Ben menyebut nama perempuan itu. Ujung jemarinya yang besar dan kasar membelai dagu Heni, memaksanya agar kembali memandangnya. "Iya...," jawabannya tercekat di tenggorokan. Pemuda yang kini telah sepenuhnya berada di bawah pengaruh tuak itu menyentuh bibirnya dengan jemarinya, membelainya sesaat seakan ingin tahu seperti apa rasanya. Gerakan ini mengirimkan sensasi hangat dalam d**a perempuan yang sudah lama tak disentuh seperti itu.
Mata Heni membara, Ben dapat melihat bahwa Heni menyukai disentuh seperti itu, maka ia memberanikan diri mendaratkan ciuman di bibir wanita yang dijodohkan untuknya itu. Mata Heni membesar, kemudian terdengar desah kenikmatan dari bibirnya dan ia membalas ciuman Ben dengan berani dan menuntut.
Refleks, jemari Ben pun mulai merayap, menyentuh p******a Heni. Keduanya kini saling menindih di atas kasur kecil yang ada di situ. Heni terus mengerang, merasakan sensasi kenikmatan yang diberikan Ben padanya. Keduanya seakan lupa diri di mana mereka berada.