Menilai

222 Kata
Menilai Kesan pertama yang didapat Ben adalah bahwa Heni lebih berumur darinya. Ia memang sudah diberitahu oleh suami Ika bahwa Heni adalah temannya Ika, itu berarti usianya pasti tak jauh berbeda dari Ika. Hanya terpaut beberapa tahun lebih muda dari Ika. Wanita jangkung berhidung mancung itu terlihat sangat ramping di mata Ben. Ia memperhatikan wajahnya yang tirus. Ia manis dengan senyum ramah yang tersungging di bibirnya ketika bersalaman dengannya. Tangannya dingin dan genggamannya terasa ringan dan ringkih dalam kepalan tangan Ben yang besar. "Ben!" Perkenalan itu singkat. Hanya dibalas Heni dengan anggukkan kecil tanpa menyebut namanya. Perempuan itu hanya menggosok hidungnya berkali-kali sebelum menerima piring makan yng diberikan oleh Ika padanya. Ben mengira mungkin wanita itu menyadari betapa muda usianya. Heni makan dalam diam sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah Ben. Tanpa sadar Ben bergerak-gerak tak tenang duduknya. Suami Ika menyodorkan tuak padanya, yang langsung diteguk Ben dengan penuh rasa terima kasih. Tuak itu membuat Ben menjadi agak "Sehari-hari kaka di kios kah? Banyak pelanggan?" Ben memberanikan diri bertanya. "Lumayanlah!" Jawaban Heni terdengar agak terlalu cepat sehingga menyebabkannya terbatuk-batuk. Ben menyodorkan segelas air putih padanya dengan sigap. Heni menerimanya malu-malu. "Terima kasih." Segera diteguknya untuk menghilangkan batuk. Heni merasa ia terlalu tua untuk Ben, maka ia tidak berselera untuk mengajak Ben bercerita. Ia lebih memilih mendengarkan saja percakapan Ika, suaminya dan Ben.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN