Sesi jam pelajaran kedua di kelas X-2 adalah Histori. Bu Hara meminta dua orang membentuk kelompok dan mempresentasikan salah satu materi yang ada di layar proyektor. Per kelompok dibekali tablet selama tugas berlangsung sampai selesai presentasi. Lana dan Mae memilih materi ‘Beragam Manusia Purba Di Dunia’.
Cewek dengan model rambut curtain itu menyipit sambil membaca materi di layar tablet. “Ardipiteus Ramidus ...,” gumamnya dengan keheranan.
Mae melirik nama manusia purba yang sedang Mae hapal. “Ardipithecus.”
“A-ardipitikus ....”
Mae menggeleng, jemarinya menunjuk nama di layar. “Pithecus.”
Mulut Lana bergejolak kesal. “Arrrrdiphiietus.”
“Ardipithecus, Na,” rajuk Mae.
“Heh, jangan bulli gue karena cara ngucap gue yang unik. Maap aja, gue terlalu fasih bahasa lain daripada bahasa manusia antah berantah kek gini,” lontar Lana emosi.
Mae menatap temannya itu dengan pasrah. “Ya udah, kamu bikin Power Point-nya aja, aku yang jadi pemateri.”
“Justru aku gak bisa bikin itu makanya aku milih jadi MC-nya,” rajuk Lana.
“Kalau gitu, coba bilang namanya yang bener. Ayo, coba lagi. Ardipithecus.”
Lana mengerang jengkel. “Ardityaaaa!”
“Berisik kamu!” terus Bu Hara. Selaku guru yang paling tua di SMA Meraki, dia juga menduduki jabatan sebagai guru bidang kesiswaan. “Nyebut nama manusia purba aja gak becus, gimana mau nyebut nama suami.”
Seisi kelas mengakak. “Yaaelah, Bu, beda konteks kali,” timpal Kinan.
“Si Lana apalnya nama cogan Korea, Bu!”
“Iya, Bu. Dari yang main film aksi sampe yang joget-joget apal semua dia, Bu.”
“Terus kenapa nama satu manusia purba aja susah banget ngomongnya?” timpal Bu Hara yang mendekati bangku Lana. “Ayo, ulang. Ardipithecus.”
“Ardipratomo!”
Kinan sampai runtuh dari bangkunya karena tubuh lemas terbawa komedi Lana. “Ardipratomo katanya ....”
Jam istirahat mulai, Lana berjalan ke kantin dengan badan lemas. Mae merangkul tangan cewek yang sedikit lebih tinggi darinya itu. “Ngapalin dua halaman materi aja kaya ngapalin materi sebuku, Na,” lontar Mae.
“Gue tuh emang musuh bebuyutan sama materi.”
“Terus, kok kamu bisa lulus SMP?”
“Nilai gue nilai kasihan dari guru ....”
Mae cemberut. “Kalau begitu, di SMA, kamu mesti rajin belajarnya, Na! Kita anak Meraki, loh! Masa nilai kamu masih segitu-segitu aja, gak ada kemajuan.”
“Bukan gak ada kemajuan, tapi udah mentok! Sori, ya, harusnya lo gak berpasangan sama gue, tapi guenya maksa,” seru Lana yang merajuk.
Mae menatap temannya panik. “U-udah, Na, jangan ngambek, dong. Malu, ih, kita diliatin!”
“Biarin aja, sirik lo sama kelemahan gue yang gak bisa belajar banyak-banyak, hah? Sirik lo semua?”
Cewek bersurai sepundak itu membekap mulut temannya. “Lana, aku malu, nih, serius, deh!”
“Kenapa dia?”
Mae dan Lana menoleh ke samping. Sabina dan Rudy berjalan beriringan bersama mereka. “Ngapain lo teriak-teriak, b**o,” kata Rudy yang memencet hidung Lana.
“Sakit, sakit, sakiiiit!”
“Lo kalau mau belajar, dateng ke rumah gue biar gue ajarin.”
“Gak mau, sekarang tuh gue lagi sibuk nonton T-map!”
“ITULAH KENAPA LO GAK BISA NGAPALIN MATERI!”
Mae terdiam menatap keakraban Lana dan Rudy, lalu memalingkan wajahnya ke Sabina. “Aku baru liat kamu. Nama aku Mae.”
Sabina mengangguk. “Sabina.”
Mae memperhatikan fitur wajah cewek berkepang itu. Cantik, ya, orangnya. Coba rambutnya digerai atau di kuncir ekor kuda gitu.
Sabina juga ikut menyelidiki Mae. Rambut sepundak keliatannya adem. Jadi pengen motong rambut.
Mereka berempat duduk bersama. “Sebego-begonya orang, gak mungkin lah sampe alergi sama materi. Pasti ada satu-dua pelajaran yang lo suka, Na,” kata Sabina.
“Pelajaran yang gue suka? Bahasa korea. Itu doang,” timpal Lana yang menyeruput pasta cream.
“Mungkin cara belajarnya yang masih salah,” sambung Mae yang menyeruput Mie Aceh.
Rudy tak peduli, dia fokus menyantap Okonomiyaki di piringnya.
“Bisa jadi. Gue kalau belajar lebih gampang pake teknik hapalan. Materinya gue baca ulang terus.” Sabina menunjukkan buku catatan yang sejak tadi dia tenteng. “Terus gue pake pulpen warna juga biar—“
“Iiih, cantik!” seru Lana yang langsung mengambil buku itu. “Kok bisa sih?”
“Kok bisa?” ulang Sabina terheran. “Emang lo gak bisa nulis?”
“Anying, maksud gue emang lo gak keder pake banyak warna begini?”
“Keder kalau lo asal pake banyak warna. Coba tentuin warnanya, misal pulpen merah buat catatan tambahan. Pulpen ijo buat istilah atau nama lain. Yang penting jangan sampe ketuker.”
Lana menggaruk kepala. “Kedengerannya ribet.”
“Emang, tapi lo bakal tau manfaatnya pas udah nyoba. Yaa, itu sih cara gue.”
“Kalau aku materinya direkam pake suara terus aku ulang-ulang terus,” ucap Mae.
Lana menaruh garpunya, lalu pikirannya sibuk menjelajah. Mendadak dia memukul meja, membuat ketiga temannya dan siswa lain yang duduk berdekatan tersentak. “Itu dia!” bentaknya dengan mata membulat.
“s****n, lo mau bikin gue keselek gelas?” lontar Rudy sambil menaruh gelasnya.
“Itu dia, Rud! Gue mesti nyari style belajar gue sendiri!”
“Hah?”
“Lo mau bantuin gue belajar, kan?”
Rudy menautkan alis. “Iya, sih, tapi maksud lo style tuh apaan?”
“Oh iya, Theo ngajakin gue sama Rudy belajar bareng tadi, lo mau ikut gak, Mae?”
Raut Mae berubah horor, dia menggeleng cepat. “Makasih, tapi aku mending belajar di rumah.”
“Ooh, ya udah. Sayang banget, loh, nanti kita dibeliin Pizza abis belajar.”
“Woey, kata siapa?” tukas Sabina.
❤️❣️❣️❣️❣️❤️
“Belajar bareng?” ulang Nova.
Mathan yang menyembulkan kepala dari balik jendela yang terbuka mengangguk. “Gimana?”
Nova memasukkan bukunya ke tas. “Gue sih oke-oke aja. Lah, katanya lo ada guru privat?”
“Ah, bosen gue belajar di rumah, pengen suasana baru.”
Nova mencibir. “Ya di cafe, lah. Kenapa di rumah gue?”
“Sekalian pengen ngobrol sama tante Gina.”
“Heh! Emak gua itu!”
“Cuma ngobrol doang, kok! Biasa aja ngapa mukanya, kaya gue bakal ngerebut posisi Om Ken aja.”
Cowok bersurai lurus model mangkok itu mengerutkan batang hidung. “Mending gue kabur dari rumah dari pada punya Bapak kaya lo.”
“Gak ada yang tau nasib kita bakal gimana, Nov. Bisa aja, kan?”
“Najis!”
“ASEM!”
“Heh! Katanya mau belajar bareng, jadi?” tanya Cecilia yang tiba-tiba nongol di belakang Matt.
“Jadi, di rumah Nova tapi.”
“Eh?” lontar Nova dan Cecil bersamaan.
Matt memberi senyum tipis. “Gak apa-apa kan, Cecil ikut? Dia kan temen kita.”
Nova melirik Cecil dengan risau. Cecil mendecak, melipat tangan. “Gue gak maksa, ya. Gue males tanggung jawab kalau lo kumat lagi,” timpal Cecil.
Sepaham Nova, cewek modis itu bermulut pedas, selalu mengejeknya ketika dia takut pada perempuan. Namun, Cecil selalu sadar tuk menjaga jarak aman. Baginya, cewek itu cewek pertama yang menoleransi traumanya.
“Boleh.”
Cecil dan Matt tertegun. “Yuklah, belajar bareng di rumah gue,” sambung Nova.
Matt menatap senang ke Cecil, terapi Nova udah ada kemajuan?
Cecilia memalingkan wajah. “Gue gak mau cemilan murahan.”
“Ya udah, mesen dewek,” cibir Nova.