Rudy membuka pintu rumah Lana. Seperti biasa rumah gadis itu kosong dan sepi. Orang tua Lana sudah lama bercerai. Ibunya terpaksa bekerja di luar negeri untuk menghidupi Lana dan dirinya. Makanya dia menitipkan putrinya ke sahabatnya—Mama Rudy—selagi dia pergi.
“Na, udah kelar belom?” tanya laki-laki itu, menyisir kondisi rumah yang lebih rapi dari biasanya. Mamanya pasti sudah membereskan rumah Lana saat mereka sekolah tadi.
“Tungguuu!” seru cewek itu dari balik kamar.
“Mau makan dulu gak di rumah gue?”
“Gaak, kan si Enon mau traktir nanti.”
“Itu pun kalau lo mau belajar.”
Lana keluar dari kamar. Rambutnya dikuncir ekor kuda lalu dikepang, diikat dengan karet jepang warna kuning. Dia memakai baju kodok jeans biru gelap dengan bagian bawah berupa rok selutut. Cewek itu juga memakai kaos pendek stripe putih pink sebagai dalaman.
Style cute itu sangat berlawanan dengan style Rudy yang hitam putih dengan kaos dan celana gunung selutut.
“Lo janji bakal bantuin gue belajar, kan?”
Rudy mengangguk. “Gue ada ide buat style belajar gue,” sambung Lana yang bertolak pinggang dengan raut serius.
“Gimana?”
“Lo.” Lana menunjuk Rudy dari tempatnya berdiri. “Style belajar gue adalah lo.”
Cowok dengan kantung mata itu mengerut dahi. “Maksudnya?”
“Bentar, gue pake sendal dulu.”
Mereka keluar dari rumah, Lana mengunci pintunya. “Gue tanyain temen-temen kelas gue abis makan di kantin. Cara belajar mereka kebanyakan sama. Terus, tadi gue sempet coba cara yang Sabina kasih. Sayang aja, pake pulpen warna warni malah bikin gue keder!”
Rudy yang berjalan bersisian dengan jalan raya mendengarkan. “Cara si Mae udah nyoba?”
“Nah, yang itu gue penasaran. Gue coba ngerekam suara gue sendiri, tapi gue malah ngakak pas dengerinnya,” kata Lana yang terkekeh sesaat. “Pen kayang, ngakak banget!”
“Terus, apa hubungannya sama gue?”
Lana menepuk tangan. “Coba lo yang ngomong.”
Cowok itu menekuk alis, masih belum paham. “Emang apa bedanya dengerin materi pake suara gue?”
“Gak tau, makanya mesti nyoba ini.”
Mereka sampai di apartemen Vernon, menaiki lift, lalu menekan bel pintu ruangan cowok spanyol itu. Pintu terbuka, kepalanya menyembul dari celah. “Loh, Sabina mana?” tanya Vernon.
Lana mengerjap. “Belom dateng dia?”
Theo membuka lebar pintu, Rudy langsung menutupi mata Lana ketika melihat tubuh cowok di depannya yang t*******g d**a. “b**o!” bentak Rudy.
“Apaan? Ada apaan?” kata Lana.
“Kenapa? Are you jealous?”
Tinggi Rudy dan Theo memang terpaut cukup jauh. Sebagai laki-laki tentu ada target body goals masing-masing. Kalau bisa jujur, tubuh Theo adalah bentuk yang ingin Rudy raih.
Iya, gue iri! Kenapa? Pikir Rudy murka.
“Masuk, gue pake baju dulu.”
“Enon t*******g? AWAS TANGAN LO, RUD!”
“KAGAK, ENAK AJA LO LIAT-LIAT AURAT ORANG!”
Theo yang memakai kaos polos bergumam, “Padahal lo yang gue ajak, tapi orang lain yang dateng.”
Di rumah Nova, Cecilia dan Mathan duduk di ruang tamu. Mathan melirik ke arah ambang pintu dapur. “Tante Gina mana, Nov?” tanyanya.
Nova menutup kulkas setelah mengeluarkan sekarton jus apel. “Lagi pergi arisan keluarga.”
“Yah, bilang dong! Nyesel gue dateng.”
“Idih, gatel amat lo sama tante-tante,” cibir Cecilia yang mengeluarkan buku catatan.
Gelas berisi jus apel dan sepiring kue kering ada di meja, mereka mendengarkan materi dari tablet Cecilia dan merangkumnya di buku catatan. “Gue rasa baru Meraki yang serajin ini bikin website sekolah sekaligus kasih akun penggunanya ke masing-masing murid,” kata Matt disela kegiatan mencatat.
“Iya, udah gitu kita bisa akses materi pelajaran minggu lalu dari website itu,” timpal Nova.
“Gue, sih, lebih penasaran ke Mommy Rossie. Kok dia sampe sebaik ini?” tanya Cecilia yang meraih kue.
“Mommy? Seakrab itu lo sama Miss Kepsek kita?”
“Dia gak keliatan setua itu loh.”
“Jaga mulut lo, bisa aja Bu Rossie naro alat penyadap di tas kita diem-diem buat mantau anak muridnya dari jauh,” lontar Nova.
“Kan gue cuma ngomong!”
“Dah lah, kok nge-gas lo berdua?” sela Matt.
Suasana kembali tenang. Mendadak Cecilia kembali bertanya. “Lo udah bisa deket sama Tante Gina?”
Nova berhenti menulis, mengangkat kepalanya menatap Cecilia yang duduk berjauhan. “Tante Gina gak jahat sama lo, kan?” sambung cewek modis itu.
Matt tersenyum diam-diam. Tuh kan, bener, lo khawatir.
“Alhamdulillah, dia baik sama gue dan gak maksa gue buat deketin dia atau sebaliknya.”
“Ooh,” gumam cewek itu seraya mengangguk, lalu kembali menulis. “Bagus, deh.”
❤️❣️❣️❣️❣️❤️
Di sisi jalan pemukiman yang sepi, Sabina menerima uang lembaran sejumlah empat juta, dia langsung memasukkannya ke tas yang mengitari pinggang. “Hutangnya udah lunas semua, ya, Pak. Makasih banyak.”
Si Bapak berjas di hadapannya tampak curiga. “Kamu bener bawahannya Mang Yono?”
Sabina mengangguk pelan. “Iya, Pak. Tanya aja sama si Mamang, punya nomernya, Kan?”
Bapak itu keluar dari mobil. Sabina melangkah mundur begitu si sopir yang berbadan gemuk menghampirinya dengan muka mengerut galak. Cewek itu merapatkan masker hitam yang menutupi dari hidung sampai dagu. Gue ngerasa gak enak, nih.
“Saya baru tau Mang Yono punya anak buah perempuan.” Bapak yang terlihat punya reputasi itu menelepon Mang Yono. “Hajar dia,” perintahnya ke si sopir.
Tubuh gemuk si sopir ternyata bukan halangan untuknya berkelahi. Pukulan yang pria itu layangkan memang bisa ditangkis Sabina, tapi cewek itu tak diberi kesempatan tuk menyerang. Telepon Mang Yono di angkat. “Ya, Pak Yusda?”
“Ooh, Mang. Saya udah bayar utang barusan ke anak cewek yang pake masker item. Itu anak buah Mamang?” tanya si Bapak yang tak menghentikan si sopir tuk terus melayangkan serangan.
“Iyaa, baru liat, ya? Dia udeh lama kerja jadi tukang pukul.”
Pak Yusda melirik Sabina dengan niat tersembunyi. “Tukang pukul? Emang di Momon minggat?”
“Ada, lagi bantuin jurik nagih ke CV.”
“Stop,” ujar Pak Yusda ke sopirnya. Si sopir berhenti, melepas genggaman tangannya yang meremas lengan Sabina. Cewek itu mengusap lengan sambil masih was-was.
Majikan si sopir selesai bertelepon. “Kamu kenapa mau kerja jadi tukang pukul? Orang tua kamu gak ada?”
Sabina tak menjawab. Dia sudah terlanjur gondok karena diserang tanpa alasan.
Bapak itu mengeluarkan kartu namanya. “Kalau kamu memang suka jadi tukang pukul, tapi pengen gaji lebih gede, telepon nomor di situ.”
Cewek berkuncir itu menatap Pak Yusda galak. “Kenapa Bapak butuh tukang pukul?”
“Kamu bakal tau nanti.” Pak Yusda menutup jendela mobil lalu pergi.
Sabina menarik maskernya ke bawah, mengatur napas yang tersengal. Dia menatap sekali lagi kartu nama yang diberikan. PT. Yusda Jaya. Dia membuang kartu itu ke aspal, lalu menginjaknya. “Kalau dikasih pilihan, gue pengen gak jadi tukang pukul lagi.”