Hottie

1403 Kata
Jam istirahat berlangsung, Sabina hendak menghampiri Theo, tapi meja cowok spanyol itu ditempati oleh siswi lain—beserta Cecil— yang sedang asik mengobrol dengannya. Mendapati wajah tawanya, Sabina menghela napas. Gue pikir tu anak bakal murung seharian gara-gara Bapaknya, tapi dia dah ketawa ketiwi, tuh. Sabina menyisir meja lain, mencari tempat duduk dan berjalan menjauh. Vernon mengerlingkan mata ke cewek berkepang itu. “Theo, gue pernah liat abang lo di parkiran dan giiila! Dia hot baaanget!” ujar salah satu siswi yang duduk di dekatnya. “Theo punya abang?” tanya Cecil dengan penasaran. Theo terkekeh. “I have. Hermano muy cariñoso ( abang yang sangat penyayang).” Dua orang dari siswi di meja itu terkesiap kagum. “Artinya apaan tuh?” “Abang gue ngeselin.” Sabina bergabung ke meja Mae yang makan sendiri karena Lana dan Rudy masih dikelas sedang belajar bersama. “Boleh gue makan di sini?” Mae mengangguk. “Silakan.” Kedua siswi itu sama-sama menyantap nasi kuning. Awalnya tidak ada obrolan terlontar dari masing-masing. Mae hanya tau Sabina sekelas dengan Rudy, begitupun sebaliknya. Tidak lebih dari itu. Sabina melirik tempat pensil dan buku binder yang ada di sebelah Mae. BIindernya diberi sampul kain berwarna latte dan ada jahitan bunga di ujung bawah sebelah kirinya. Bentuk tempat pensil kainnya persegi panjang, perpaduan warna biru teal dan bordiran putih. Mae menyadari arah tatapan Bina. “Ini dua-duanya aku yang bikin.” Bina mengangguk seraya mengunyah. “Tempat pensilnya cantik.” “Liat, deh, bindernya “ Mae membuka binder, isinya ada tablet di sebelah kanan, dua pulpen, penghapus dan satu pensil di tengah, lalu HVS berukuran b5 di sebelah kiri. Tangannya menggeser sampul tablet itu ke arah Sabina. “Ini sampul tablet? Gue kira binder.” Atensi sabina terpaut pada gambar baju dan orang yang mengenakannya di tumpukan kertas HVS. “Lo anak design?” “Iya. Kata kamu gimana sampul tabletnya?” “Bagus banget. Lo gak ribet bikin beginian?” Mae menyuap nasi. “Pertamanya ribet pas tentuin tata letak pulpen sama HVS-nya, tapi Ibu aku kasih saran pulpen sama pensilnya di sangkutin di tengah.” Sabina mengangguk-angguk. “Ibu lo kreatif, ya,” balasnya yang refleks tersenyum. Mae ikut tersenyum. Dia anaknya ramah, toh. Gue pertamanya ngira dia galak. “Oi,” ujar seseorang. Sabina dan Mae menoleh ke arah samping, mendapati Audrey dengan mata memicing ke cewek bersurai sepundak itu. Mae membelalak. I-ini-ini yang galak itu, kan, ya? Si Audrey dari kelas X-3. “Y-ya?” kata Mae mulai ngeri, apalagi mengingat cewek dengan t**i lalat di pipi itu pernah menjahati Nova. “Itu beli di mana?” kata Audrey dengan mata bergeser ke sampul tablet. “Berapa harganya?” Cewek dengan mata besar itu mengerjap. “Ini gak dijual ....” Audrey menukik alis ke bawah. “Hah?” “Itu dia bikin sendiri,” balas Sabina membantu Mae karena dia tau cewek di hadapannya takut pada Audrey. Cewek dengan tanda lahir di pipi itu bertanya. “Lo bisa bikinin buat gue?” ❤️❣️❣️❣️❣️❤️ “Nov!” Cowok dengan surai lurus dengan model potongan mangkok itu menoleh ke belakang, mendapati Matthan berlari ke arahnya. Jam sekolah sudah usai, tapi berhubung ujian semakin dekat, banyak dari mereka yang belajar kelompok di kelas kosong atau bangku area taman, aula dan kantin. “Cecil ngajakin belajar bareng di kantin. Lo ikut, kan?” “Siapa lagi yang ikut?” “Ada dua lagi dari kelas sebelah. Namanya Lana sama Rudy.” Dia mengenal Lana, cewek itu memang bar-bar, tapi semenjak saat itu, Lana memang menjaga jarak dan jarang mengajaknya bicara. Kalau Rudy .... “Ya udah.” Gue mesti sembuh dari trauma ini, jadi gue gak mau menjauh lagi kalau ada cewek di sekitar. Mereka duduk di meja di tepi kantin, spot yang dekat dengan rerumputan berbentuk petak yang berjejer sebagai pagar dan ada wastafel dari batu di luarnya. Ternyata bukan hanya Lana dan Rudy, Mae juga duduk di sebelah Rudy. Cewek tu melambai tersenyum pada Nova. Nova mengerjap kaku. Mathan yang untungnya peka mengangkat tangan Nova dan melambaikannya ke Mae. “Et, dah. Disapa balik, dong. Hai, manis.” “Lo punya malu gak, sih?” cibir Nova. “Bacot, ah.” Matt duduk di sebelah Cecil, dan Nova duduk di sebelah Matt. Di hadapan mereka Lana duduk paling kiri, disusul Rudy, dan Mae. “Okeeeh! Kan kalau banyak cewek gini, jadi semangat belajarnya,” seru Matt yang mengeluarkan buku dari tas. Rudy mendelik jengkel. “Eits, tenang, bro. Gue gak bakal godain cewek lo,” jelas Matt yang tersenyum miring, memamerkan lesung pipi. “Apaan, sih, dibilang gue bukan ceweknya,” kata Lana yang mengerucutkan bibir. Matt mengerling. “Oh, bukan?” Merasakan insting lawan, Rudy merapatkan bahu cewek di sebelahnya. Cecil yang melihat itu menganga dan memekik gemas. “Owww, ada yang jelous!” Lana yang sudah biasa dengan sikap Rudy yang overprotektif ini hanya menghela napas panjang. “Padahal gue bukan burung, tapi gue dikurung,” gumamnya datar. Nova menempeleng si buaya darat. “Katanya mau belajar, ngapa malah ngemodus?” “Aww, gue cuma ngomong doooang!” Mae memilih tuk tak melihat Rudy dan Lana dan membuka buku catatannya. “Mau ngebahas apa, nih?” “Gue pengen Matematik,” lontar Lana. “Gue juga Matematik,” kata Matt. “Geologi,” lanjut Cecil dan Nova. “Histori ....” gumam Mae. Matt mengoreksi. “Kalau gitu gue Histori aja.” Kali ini Cecil mencubit buaya darat. Matt teriak sambil mengusap tangannya. “Sakit, nenek lampir!” “Bisa gak sih sehari aja, lo kagak ngalus gitu?” bentak cewek modis itu. “Suka-suka gue, dong. Napa lo jeles?” Cecil meraung. “Najis!” “Yaudah, kalau gitu kita tulis aja di potongan kertas, terus nanti ditangkup di tangan, terus digoyang-goyangin sampe ada kertas yang keluar. Kayak arisan gitu.” “Arisan?” delik Cecil. “Apaan tuh?” “Baru denger. Itu game apa?” tanya Mae. Lana mengusap wajah. “Gue lupa kalian pada tajir semua. Duuuh, miris banget gue.” Di saat yang sama, di tempat lain, Sabina keluar dari g**g kontrakan rumahnya dalam penyamaran, hendak menuju rumah Yono tuk menerima kerjaan selanjutnya. Mendadak seseorang meraih lengannya dari samping. Sabina merasa terancam, hampir melayangkan tinjuan, tapi dia mematung, membelalak melihat Theo di sana. Cowok spanyol itu melebarkan senyum. “Hello, there. Akhirnya gue bisa ngeliat lo lagi.” Theodore?  dia udah tau kalau gue Sabina?  Bentaknya dalam batin. “Lagi sibuk?” Sabina menarik tangannya, lalu berjalan cepat menjauhi Theo. Cowok itu tidak berhenti, dia mengekori Sabina. Cewek itu pun berbalik mendadak, membuat kepalanya membentur tubuh Theo. “Ops, sorry. Gak apa-apa?” Sabina menatap galak. Theo tertawa singkat. “Gue cuma mau ngobrol sebentar aja sama lo. Kayaknya lo orang asik.” Kayaknya dia belom tau, tapi tetep aja gue gak bisa ngeladenin dia kalau lagi begini! Mendapati ekspresi risih dari cewek bermasker hitam itu, Vernon berkata, “Lo lagi mau nagih duit orang lagi?” Sabina membelalak sambil bertanya-tanya. “Cowok yang kemaren teriak katanya lo rampok ceweknya, terus lo bilang itu duit utang.” Sialan, dia denger suara gue waktu itu! Rutuk Sabina yang semakin merasa was-was. “Oke, gue gak mau ganggu lo kerja, so, lain kali aja, deh.” Theo memberi senyum terakhir sebelum dia pergi menghampiri motornya yang diparkir di depan warung. Saat cowok itu pergi, Bina menghela napas lega. “Giiiiiila! Kaget sampe pengen mati gue, s****n. Itu anak nongol dari mana coba?” “Siapa?” Sabina sukses memekik singkat sambil berbalik. “Et, Jurik!” “Tadi siapa?” Mendapati nada kecurigaan, Sabina menampilkan wajah biasanya. “Gak tau, gak kenal. Mang Yono nyariin, ya?” “Iya! Lo lama baaanget, sih, dandannya! Cuma make item-item dimata doang sampe setengah jam!” “Itu eyeliner namanya, norak,” balas Sabina. “Bodo, ah! Mamang nyuruh gue nemenin lo nagih. Dia lagi sibuk main sama Putri makanya gak bisa nemenin lo,” jelas Jurik yang menyebut satu-satunya nama anak Yono. “Kalo gitu, lo yang nagihin.” “Dih, asem banget, lo. Lo lah yang nagih.” Jurik melingkarkan lengannya di bahu Sabina dari belakang. “ Entar kall ada yang macem-macem sama lo, gue yang bales. Begooono.” Sabina kemudian membenturkan belakang kepalanya sampai meninju batang hidung Jurik. “Jangan deket-deket gue,” tegas cewek berkuncir itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN