H-4

1348 Kata
Soundtrack list : (Ini cuma rekomendasi, siapa tau suka dengerin musik pas baca cerita❣️) K-Pop : Treasure - I Love You, Boy, Mmm, sama My Treasure (semuanya enak, sih, hehe) Btob - Remember That, It's Okay, Butterfly IU - Blueming, Eight, Pallete Day6 - Beautiful feelings Akmu - Freedom Sisanya menyusul, yaaa ♥️❣️❣️❣️❣️♥️ Masih dengan rasa sebal, Lana curhat dengan Mae malamnya lewat telepon WA. Dia menjelaskan kejadiannya, tapi Mae malah mengomelinya. “Kamunya juga ngapain ngejar dia?” Lana yang duduk di kasur sambil mengipasi diri dengan kipas plastik bergambar wajah Park Jihoon Treasure itu mengerut alis. “Ya gue kejar, lah! Kan kita mesti ngomong mau bawain lagu apa!” protesnya. “Eh, iya, sih. Aku gak nyalahin kamu, Na, tapi aku gak bisa bilang kalau Nova salah,” tutur Mae di seberang. “Kenapa?” “Soalnya ....” Nova kan takut sama cewek, gak mungkin aku kasih tau itu. Aku sendiri aja gak yakin itu bener apa enggak, batin Mae yang menatap gambar desain baju miliknya di meja belajar. “Kenapaaa?” ulang Lana. “Kalau dari yang kamu ceritain, kayaknya dia males sama kamu karena kamunya gak nanya dia mau sekelompok apa enggak.” Lana terdiam dengan mulut setengah terbuka. “Iya, sih ... gue gak nanya soal itu.” “Naah, kan?” Cewek penggila Kpop itu mengangguk pelan. “Harusnya gue minta maap, ya ....” Mae mengangguk. “Betul. Oh iya, lain kali, kalau mau ngomong sama dia agak jauhan aja. Mungkin, dia masih kesel gara-gara lo bentak kemaren.” Lana tidak begitu paham, tapi dia mengiyakan. Kemudian, keesokan paginya, Lana mengikuti omongan Mae. “Nova.” Nova yang baru mau duduk di bangku dengan was-was menoleh ke belakang, mendapati Lana yang berdiri di depan kelas, jauh darinya. Cowok itu masih agak takut dengan Lana, jadi dia melangkah mundur perlahan. “Heh, tunggu! Gue gak bakal deketin lo, kok.” Cowok dengan gaya rambut mangkok itu mengerjap, berhenti sebelum melewati bangku terakhir. Kelas tidak begitu ramai, namun ada siswa sekelas yang menonton kejadian kemarin memperhatikan mereka dengan penasaran. “Gue minta maaf udah seenaknya ngomong ke Kakak pembina kalau kita sekelompok.” Lana bergerak gelisah karena tidak biasa meminta maaf. “Gue pengen sekelompok sama lo soalnya. Gue takut lo sekelompok sama yang lain.” Nova mengurangi rasa waspadanya. “K-kenapa gue?” tanyanya. “Karena lo jago main piano. Dan juga ... Rudy bilang, kalau sama lo, gak apa-apa, dibanding gue sekelompok sama Kakel yang itu.” Nova setengah tidak paham. Rudy siapa? Kakel yang mana yang dia maksud? “Pokoknya, gue yakin kita bisa bikin mereka kagum. Jadi ... Erm ... gak apa-apa, kan, kita sekelompok?” Lana mengigit bibirnya berharap Nova tidak menolak. Mae yang baru saja hendak masuk ke kelas, bersitatap dengan Nova. Cewek itu tersenyum sambil berlalu ke bangkunya. Cowok itu akhirnya mengangguk. “Oke. Gak apa-apa.” Lana spontan hendak mendekat. “Waaaa, Nova—“ “Ta-tapi gue pengen lo gak deket-deket selama kita latihan!” “Eeeeeh!” Lana cemberut. “Yaudah, deh.” Tugas klub selesai, Lana memamerkan rekaman penampilan singkatnya dengan Nova di ruang Klub seni di status WA di minggu selanjutnya. Mae menonton status Lana, tanpa sadar dia terus mengulangnya dengan mata terpaku pada si pianis. ♥️❣️❣️❣️❣️♥️ Empat hari lagi ujian dimulai. Fakta itu dinanti sekaligus ditolak oleh murid SMA Meraki. Mereka menanti hadiahnya tapi tidak dengan ujiannya. Kinan melongo di tempatnya duduk dengan buku catatan di meja, sedang mendengarkan materi dari video di website sekolah menggunakan earphone. Nova mengerjap ngeri, melambaikan tangan di depan mata cowok yang lunglai itu. “Nan, lo sehat?” “Kerangka manusia yang ditemukan di Indonesia bernama Homo Erectus Sangiran 17 dan—“ “Udah rusak ternyata,” sela Nova yang duduk menghadap Kinan. Cowok dengan hooded eye itu menjauhkan punggung dari sandaran bangku. “Gue gak ngerti lagi, semakin gue hapal gue malah semakin susah ngingetnya ....” “Lo nya maksa banget kali. Setiap hari dari pagi sampe malem belajar terus,” balas Nova yang memangku dagu. Kinan mengusap matanya. “Ya terus gimana lagi, njir. Gue pengen banget dapet kupon gratisnya.” Disisi ruangan yang lain, Lana mendadak menjadi rajin. Dia mengerjakan tes bonus di tablet sekolah sebelum pelajaran mulai. Rautnya tidak kusut seperti Kinan, tapi dia terlihat mengebu-ngebu dan berapi-api. Mae yang melewati bangku temannya itu terdiam, mengucek mata dengan tidak percaya. “Loh? La-lana?” “Hmm, ngapa?” balas cewek bersurai lebih panjang dari Mae itu tanpa berpaling dari layar tablet. Cewek berwajah gembil itu menatap layar dengan keterkejutan yang berlebih. “Aku pikir kemarin pas kamu nanyain soal tes bonus di tablet itu cuma bercanda. Kamu beneran kerjain tes bonusnya?” “Ya, abis si Rudy gak mau ngetes apalan gue, padahal gue di ajarin dia.” Kinan yang mendengar dari jauh menatap Lana ngeri. “Itu anak abis dirukiah kali ya? Masa mendadak jadi orang bener begitu ....” “Heh, gue denger ya!” bentak Lana tanpa mengalihkan mata. Kalau gue tau cara begini bisa bikin gue hapal, kenapa gak gue coba dari SMP, ya? Eh, pas SMP, sekolah gue sama Rudy beda, kan. Berhubung materi mereka sama, Rudy menjabarkan materi lalu merekamnya untuk Lana. Lalu, cewek itu mendengarnya sambil membaca catatan. Ditambah, Rudy juga mengetes ingatan cewek itu seusai mereka makan sore di rumahnya. “Gue gak tau kenapa, tapi suara Rudy tuh gampang diinget. Mungkin karena gue sahabatan sama dia dari lama kali, ya? Pas dengerin dia jabarin materi, rasanya kaya ngobrol biasa,” kata Lana sambil menulis jawaban essay di tablet. Mae mengerjap menatap Lana. Mereka sahabatan dari lama .... “Pastes kamu ngerjainnya semangat banget, Na. Ternyata karena diajarin Rudy, toh.” “Enggak lah. Gue baru tau kalau ngerjain tes ini bisa dapet duit, makanya gue ngerjain. Gue pengen beli album Treasure, tau! Demi Haruto dan abang-abang Terejo, gue rela bersusah payah ngumpulin duit! Itu baru yang namanya Teume sejati!” seru Lana dengan mengepalkan kedua tangan di udara. Mae menatap temannya malas. “Oh, karena cowok-cowok bening itu.” “Geokjeong ma, Han beon deo tteugeobge useojweo! Heeey, Tteugeobge!” lantun cewek itu sambil menggerakkan bagian atas badannya sesuai tarian. Lana yang mengalihkan pandang ke arah pintu melihat sosok tinggi Theo melintas. Matanya membelalak. “Loh, Theo kenapa itu?” gumamnya bingung. Cowok itu masuk ke kelas, duduk dengan santai tak memedulikan tatapan teman kelasnya yang penasaran pada luka lebam di tulang pipinya. Cecil langsung menghampiri cowok Spanyol itu. “Theo, pipi lo kenapa?” tanyanya setengah takut karena wajah Theo cukup seram karena marah. Theo langsung mengubah ekspresinya dengan tersenyum tipis. “Ini? Habis kepentok pintu.” “Mau aku obatin?” “Modus, moduuuus!” seru Mathan dari belakang. Cecil menatap galak. “Bacot lo, Cekiber!” Dia menyentuh luka itu, kemudian meringis. “Sh*t, pagi-pagi udah ngehancurin mood gue itu orang,” cibirnya mengingat si Ayah kandung yang tadi main ke rumah saat dia dan Sabina sarapan. Si Ayah datang dan langsung menonjok putra keduanya karena tidak datang ke acara penting beberapa minggu lalu. “Padahal aku sudah bersusah payah membujuk Isabelle ke Indonesia untuk bertemu denganmu, tapi kau tidak datang. Begitu balasanmu padaku yang sudah membiarkanmu sekolah di sini?” omel Ayahnya dalam bahasa Spanyol. Sabina yang menyaksikan langsung berdiri dari tempatnya duduk dan menjauh dari pertengkaran Ayah dan Anak itu. Victor yang juga ada di pun mengantar Sabina sekolah agar Ayahnya tidak melampiaskan kemarahannya ke orang lain. Theo yang masih berdiri mematung perlahan menyentuh pipinya yang nyeri, lalu matanya menatap sinis si Ayah. “Buat apa aku datang menemui wanita yang bahkan bukan Ibuku?” Sebelum pria dengan rambut tersisir rapi itu kembali menonjok, Vernon berhasil menahan tangannya. “Jangan datang ke sini lain kali. Keluarga yang kau bangun dulu tidak akan bisa kembali. Sekeras apa pun kau memaksaku untuk menerima wanita itu, kita tidak bisa jadi keluarga seperti dulu lagi.” Vernon mengibaskan tangan Ayahnya. “Camkan itu, Dad.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN