Timun Mas

1148 Kata
Tepat setelah berakhirnya pelajaran di hari kamis itu, seluruh murid diperkenankan mendatangi ruang Klub yang dituju sebelum pulang sekolah. Di Klub Seni, sub Musik, Lana dan Nova sedang menyimak ucapan pembina Musik, Kak Felly. Siswi kelas sebelas itu mengabsen empat murid yang tertarik untuk mempelajari Musik. “Choi Lana?” Lana mengangkat tangan seraya tersenyum lebar. “Saya, kak,” balasnya dengan lantang. Kakel cowok yang Lana gemari tertawa gemas. Imut banget, si adek kelas. Untung dia masuk sini. Nama Nova disebut, dia hanya mengangkat tangan dalam hening. Lana melirik cowok pendiam itu. Loh, dia ke sini juga? Di saat yang sama, Matthan dan Audrey berkumpul di seberang sub Klub Musik, menyimak Kak Joe selaku pembina sub Klub Drama.  “Oke, pertama-tama, aku ucapin selamat datang untuk adek-adek kelas sepuluh yang sudah minta masuk sub Klub Drama. Karena baru hari pertama, aku mau liat dong, keseriusan kalian dalam berakting.” Mathan dan Audrey mendelik. Kak Joe tertawa kecil, tangannya meraih selembar naskah drama singkat untuk dua orang, membagikannya ke anggota baru. Audrey membaca naskah itu dengan datar. Mathan tiba-tiba mendengus. “Adegan Timun mas yang lari dari Raksasa?” “Karena ganjil, jadi salah seorang dari kalian bakal main sama aku. Gimana? Ada yang mau maju duluan?” Audrey ragu, Kak Joe tidak memberikan waktu untuk menghafal. Dia ingin melihat sepintar apa anggota baru dalam berimprovisasi. Namun, cewek itu berdiri. Toh, gue dah sering berpura-pura. “Aku, kak.” Mathan melirik Audrey, dia langsung berdiri. “Aku juga.” Kak Joe tersenyum puas. “Naik ke panggung.” Di bagian sub Klub Musik, Nova duduk di bangku, menghadap tuts putih-hitam piano. Dia tidak gemetar, tidak juga gugup karena piano adalah sahabat baiknya. Jemari mulai menekan tuts di area kanan tangannya, lalu bergeser ke tuts bernada rendah. Lana langsung tau lagu apa yang cowok itu lantunkan lewat piano. “Nocturne op. 9 nomer 2, Frederic Chopin ...,” gumamnya. Audrey yang tengah memerankan timun mas yang dikejar oleh raksasa—si Mathan—teralihkan ke lantunan piano itu. Dia kembali fokus begitu tau Nova yang memainkannya. Di ruangan sebelah, klub Design, Rudy sedang duel gambar cepat dengan kakak kelas di sana. Bermodal pensil 2B dan 6B, dia bermain menarik garis, mengarsir, menggores dengan halus ke atas kertas putih ukuran 3A. Kakak seniornya menggambar karakter pria kekar bertema half cybord, di mana tangan dan kaki orang yang dia gambar diganti oleh mesin. Berbeda dengan Rudy yang menggambar karakter perempuan elf. Di seberang ruangan Klub Desain, Mae juga menggambar desain baju musim dingin bertema Newtro. Ih, aku taunya retro doang! Sabina dan Vernon menyimak presentasi yang dibawakan pembina klub Administrasi soal perusahaan yang bangkrut dan penyebabnya. Cecilia ikut menyimak—menyimak keheningan Vernon dari samping. Kak Farhah—pembina sub klub Hukum—menggebrak meja cewek centil itu. “Kamu nyimak, nggak?” Cecil mengusap d**a. “I-iya kok, kak. Aku nyimak,” “Oooh, kalau gitu coba kamu yang lanjutin presentasi,” ucap Kak Farhah, memperbaiki letak kacamatanya. Kak Ray selaku pembina sub Klub Bisnis menghela napas. “Tolong jangan gangguin anggota baru gue. Mentang-mentang belom dapet anggota baru.” Kak Farhah menyinyir. “Lo sombong ya, anak-anak lebih suka bisnis dari pada Hukum?” Vernon mendengkus. Sabina meliriknya. “Gue pikir lo masuk klub Atletik.” Cowok Spanyol itu berpaling. “Why? Badan gue bagus ya? Gue sering pake gym punya kakak di Spanyol.” Cewek berkepang itu merotasikan mata. “F*ck boy elite.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Hari sudah berada di penghujung petang. Sabina harusnya sudah di rumah jam segini, tapi dia baru keluar dari gerbang sekolah. Cewek itu melirik Audrey yang emosi dengan Nova. Sontak cewek yang geram itu mengangkat tangannya, merampas Hp cowok itu lalu melemparnya asal ke arah Sabina. Sabina bergerak reflek melihat Hp itu dan menangkapnya. Audrey kini menatap sinis padanya. “Mau apa lo? Sok jadi pahlawan?” Cewek berkepang itu berjalan mendekat, matanya dengan jelas menatap Nova yang memeluk tas dan menutupi wajahnya berdiri dengan goyah. Ini cewek serem banget ya? Sampe gemeteran tu cowok. “Gue denger kalau sekolah bakal ngeluarin murid yang suka ngebully.” Sabina berdiri menghadap Audrey, tak takut membalas pelototannya. “Lo mau gue laporin?” Suara klakson mobil terdengar dari luar. Audrey mengirip tatapan membunuh pada Nova sebelum akhirnya melangkah pergi menghampiri supirnya. “Non, tadi papi bilang pulangnya bareng Dek Nova,” “Dia udah pulang sama temennya,” balas Audrey ketus sambil masuk ke mobil. Cowok berambut mangkok itu menyingkirkan sedikit tasnya dari wajah, dia kaget melihat Sabina yang masih ada di sana. Sabina menyodorkan HP Nova. “Pacar lo galak banget, sih.” “B-bukan ...,” gumam Nova menggeleng, dia ingin mengambil HP nya tapi jarak mereka terlalu dekat bagi cowok itu. Sabina agak memiringkan kepala, berkedip bingung. “Ini HP lo.” Nova membuka tasnya, melangkah mundur sedikit, lalu menyodorkan mulut tas ke arah Sabina. Cewek itu mengerjap heran, lalu menaruh HP Nova masuk ke tas cowok di depannya. Secepat serangga terbang, Nova menutup tasnya lalu berlari pergi. Cewek itu menautkan alis. “Gue nggak serem kok.” Dia sadar dia sudah sangat terlambat, maka dari itu dia berlari sampai rumah, melihat si rentenir dan anak buahnya yang dipanggil Dudung sudah berdiri di depan kontrakan. “Lama banget lo, Ah!” bentak laki-laki tiga puluhan yang cungkring, berkulit gosong dan rambut sepundak yang bergelombang dari balik topi pemancing. Dia memang terlihat yang paling lemah, memang bukan tugas dia untuk memukul orang. Dudung hanya pengurus arus masuk dan keluar uang pinjaman. Sabina mengangkat tangannya, membuat Dudung ngibrit bersembunyi di balik tubuh kekar si rentenir. “Maju sini! Takut kan lo!” adu laki-laki cungkring itu. “Baru pulang dari mana lagi sekarang?” tanya si rentenir. “Dari sekolah. Hari ini pelajarannya banyak.” Sabina langsung masuk menghindari pertanyaan lain. “Perasaan bocah-bocah laen sekolah kagak lama amat pulangnya,” gumam Yono—si Rentenir. “Dia pacaran dulu kali, mang.” Yono mengangguk-angguk. “Kemaren dia pulang di anter cowok. Udah gitu pake mobil mahal lagi.” Dudung menjentikkan jari, menyingkir dari punggung bosnya. “Dia pasti mau pelorotin tu cowok buat bayar utang dia.” “Ya, bagus lah kalau begitu tujuannya pacaran. Kalo utangnya lunas, kan dia untung, gue juga untung.” HP kuno milik Dudung mendendangkan ringtone lagu dangdut. Dia langsung mengangkatnya dan berbicara. Tak lama dia berkata ke Yono sambil berbisik. “Mang, kiriman kita udah mau nyampe.” Yono menghisap rokoknya yang sudah pendek, lalu menjatuhkannya ke aspal lalu diinjak. “Ntar malem begadang nih kita. Barang kaya gini mesti cepet diedarin.” “Oh tenaang, mang, kurir kita kan udah berpengalaman,” balas Dudung menyengir memamerkan lubang di tengah deretan gigi depannya. Yono tertawa. “Lima tahun jual g***a, duitnya dijadiin pinjeman, balik ke kita udah berlipat ganda, terus kita jualan lagi. Duit banyak, istri gue hepi.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN