Lana mampir ke rumah Rudy saat laki-laki itu sedang menatap hasil gambar cepatnya di klub tadi. Cewek itu masuk ke kamarnya usai bersalam pada si bunda. “Dy, numpang download.” Tanpa menunggu persetujuan, Lana langsung lompat ke kasur, merebahkan diri dan melakukan kegiatannya.
Rudy meliriknya sebentar, kembali ke gambarnya. Lana memang biasa datang ke rumahnya untuk menumpang wifi. Entah itu menonton V-live atau mendownload Variety show korea. Pernah sampai gadis itu tidak pulang ke rumah dan tertidur di karpet kamarnya.
“Oh iya, tadi gimana di Klub lo?” tanya Rudy.
“Hmm? Seru, kok. Gue tadi duet sama Kak Lorey.”
Rudy mengernyit. “Dia kakel yang waktu itu ngerangkul lo?”
“Ha? Aaah, iya itu dia.”
Cowok itu mulai jengkel. “Lo nggak lupa, kan, apa yang gue bilangin waktu itu?”
Lana mendecak, membalik badan memunggungi Rudy lalu menggaruk b****g celananya. “Iyaaaa, engkooong. Gue juga nggak segitu demennya sama dia. Cuma suka suaranya doang.”
“Ada yang lo kenal dan satu Klub sama lo?”
Lana ber-hmm. “Ada Nova. Dia ngambil ke alat musiknya sih, bukan tarik suara.”
Rudy meraih pena berujung tipis di laci meja, berniat mempertebal garis luar gambarnya. “Nova tuh ... yang pendiam itu ya?”
Cewek itu menoleh sejenak. Masih pendiem lo sih sebenarnya. “Yaaa, anaknya kalem sih. Cuma agak aneh aja gitu. Pas gue pengen ajak ngobrol di kelas dia malah diem, gue deketin di kantin, dia pergi.”
Cowok yang diajak berbincang sedang fokus pada mahakaryanya hingga hanya menjawab dengan gumaman. Lana melanjutkan. “Oh iya, dia sempet berantem gitu sama anak sebelah, gue nggak liat sih, tapi dia nangis dah kayaknya.”
“Maen tonjok-tonjokkan?” lontar Rudy mulai tertarik.
“Kayaknya iya. Mukanya sampe ditutupin jaket gitu, hari selasa kemaren. Kasian loh padahal, dia nggak punya temen di kelas. Lo sama dia kayaknya bakal akur, Dy.”
Rudy mendengus. Dia ngomong gini maksudnya biar gue nyari temen gitu? Yaelaah, ngapain temen banyak-banyak. Yang gue butuhin cuma Lana.
Cowok itu selesai merevisi gambarnya sejam kemudian. Senyumnya lebar menatap puas hasil coretan jemari dan imajinasinya. Mata melirik jam. “Udah jam setengah sebelas.”
Rudy bangun dari kursi, lalu terdiam melihat Lana—masih dengan baju seragam—tidur nyenyak di kasur sambil mendengar lagu Kpop.
Matanya setengah redup menatap cewek yang terpulas di depannya sambil memeluk bantal dengan sarung bergambar Mikasa serta pedangnya. Kalau Rudy adalah Kakel genit klub musik, dia bakal berbuat jahil pada cewek itu. Namun, Rudy tidak.
Dia menggaruk kepala. “Hahhhh.” Menarik selimut yang ditindih Lana, lalu keluar dari kamar, merebahkan diri di sofa ruang tengah.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Sabina memejamkan mata. Seorang pria dengan wajah bonyok telentang di lantai kontrakannya, tak sadarkan diri setelah cewek itu banting. Si rentenir, Yono dan Dudung kini sedang menginterogasi wanita yang merupakan istri si pria malang itu.
Suara tamparan yang memekakkan kembali terdengar, Sabina mengepalkan tangan menahan rasa marah yang memenuhi paru-paru. Bayar! Bayar utangnya! Kalo lo bayar utangnya sekarang, gue gak bakal dateng dan nonjokin laki lo lagi dan lo nggak bakal ditamparin begini terus! Batin cewek itu.
Wanita berusia akhir dua puluhan itu menangis sesengukan dalam baju daster ungu. Kedua tangannya di tahan oleh Dudung di belakang, sementara dia duduk berlutut di hadapan Yono, mempersilakan rentenir itu terus menamparnya bolak-balik. “Mana duitnya, Haaaah?!” raung Yono tak sabar.
Wanita itu menggeleng kuat habis menerima tamparan lagi. Dua bahkan sudah tak sanggup membalas karena takut. Sabina meraih tangan Yono yang hendak menampar lagi. “Bang, utangnya berapa emangnya?”
“Sepuluh juta. Ngapa? Lo mau bayarin?” Yono melotot pada Sabina.
Sabina menatap wanita itu dan pria yang tersungkur di lantai. Dilihat dari pakaian dan kontrakan mereka saja sudah jelas terlihat kalau mereka sedang krisis keuangan dan belum bisa membayar hutang. “Ibu yakin nggak ada duit sama sekali?” tanyanya dari balik masker.
Wanita itu mengatur napas agar tenang dan bisa membalas. “Sepuluh juta nggak ada, neng, tapi kalau dikasih waktu tiga bulan lagi buat ganti, saya janji bisa balikin semuanya.”
Yono kembali emosi, menarik tangannya dari Sabina. “Tiga bulan lagi kata lo? Kemaren aja dua tahun kagak kebayar! Terus gue disuruh nunggu tiga bulan lagi?!”
“Bang! Setengah utangnya gue yang bayar!” bentak Sabina menahan lengan pria yang hendak menonjoknya itu.
Dudung mendelik. “Lah, ngaco lo!”
Yono berbalik, menatap cewek tukang pukul itu dengan murka. “Utang bapak lo aja masih segunung, lo masih nambah lagi?”
“Ini ... utang gue sendiri. Bukan utang bapak,” balas cewek itu setengah ragu.
Yono mendengus. “Kapan lo bayar, hah? Lo aja masih sekolah sekarang. Bapak lo ngojek cuma cukup buat beli beras buat sehari. Bayaran gue ke lo buat beli lauk sama sekolah.”
Iya, gue sendiri emang nggak bisa ngapa-ngapain selain jadi tukang pukul. Gue nggak punya bakat, apalagi keahlian lain selain bela diri. “Lo bisa potong gaji gue bang.”
Si Rentenir menganggap ucapan Sabina lucu, begitu pun dengan Dudung. “Terus lo kagak makan gitu? Gimana bisa mukul orang kalo kagak makan?” Dia menunjuk wanita yang terisak. “Oke, gue kasih lo waktu tiga bulan. Nggak ada tawar-tawaran. Lo tetep bayar sepuluh juta.”
Dudung melepaskan tangannya. Wanita itu menganguk cepat, mengusap air matanya lalu duduk bersimpuh. “Makasih banyak, Mang Yono. Saya janji tiga bulan nanti bakal nayar lunas.”
“Haaaaah, tahun kemaren juga ngomongnya gitu,” nyinyirnya sambil melangkah pergi bersama Dudung dan Sabina.
Dudung menyenggol cewek itu ketika mereka sudah berada di jalan g**g yang lebih lebar. “Sok jagoan lo, ah! Laga-laga apaan sih, segala mau bantuin.”
Sabina meraih kerah pria ompong yang cungkring itu. “Gue nggak tahan kalau lo pada nyakitin perempuan,” tekannya geram.
Dudung memekik ngeri. “Mang, gue dibuli, mang!”
“Sabina, gue kagak suka lo ikut campur sama urusan utang.” Yono ikut berhenti melangkah. “Gue nyewa lo buat jadi tukang pukul, O’on. Sekali lagi lo begitu, gue tagih utang lo dua kali lipat.”
Sabina membeku di tempat. Hutang ayahnya lebih banyak dari hutang pasangan tadi, maka dari itu, Sabina tak bisa terus berada di tempat les bela diri campuran dan memutuskan keluar saat kelas dua SMP. Dia juga pindah ke sekolah yang lebih murah dan dekat. Sejak kelas tiga SMP, dia menawarkan diri sebagai tukang pukul Yono agar dia bisa mendapatkan bayaran sekaligus melunasi hutang ayahnya sedikit demi sedikit.
Di jalan pulang menuju rumah, dia melihat mobil yang pernah dibawa Victor melintasinya dari lawan arah. Terlihat siswa itu baru saja pulang habis bersenang-senang di larut malam. Pengen gue lahir jadi anak seberuntung lo, Vernon.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️