Mendadak Ngumpul

1457 Kata
Audrey turun dari mobil. Rautnya cerah ceria. “Bai bai, Papi~” ucapnya mengecup pipi Papinya lewat jendela mobil. Sang Papi yang rambut tengahnya mulai botak merasa gemas dengan putrinya. “Baik-baik di sekolah ya sayang. Jangan lupa, ajak si Nova ngobrol juga.” “Humm!” Senyum lebar Audrey hilang saat mobil sudah tak terlihat. Dia mengentakkan kaki, masuk ke sekolah dengan aura gelap. Gue mesti bikin Nova nolak pertunangan itu. Gue nggak mau sama dia! Nggak mau! Nggak mau! Cewek dengan titik kecil hitam di pipinya itu langsung berjalan memasuki kelas X-2, langsung menghampiri meja Nova. Cowok itu langsung waspada, bergeser bangkunya sampai menabrak meja di belakang. “Audrey ....” “Lo,” Dia menggeram, mengepalkan tangan. Nova menyadari bahaya, dia langsung bangkit dan berlari ke belakang kelas, merapatkan diri ke tembok. Kelas mulai ramai, Audrey tidak peduli orang-orang menontonnya. “Ngomong sama ortu lo kalau lo nggak mau,” gertak cewek itu, melayangkan tunjukan mengancam seolah dia menodong pistol. Cowok berpotongan rambut mangkok itu mengangguk cepat. “Gue bakal ngomong. T-tenang aja, gue juga nggak terima diginiin ...,” lirihnya. “Awas aja kalo besok gue mesti ketemu lo lagi. Awas aja!” Selesai melayangkan ancaman, Audrey menubruk kerumunan di belakangnya dan kembali ke kelas. Mae yang sejak tadi mengamati langsung menghampiri cowok itu. “Lo ada masalah apa—“ “Berenti!” seru Nova, dia meringkuk di tempat, memeluk diri. Mae sadar jari cowok itu meremas lengannya sendiri sambil gemetar. Dia jelas ketakutan. Mae tak bisa mendekat untuk mengecek Nova. Dengan kerisauan menjadi-jadi, dia pergi ke kelas Mathan, meminta cowok itu untuk datang ke kelasnya. Mathan langsung membelalak melihat situasi Nova. “Nov!” Cowok tinggi itu merangkul sahabatnya. “Tenang, bro.” “Mama gue bakal lempar piring ke gue. Mama bakal bikin kepala gue bocor sama kaya ayah. Mama gue bakal mukul gue kalau gue salah,” lirih Nova. Mathan meringis, dia balik kaya dulu lagi. “Nggak ada mama lo. Mama lo udah pergi. Lo sekarang di sekolah. Nggak ada yang mukul lo lagi, Nov,” lontar Matt, memberi sugesti agar temannya tenang. “Ayah gue kepalanya berdarah, Matt. Dia pingsan di lantai ....” Nova masih menenggelamkan kepalanya sambil memeluk kaki. Mathan membalas. “Lo punya mama baru, kan? Semua itu dah lewat, Nov. Lo aman sekarang.” Bu Luna yang baru hendak memasuki kelasnya menghampiri kelas Pak Jun sambil keheranan. “Ada apa ini? Kenapa kalian ngumpul di sini?” “N-nova, bu ...,” lirih Mae. Matt menoleh ke belakang. “Tolong jangan ke sini, Bu Luna.” “Kenapa? Nova sakit?” Cowok itu menggigit bibir, melirik ke keramaian. Nova bakal diledekin satu sekolah kalau gue ngomong yang sebenarnya. “Dia pusing, Bu. Dia belum sarapan katanya.” Wajah Bu Luna yang was-was kini melemas. “Kalau gitu kamu bantu dia ke ruang kesehatan. Nanti ibu minta anak klub kedokteran buat ngobatin dia.” “Oke, bu.” Matt melirik Mae. “Eh, lo, boleh pinjem jaketnya?” Mae mengangguk, langsung melepas jaketnya. Jaket pink dengan telinga kucing di tudungnya itu Matt gunakan untuk menutupi kepala Nova. “Yok, Nova.” Nova berdiri, sejenak merasakan ketenangan ketika penglihatannya dihalangi. Matt menuntunnya ke ruang kesehatan. Mae mulai berprasangka. Apa mungkin Nova itu trauma sama cewek? *** Theo membawa nampan kayu berisi Mac’n chesse dan jus alpukat, melihat sekitar mencari tempat duduk. Manik hazelnya mendapati punggung Lana yang duduk berhadapan dengan Rudy. Cowok berbadan monster itu langsung datang dan duduk di samping Lana. “”Hai.” Theo melempar senyum. Rudy mengembus napas . Ganggu aja ni titan monyet. Theo menyadari ketidaksukaan Rudy padanya. “Gue ganggu waktu berduaan kalian, ya?” Lana melirik Rudy yang tampak judes. “Ooh, dia emang mukanya begitu. Betewe, lo bisa kan hari ini?” Cowok half spanyol itu mengangguk sambil menyantap menu makan siang. “Mau kemana? Gue traktir.” Cewek hiperaktif itu membulatkan mata. “Serius?” serunya seraya mendekatkan diri ke Theo. “Claro (tentunya), anggap aja acara kenalan kita.” Matanya bergeser ke Rudy. “Lo ikut juga, kan?” Rudy tentu tidak bisa membiarkan Lana berduaan dengan cowok berduit itu. Bisa-bisa Lana dijual olehnya. “Iya, tapi gue mau ngajak seorang lagi.” seenggaknya biar dia gak terus terpaku sama Lana. “Boleh. Ajak aja.” Cowok pencinta animasi itu menyisir area kantin, lalu memanggil seorang siswi yang rambutnya di kepang. “Sabina!” Cewek yang lebih tinggi tiga senti dari Lana itu mendekat sambil membawa nampan yang baru berisi makanan. “Napa, Dy?” Theo menatap sekilas cewek itu. Huh, kaya nerd. “Nongkrong dulu pas pulang nanti bisa?” Sabina termenung sejenak. “Boleh. Asal jangan sore banget. Ibu gue suka risau.” Theo melipat kaki. “Tenang aja, gue mau nganter lo pulang kalo dah gelap.” Sabina tak menunjukkan reaksi, matanya menyelidiki Theo dari rambut sampai ke kaki. Belagu amat ini f*ck boy. “Oke. Ngumpul di mana?” “Kita ngumpul di mana?” tanya Rudy. Theo melirik Lana. Lana mengerjap. “Treasure Cafe yuk!” lontarnya. Rudy mulai protes. “Bisa nggak sehari aja gue nggak denger Kpop dari lo?” “Bacot ah, gue pengen dateng tau! Pengen ngeliat koleksi foto Oppa Asahi!” “Oppa? Lo seleranya kakek-kakek?” tanya Theo. Sabina yang masih berdiri di sebelah Rudy mendengus geli. Lana mengerutkan wajah. “Guguk! Liat aja nanti! Gue yakin lo bakal tersepona!” “Sori, gue masih doyan melon.” Sabina meringis jijik pada Theo. Ngomongnya kaya calon-calon pelaku asusila ni cowok. “Ingetin gue pas pulang nanti.” Usai berpesan, cewek itu pergi ke kursi lain. Lana menatap punggung Sabina yang menjauh. “Keknya dia sama kaya lo, Rud.” “Sama apanya? Jenisnya aja beda.” “Bau-bau anak pojokan. Kaya lo.” “Bahasa apaan sih itu. Anak pojokan,” cibir Rudy. “Dia duduk di depan gue. Udah gitu dia juga pinter, jadi nyambung aja gitu kalo ngobrol.” “Nerd ya?” lontar Theo yang sudah selesai makan siang. “Nggak sih. Lo ngatain anak orang seenak jidat, ye. Emangnya lo bawa duit berapa, sok-sokan mau traktir,” cela cowok itu. Theo mengeluarkan empat kartu debit dari saku celananya. “Tinggal pilih aja mau pake dari bank mana.” Lana dan Rudy tersedak minuman mereka masing-masing. “F*ck boy elite!” Lontar Lana. “Lo punya duit banyak gitu kenapa sekolah di sini? Lo dateng dari luar, kan?” tanya Rudy. Manik Hazelnya mengerling ke langit-langit kantin yang ditutupi atap kaca, membiarkan cahaya matahari menjadi pengganti penerangan ruangan. “Pengen tau?” Dia menarik senyum miring. Rudy selesai menyantap Udon. “Nggak. Bodo amat, sih. Paling lo ngejar status aja kan di sini.” Theo bersiul, terkekeh dengan suara beratnya. “Mulutnya tajem juga, dude.” Cecilia yang berjalan melewati Theo, sontak berhenti dan menoleh sekali lagi dengan mata membelalak. Mereka berdua bersitatap. Cecil berpaling, melanjutkan jalannya. Anjim, hot banget itu cowok!!!! ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Theo menghela napas berat. “Deket kok. Cafenya di mana, Na?” tanyanya. “Di BTC, sih.” Victor —Kakak Theo—menyipitkan mata. “Itu sembilan kilometer lebih letaknya. Kamu janji nggak main jauh-jauh, kan? SIM kamu aja belom jadi.” Sambil bersedekap dia membakar ujung cerutu. Lana menatap kakak temannya itu dengan kagum. Kaya mafia-mafia gitu, deh. Keren! Theo mendecak. “Selama nggak ketangkep, gue aman.” “Jangan kekanak-kanakkan, Vernon. Ini negara yang beda dari Spain, kamu nggak bisa seenaknya,” manik biru cerah nyaris transparan milik Victor melirik tiga orang siswa di belakang tubuh monster adiknya. “Kalian juga baru SMA. Tolong pikirkan baik-baik, jika kalian tertangkap dan polisi memanggil pihak sekolah.” Lana dan Sabina bergidik karena tatapan dan ucapan tajam Kakak Theo. “Y-yaudah kita ke cafe yang deket aja, Theo. Ada noh di bukit, North Cafe namanya.” Rudy tersenyum tipis. Akhirnya nggak jadi ke Cafe korea! Theo m******t bibir bawahnya. “Oke. Boleh kan?” tukasnya ke kakaknya. “Boleh. Aku yang bawa.” “Qué carajo (what the f*uck) ?!” seru Adiknya yang melotot. Victor yang bersandar di pintu mobil penumpang berjalan memutar ke kursi pengemudi dan masuk. Theo memukul mobil. “Dammit!” “Nah, kan kalo yang bawa orang dewasa jadi tenang,” ledek Sabina sambil masuk ke bangku di tengah, di susul Lana dan Rudy. Theo juga masuk, duduk di samping kakaknya. “Kenapa beli yang 3 sih? Kan dalemnya kurang lega,” gerutunya soal mobil yang mereka naiki. “Yang belom punya SIM gausah protes,” cibir Kakaknya yang memasang sabuk dan menyalakan mesin. “Pasang sabuknya.” Sepanjang jalan, alis Theo terus menukik ke bawah. Lana terkikik gemas. Badan doang gede, dalemnya mah sama kaya kita.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN