Jaket Kelinci

1172 Kata
Mae mengunjungi ruang kesehatan yang letaknya masih satu bangunan dengan ruang klub karier setelah jam sekolah berakhir. Ruang itu berada di lantai satu, pintunya langsung terlihat dari lorong masuk. Ruangan dengan tembok hijau pastel itu berisi empat kasur dan cukup luas untuk menambah dua kasur tambahan lagi. Nova duduk di kasur ketiga. Cewek itu membuka pintu. Melirik ke dalam, langsung mendapati Nova yang juga menoleh. Mae tertawa kaku, berdiri di ambang pintu dan menyapa cowok itu. “Udah baikan?” Nova mengangguk. Jaket pink milik Mae  ada di pangkuannya. Dia mengangkat jaket i dengan telinga kucing itu. “Ini punya lo? Makasih ya.” Mae mengangguk. “Errr, gimana cara ngambilnya, ya?” gumamnya ke diri sendiri. Cowok itu beringsut turun dari kasur, menaruh jaket ke meja pengawas ruang kesehatan yang berada di tengah mereka. Mae meraih jaket setelah Nova kembali ke atas kasur, menyelimuti diri dan membelakangi cewek berambut pendek itu. “Lo nggak pulang?” “Gue nungguin Matt.” “Oh,” balas Mae. Sejenak hening. Mae sendiri bingung apakah cowok itu akan baik-baik saja menunggu Mathan sendiri. Justru mending dia nunggu sendiri daripada gue temenin. Yang ada dia makin takut nanti. “Yaudah, Nova, gue pulang duluan.” “Iya.” Nova membalik badan, berbaring miring. Dia menarik senyum tipis. “Sekali lagi makasih ya.” “Sama-sama.” Mae memakai jaketnya seraya berjalan keluar bangunan klub karier. Setakut apa pun dia sama cewek, dia tetep ramah, ya. ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Berhubung letak Cafe berada di dataran tinggi, pemandangan yang disuguhkan tentu mengajak pengunjungnya melamun menatap warna di sekitar. “Duduk di luar yuk! Noh, di bangku yang pake payung gede,” kata Lana menarik tangan Theo sambil menunjuk bangku Outdoor. “Lo beneran traktir, kan? Gue makannya banyak, loh.” “Iya.” Dia menoleh ke belakang, mendapati kakaknya tidak keluar dari mobil. Awas aja lo bawa pergi mobilnya. Pramusaji mengantarkan daftar menu dan bilang akan datang kembali setelah lima menit untuk mencatat pesanan. Lana langsung merampok kertas laminating itu dari Rudy, menggulir mata ke setiap tulisan dengan kelaparan. “Ada menu paketnya juga,” gumamnya sok imut. “Bener-bener nggak dibatesin nih traktirannya?” tanya Sabina ke Theo yang duduk di sampingnya. “Lo takut duit gue abis?” Theo memamerkan lagi empat kartu debitnya. “Isinya unlimited,” lontarnya. Sabina merotasikan mata kembali melihat menu. “Oke,” gumamnya jengkel. Pramusaji yang sama datang dengan notes di tangan. Cewek dengan rambut panjang yang dikepang itu langsung melontarkan pesanan. “Paket BBQ satu, minta tambahan Cheese Ball sama cikuwa, masing masing satu. Terus ....” “Siomay kepiting satu mas, sama yang udang juga. Rice bowl yang chicken teriyaki ... Ah! Minumannya Mojito Strawberry,” dikte Lana dengan senyum jahil pada Theo. Theo bersandar, melipat kaki. “Beli semua, beli.” “Paket BBQ-nya cukup satu?” tanya Rudy, mendekatkan diri untuk melihat menu di tangan Lana. “Pesen ekstra dagingnya sama air putih empat, mas.” “Lo nggak mesen, Theo?” tanya Lana. “Takut duitnya abis?” Theo menerima sodoran menu dari Sabina. “Hmm, Manual Brew yang French Press. Dingin, ya.” Pramusaji terlihat agak kebingungan. Dia mengucapkan semua menu lagi satu per satu untuk memastikan. “Oke, mas, itu dah semua,” balas Lana mengacungkan dua jempol. “Silakan ditunggu pesanannya, ya.” Rudy bertanya. “Gila, coba itung dah totalnya berapa.” “Dua ratus lima puluh dua,” kata Sabina. “Gitu doang baru dua ratus?” ulang Theo. “Kalian serius mesennya itu doang?” “Kita cuma berempat. Lo ada hajatan apa apaan, mesen banyak-banyak,” tukas Rudy, dia mengusap matanya. “Kayaknya bakal lama, gue tidur dulu dah.” Lana menoleh. “Lo nonton lagi ya semalem? Kan udah gue bilang jangan begadaaang!” Rudy memiringkan kepalanya membelakangi Lana yang mulai mengoceh. Anying, emak gue aja kagak bawel. Baru saja cowok itu hendak terlelap, suara tombol kompor gas yang di putar terdengar di dekatnya. Dia kaget dan langsung menegakkan badan, mendapati wajan datar untuk memanggang telah terpasang di atas kompor. “Gue yang masak dagingnya, okeey,” kata Lana dengan logat sok imut. Sabina mengamati cewek di depannya menaruh daging ke wajan dengan menuangkan semuanya dan dibiarkan berantakan. Cewek berkepang itu meringis kesal, mengambil penjepit besi di meja. “Sini, ah! Ngerecokin aja.” “Iiiih, gue bisa ini! Gue suka liat di drama-drama cara masaknya!” “Lo cuma liat, belom pernah masak beneran,” lontar Rudy, menyerahkan nampan berisi potongan daging tipis ke Sabina. “Jangan bikin perkara, deh, udah diem.” Lana mengerucutkan mulut, tangannya bergerak di udara, seolah ingin meremas Rudy layaknya cucian. “Guguk!” Pramusaji datang kembali membawa bola-bola keju, dua jenis siomay, minuman, dan rice bowl milik Lana. Mata cewek itu berbinar mendapati meja mereka penuh oleh santapan. “Padahal nggak ada perayaan, tapi gue bisa makan banyak, gratis lagi,” gumamnya penuh syukur. Theo terkekeh, mencoba menaruh sayuran ke wajan panas. “Banyak makan, yaa.” Sabina memukul tangan Theo, menarik kembali sayuran yang cowok itu masukkan. “Belom waktunya. Lo mau sayurnya bau daging mentah?” “Lo kedengeran kaya nenek gue yang di Mardrid.” “Bacot, f*uck boy elite,” cibir Sabina yang berkonsentrasi pada masakannya. Theo menarik senyum miring. “Gue mulai suka dipanggil begitu.” “Jangan lupa bayar, f*uck boy elite,” seru Lana yang menyeruput Mojito. “Gue nambah nasi ya, f*uck boy elite,” kata Rudy hendak memanggil pramusaji. “F*uck boy elite, itu nampan daging di depan lo ke siniin dah,” lontar Sabina. Theo memasah wajah datar. “Jadi kesel gue dengernya.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Theo dan yang lain melangkah masuk ke bangunan Cafe untuk membayar. Lana menepuk-nepuk perutnya. “Kayaknya punya dede deh gue.” “Hush!” sembur Rudy sambil menelepak kepala cewek bermulut serampangan itu. Theo menyodorkan kartu debitnya ke kasir. Wanita itu menggesek kartunya, memasukkan nominal, menekan tombol hijau. “Maaf, kak, kartunya enggak ada saldonya.” Seketika Sabina melempar mata curiga ke Theo. Cowok yang paling tinggi di antara mereka itu mengeluarkan kartu lain. “Sama, kak. Ada uang tunainya?” “Coba dua ini, bu.” Sang kasir kembali menggesek kartu. “Sama, kak, dua-duanya.” Rudy dan Lana melotot ke Theo. Theo meringis jengkel, menahan malu. “Sebentar, uang saya di mobil.” “Heh!” Lana menarik tangan cowok itu sebelum dia pergi. “Lo nggak ninggalin kita di sini, kan?” “Nggak. Gue beneran pengen ngambil duit kertas di mobil.” Theo pergi. Lana dan Rudy saling lirik. “Tadi katanya isinya banyak,” gumamnya bingung. Cowok Spanyol itu kembali membawa kakaknya. Tanpa pertanyaan, Victor membuka dompet berisi seratus lembaran merah. “Berapa mbak?” Theo mendelik jengkel. “s****n, Jadi lo yang blokir kartu gue?” geramnya. “Kamu cuma minta kartunya doang. Nggak minta isinya,” balas Victor datar. Cowok itu langsung meraih kerah kakaknya, lalu terjadi baku hantam liar di area kasir North Cafe. ❣️♥️♥️♥️♥️❣️  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN