Bab 7-Basah Bersama

1164 Kata
Suara adzan subuh berkumandang saat Dinda membuka mata. Tangan Putra masih melingkar erat di pinggangnya. Dengan sekuat tenaga, Dinda melepaskan pelukan lelaki itu. Putra pun kemudian menggeliat dan membuka matanya. Seketika dia melepaskan tangan yang melingkar nyaman di pinggang wanita itu. "Kenapa kamu dekat-dekat aku? Mau cari keuntungan, ya?" tanya Putra sewot. "Eh, pakai nyolot lagi! Bukannya kamu sendiri yang telah melanggar perbatasan guling. Tadi malam bilang kalau aku bukan tipe kamu, tapi pas tidur tangan gerayangan, pakai acara peluk-peluk lagi, cih!" Dinda melempar guling ke muka Putra. "Aku kan lagi tidur, nggak sadar dengan apa yang aku lakukan. Kamu, tuh, yang nyari keuntungan di alam bawah sadarku," balas Putra tak mau kalah. "Kamu pikir aku senang di peluk-peluk gitu? Yang ada aku gak bisa napas, tauk!" Dinda beranjak dari ranjang menuju kamar Mandi dengan perasaan kesal. Jelas-jelas lelaki di depannya yang khilaf dengan memeluk tubuhnya, masih juga melempar kesalahan pada orang lain. "Baguslah kalau kamu nggak bisa napas terus mati. Jadi aku bisa cepat-cepat menikah sama Safira," teriak Putra sewot. Sementara Dinda yang sudah berada di dalam kamar mandi merasakan ada sesuatu yang meremas hatinya. Tega sekali lelaki bergelar suaminya itu mengatakan hal demikian. Apa dia memang benar-benar tak punya hati? "Nggak, Din. Elo gak boleh jatuh cinta pada Pria dingin itu. Dia sudah terlalu sering meremehkan elo. Walaupun Satriyo sudah ninggalin lo, tetapi setidaknya dia akan kembali. Dia jauh lebih baik daripada Putra yang selalu aja bikin hati lo sakit." Dinda bermonolog dengan dirinya sendiri. Tanpa dia sadari, hati Dinda memang mulai terbuka untuk Putra. Namun, selalu saja lelaki itu membuatnya kecewa. Tangan Dinda membuka kran shower, tapi tiba-tiba krannya copot dan air dari dalam pipa mengucur deras ke arah Dinda membuat wanita itu menjerit histeris. Putra yang masih di atas ranjang dan berniat tidur lagi, terperanjat mendengar teriakannya Dinda. Segera lelaki itu bangkit dari ranjang mendekat ke kamar mandi, kemudian menggedor pintunya. "Kamu kenapa, Din?" teriak Putra dari luar. "Mas, krannya copot," jawab Dinda dari dalam. Kaos putih yang dia kenakan telah basah oleh Air. "Buka pintunya, biar aku betulin!" titah Putra. Dinda bergegas membukakan pintu. "Untung saja aku belum buka baju," batinnya. Setelah pintu terbuka, Putra masuk dan membetulkan kran air yang lepas. Kaos yang di kenakan Putra juga basah terkena Air. Reflek, lelaki itu melepaskan kaosnya, karena tidak nyaman menggunakan pakaian basah. "Kenapa mesti lepas baju, sih?" tanya Dinda sambil memalingkan pandangannya. Dia tidak mau mata polosnya ternodai karena melihat tubuh seksi Putra yang telanjang d**a. "Aku gak nyaman pakai baju basah. Jangan berpikir m***m, ya!" ucap Putra sambil tangannya sibuk membetulkan kran. "Ih, siapa juga yang m***m," cibir Dinda. "Tuh, udah. Buruan mandi!" Putra berbalik setelah membetulkan kran. Namun, seketika matanya melotot melihat tubuh Dinda. Kaos putih yang dikenakannya telah basah dan membuat lekuk tubuh itu terekspos jelas. Apalagi wanita itu menggunakan bra warna hitam. Putra menelan saliva melihat pemandangan indah di depannya. Dinda yang menyadari dirinya menjadi obyek pandangan pria dingin itu segera menutup bagian dadanya dengan tangan. "Kenapa melihatku seperti itu? Terpesona, ya!" ketusnya. "Huh, narsis banget. Siapa juga yang terpesona." Putra memalingkan pandangan dan bergegas keluar kamar mandi. Pria dingin itu tidak mau ketahuan kalau sedang memperhatikan lekuk tubuh istrinya yang ternyata seksi. Gadis itu selalu memakai baju tertutup, sehingga Putra tidak pernah tahu kalau sebenarnya tubuh istrinya tidak kalah seksi dengan Safira. Namun, saat Putra hendak melangkah keluar, kaki kanannya tersandung kaki Dinda. Reflek tangan Putra berpegangan pada bahu Dinda. Wanita itu terkejut dan hampir jatuh karena pundaknya dipakai tumpuan Putra sehingga dengan sigap Putra merengkuh Dinda dalam pelukannya. Untuk beberapa detik pandangan mereka beradu, deru napas masing-masing tak beraturan menggambarkan perasaan yang entah apa. d**a Dinda bergemuruh saat wajahnya menempel tanpa jarak di tubuh seksi Putra yang telanjang d**a. Setelah menyadari, keduanya saling melepas pelukan. "Kamu mau cari keuntungan, ya!" ujar Dinda setelah melepaskan pelukan Putra. "Udah ditolong bukannya terima kasih, malah nuduh yang aneh-aneh. Emang apa untungnya meluk kamu? Belum mandi lagi. Bau, tauk!" Putra bergegas keluar. "Kamu juga bau!" teriak Dinda. Kedua matanya masih melotot dan mengepalkan tangannya ke arah Putra. *** Putra dan Dinda turun dari kamar ketika Mbok Narti memanggil mereka sarapan. Surya Adinata dan istrinya sudah siap di meja makan. Melihat kedua orang tuanya sudah duduk di ruang makan, Putra merangkul Dinda. Sikap manis dan mesra lelaki itu memuakkan menurutnya. "Cih, dasar munafik!" batin Dinda. Namun, dia membiarkan saja pria itu mendalami perannya. Dia tak ingin membuat masalah antara Putra dengan kedua orang tuanya. Sarapan bersama diselingi obrolan hangat, tapi Dinda merasa tidak nyaman karena mertuanya selalu menyinggung masalah keturunan. Mengingatkan Dinda agar tidak lupa minum vitamin penyubur kandungan yang diberikan Nyonya Adinata sore kemarin. "Bagaimana mungkin aku bisa hamil, kalau disentuh pun tak pernah," batin Dinda sambil menggeleng. "Putra, hari ini kamu tidak usah ke kantor. Ajak Dinda keluar jalan-jalan." ucap Surya Adinata ketika mereka selesai sarapan. "Tapi, Pi--" "Pekerjaanmu di kantor biar Papi yang hendel. Kamu bersenang-senang saja dengan Dinda." Surya menepuk pundak Putra sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ehm, tapi Dinda musti kuliah, Pi," ujar Dinda beralasan. Dia tahu, Putra tidak akan nyaman pergi bersamanya. "Sekali-kali bolos tak apalah, Dinda. Kapan lagi kamu bisa jalan-jalan berdua selain weekend," sahut Surya. "Bener, Din. Jarang-jarang lho, Papi mau menggantikan tugas Putra di kantor," ucap Erlin menimpali. Apa boleh buat, mereka tidak bisa menolak keinginan Tuan dan Nyonya Adinata itu. Keduanya pun berangkat tanpa tahu tujuan. "Telpon Ayu dan Revi!" titah Putra sambil tetap fokus dibalik kemudi. "Mau ngapain telpon mereka?" tanya Dinda heran. "Nih, bersenang-senanglah dengan teman-temanmu. Jalan-jalan ke mall. Beli apapun yang kalian suka," ucap Putra seraya menyerahkan kartu kredit kepada Dinda. "Ambil," ulangnya. Dengan sedikit ragu, Dinda menerima kartu kredit itu. "Aku harus bertemu Safira. Ingat! Jangan bilang apapun pada Papi dan Mami." "Jadi, aku--" "Ya, kamu pergi jalan-jalan dengan temanmu dan aku pergi dengan Safira." Putra memotong ucapan Dinda. Mobil pria itu berhenti di depan kampus Unesa. "Nanti sore aku jemput di sini jam lima. Telepon saja aku jika kalian sudah selesai belanja," ucap Putra sambil membuka kaca mobil setelah Dinda turun dari mobil. Tak berapa lama kemudian, mobil Ceo tampan itu sudah menghilang di badan jalan. Dinda melangkah gontai sambil memandangi kartu kredit di tangannya. Pria itu, selalu menilai apa saja dengan uang. "Woy, ngelamun aja elo, Beb!" Teriakan Ayu disusul tawa Revi membuyarkan lamunan Dinda. Tiga sahabat itu kemudian berpelukan. "Kita jalan-jalan ke mall, yuk! Kalian boleh beli apa saja. Gue yang bayarin," ajak Dinda. "Serius?" teriak Ayu dan Revi hampir bersamaan. Mata kedua gadis itu membulat tak percaya. "Seriuslah, tapi nanti habis jam kuliah. Ya, mumpung Mas Putra lagi baik hati," balas Dinda sambil menunjukkan kartu kredit di tangannya. "Baik banget suami lo itu, Din. Andai stoknya masih ada, buat gue aja cowok kayak gitu." Ayu tersenyum menggoda. "Ih, gue juga mau kali, Yu. Udah ganteng, tajir, romantis lagi. Lo bener-bener beruntung, Din," tambah Revi. Dinda hanya tersenyum getir mendengar ucapan teman-temannya. "Andai kalian tahu, hal yang sebenarnya. Pasti kalian tidak akan berkata seperti itu," batin Dinda sedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN