Bab 6-Tidur Satu Ranjang

1169 Kata
Putra menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kedua tangannya melonggarkan dasi kemudian membuka satu demi satu kancing kemeja. Setelah membuka baju bagian atas, pria itu berjalan masuk kamar mandi. Dinda yang duduk di ranjang sambil bermain ponsel hanya melirik sekilas. Wajah suaminya terlihat kesal, entah karena apa. Dinda tidak ingin bertanya apapun, karena setiap kali dia mulai pembicaraan dengan Putra, ujung-ujungnya mereka pasti bertengkar. Wanita itu sudah mulai memahami karakter Putra, sehingga dia lebih memilih diam jika tidak ditanya. Suara shower dari dalam kamar mandi berhenti dan tak berapa lama pintu kamar mandi sedikit terbuka. "Dinda, tolong ambilkan aku baju! Aku lupa membawanya tadi," seru Putra dari dalam kamar mandi. Rupanya lelaki itu juga enggan berganti pakaian di kamar. Dinda meletakkan ponsel dan berjalan menuju lemari baju. "Baju yang mana, Mas?" tanyanya setelah membuka lemari baju Putra. Selama hampir dua bulan menjadi istri lelaki tampan itu, baru sekarang dia mengambilkan bajunya. "Terserah kamu! Kaos dan celana pendek saja," jawab Putra dari dalam kamar mandi. Dinda mengambil kaos casual warna toska dan celana pendek berwarna coklat moka. Wanita itu kemudian mendekat pintu kamar mandi dan menyerahkan pakaian kepada suaminya. "Cd-nya mana?" tanya putra sambil mengerutkan keningnya. Hanya wajahnya yang terlihat oleh Dinda sedangkan tubuhnya berada di balik pintu. "Cd ... tadi kamu gak bilang suruh ambilkan Cd," jawab Dinda polos. "Ya ampun, Dinda! Kamu mau juniorku terbang gara-gara gak pakai cd?" tanya Putra tampak kesal, tapi Dinda malah menahan tawa. Ternyata pria dingin itu bisa lucu juga. Segera Dinda mengambil celana dalam Putra, baru kali ini dia pegang baju dalam suaminya karena untuk urusan cuci, lipat dan setrika baju sudah dikerjakan Narti. Ah, kenapa pikirannya jadi parno. Ih, amit-amit. Putra langsung menyambar benda itu dari tangan Dinda dan segera memakainya. "Heh, jangan membayangkan isinya, ya!" teriak Putra. "Siapa juga yang mikir begitu, dasar m***m," balas Dinda. Gadis itu kembali duduk di ranjang. Tak berapa lama kemudian Putra keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Rambut yang masih sedikit basah dia usap dengan handuk. Harum wangi sampo menguar ke seluruh penjuru kamar seolah menusuk indera penciuman Dinda. Putra kemudian menyemprotkan parfum ke tubuhnya membuat bau wangi semakin memanjakan hidung Dinda. Bau parfum Putra yang khas dan natural sangat disukai Dinda. Putra melirik Dinda sekilas dan pada saat yang sama wanita itu juga mencuri pandang. Sejenak tatapan mereka beradu, tapi keduanya segera berpaling sehingga timbul rasa canggung dari mereka. "Den, makan malam sudah siap. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah," ucap Narti dari balik pintu kamar setelah sebelumnya mengetuk pintu. "Iya, Mbok. Kami segera turun," balas Putra. Lelaki tampan itu kemudian memberikan isyarat pada Dinda, lalu keduanya turun. "Duh, pengantin baru. Mesra banget, Mami jadi ngiri," ucap Erlin sambil tersenyum melihat Putra turun tangga sambil menggandeng mesra tangan Dinda. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dinda tau jika pria itu sedang bersandiwara di depan kedua orang tuanya. "Dasar, jago akting!" batin Dinda kesal. "Iya, dong, Mi. Namanya juga pengantin baru, harus mesra. Iya, kan, Sayang?" Putra tersenyum sambil memandang ke arah Dinda, sementara gadis itu hanya mengangguk. Keduanya kemudian duduk berdampingan, berhadapan dengan Surya dan istrinya. "Mami sama Papi akan tinggal di sini selama tiga hari," ucap Surya ketika mereka sedang menyantap makan malam. Putra tampak terkejut dengan ucapan Papinya. "Ehm, iya. Silahkan, Pi. Dinda senang ada Mami sama Papi di sini," balas Dinda seraya tersenyum, sementara Putra terlihat gelisah. Mereka kemudian menyelesaikan makan malam dengan obrolan ringan. "Dinda, ini Mami bawakan vitamin penyubur kandungan. Tolong diminum, ya, Sayang! Mami ingin segera menimang cucu," ucap Erlin sambil menyerahkan satu botol kapsul vitamin kepada Dinda setelah mereka selesai makan malam. Wanita itu mengangkat sebelah alisnya dan mengalihkan pandangan ke arah Putra. Bagaimana mungkin dia bisa hamil kalau lelaki bergelar suaminya itu belum pernah menyentuhnya sama sekali. Mau minum vitamin sebanyak apapun juga nggak mungkin hamil. "Ehm, Mi. Dinda kan masih kuliah. Jadi, kami berencana menunda kehamilan terlebih dahulu sampai Dinda lulus nanti," ujar Putra beralasan sambil menyambar botol vitamin yang ada di tangan Dinda. "Eh, kamu ini. Nggak boleh nunda-nunda begitu. Kehamilan itu rezeki dari Allah tidak boleh ditolak. Lagian nanti kalau Dinda punya anak, biar Mami yang mengasuh saat ditinggal kuliah. Jadi, don't worry!" balas Erlin. Wanita paruh baya itu kembali mengambil botol vitamin dari tangan Putra dan menyerahkannya pada sang menantu. Sementara Dinda hanya terdiam tanpa bisa menjawab apa-apa. "Ingat yang tadi Papi katakan padamu, Putra. Sebelum kalian punya anak, Papi tidak akan memberikan hakmu atas aset keluarga kita," ucap Surya memberikan penekanan. Hal itu membuat Putra menjadi kesal. Sementara Dinda tidak mengerti, mengapa Papi mertuanya mengambil keputusan seperti itu. Kalau begitu caranya, Dinda akan semakin terperangkap lebih lama dalam pernikahan ini. *** Dinda merebahkan tubuhnya di ranjang. Dua buah guling sudah dia pasang di tengah-tengah sebagai penyekat antara dia dan Putra. Dia tahu, malam ini mereka akan tidur dalam satu ranjang karena tidak mungkin Putra akan menemui Safira saat kedua orang tuanya menginap di sini. Tak berapa lama kemudian, Putra memasuki kamar dan terkejut melihat dua buah guling sudah tertata di tengah ranjang. "Kamu takut aku apa-apain, ya?" tanyanya sembari duduk di sofa dan memainkan ponselnya. "Maksudmu?" Dinda balik bertanya. "Kenapa ada dua guling di situ? Heh, sadar! Kamu itu bukan tipe aku," ucap Putra sembari tetap fokus pada ponselnya. Dinda merasa tersinggung dengan ucapan Putra. Hatinya terasa nyeri mendengar ucapan suaminya. "Buat jaga-jaga aja, siapa tahu kamu khilaf," jawab Dinda kesal. "Aku khilaf? Yang ada kamu yang khilaf karena tidur sama cowok ganteng kayak aku." Putra tertawa sambil melirik ekspresi muka Dinda yang kesal. Dinda memiringkan badannya membelakangi Putra dan berusaha memejamkan mata. "Awas kamu, Mas. Aku sumpahin kamu bakalan jatuh cinta beneran padaku, huh," batin Dinda kesal. Wanita itu berusaha tidur, tapi sayup-sayup dia mendengar Putra bicara dengan seseorang di telepon. "Maafkan aku, Sayang. Kayaknya tiga malam berturut-turut kita gak bisa ketemu dulu, deh." "Iya, ada Mami dan Papi nginep disini!" "Jadi, dong! Kalo mobilnya sudah datang kamu telepon aku, nanti aku transfer." "Iya, apa sih yang nggak buat kamu." "Love you too." Dinda merasa mual mendengar percakapan Putra di telepon. Itu pasti Safira. "Huh, cowok bodoh! Kelihatan sekali kalo cewek itu matre. Dasar bucin." Dinda menggerutu sendiri dalam hati. Dia terkejut saat Putra menghempaskan tubuhnya di ranjang. Namun, Dinda tetap memiringkan tubuhnya membelakangi Putra. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus, ternyata Putra sudah tertidur. "Dasar cowok! Cepet banget tidurnya," batin Dinda. Wanita itu mengambil satu guling untuk menutup telinganya supaya tidak terganggu dengan suara dengkuran Putra, dia pun tertidur. Tengah malam, Dinda terjaga karena merasakan ada benda berat yang menindih tubuhnya. Dia merasakan hembusan napas yang menerpa bagian tengkuk. Wanita itu mencoba membuka mata dan melihat apa yang menimpa tubuhnya. Ternyata Putra melingkarkan tangan di pinggang Dinda. Hembusan napas lelaki itu menerpa bagian belakang kepala Dinda. "Ya, Allah ... kenapa dengan lelaki ini? Dia memelukku," batin Dinda kaget. Dia berusaha melepaskan pelukan putra, tetapi tangan kekar itu tidak mau berpindah bahkan semakin mempererat pelukan. Wanita itu pun pasrah dan membiarkan sang suami memeluknya. Rasa nyaman mulai dia rasakan karena hangat pelukan Putra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN