Hari sudah pagi, pukul 06.00 dan Dimas bersiap-siap menjemput Sherry. Ia mengeluarkan handphone lalu mengetik pesan.
[Bu saya otw ke rumah ibu ya ~Dimas]
[Ok..sudah sarapan belum? Kalau belum, sarapan di rumah saya saja sekalian ~Sherry]
[Iya bu ~Dimas]
Membaca pesan Sherry membuat Dimas berbunga-bunga. Pagi ini dia akan sarapan bersama dosen cantiknya.
Tok tok tok.
Suara pintu rumah diketuk oleh seseorang.
Sherry menuju pintu lalu membukanya.
“Masuk dulu Dim, duduk di sofa itu dulu aja. Bentar saya ambilkan sarapannya,” Sherry langsung menuju dapur lagi tanpa menunggu respon Dimas. Begitulah sosok Sherry, mudah bergaul dengan siapa saja dan tak segan-segan untuk berbuat baik pada orang lain. Walaupun terkadang tidak semua orang bisa diperlakukan demikian.
Dimas hanya duduk diam menuruti apa yang diperintahkan Sherry barusan.
Tak lama kemudian Sherry muncul dengan membawa dua piring nasi goreng, kembali lagi menuju dapur lalu membawa nampan berisi dua gelas jus jambu dan dua gelas air putih.
“Ayo dimakan. Nggak usah malu-malu. Saya ganti baju dulu ya,” Sherry beranjak menuju kamarnya lalu berganti pakaian, karena sedari tadi dia masih menggunakan piyama, menyelesaikan urusannya di dapur, baru kemudian bertransformasi dari "Si Inem" bau dapur menjadi wanita karier yang modis.
Sejak awal kedatangan tadi, Dimas sama sekali belum mengucapkan satu kata pun. Dia hanya mengangguk-angguk saja menuruti apa yang dosennya katakan. Ia pun mulai memasukkan nasi goreng ke mulutnya.
“Hmmm ini enak banget sumpah,” gumam Dimas sambil terus mengunyah sarapannya.
Beberapa saat kemudian, semerbak parfum green tea tercium sampai ke indera penciuman Dimas. Sherry keluar dari kamar dengan penampilan yang membuat Dimas terpukau. Atasan batik berwarna dasar biru muda, celana berwarna ivory, rambut yang dikuncir ekor kuda seperti hari-hari biasanya, soft lens warna biru laut dan sedikit polesan make up natural membuat wanita itu terlihat elegan. Tangan kirinya menyangklong tas berwarna senada dengan celananya dan jas almamater kampus berwarna biru dongker.
Sontak pemandangan itu membuat Dimas tersedak nasi gorengnya sendiri.
“Uhuk uhuk uhuk,” Segera Dimas mengambil air putih di meja, mengatasi kebodohannya sendiri.
“Pelan-pelan aja makannya, Dim. Nggak ada yang bakal minta juga,” Sherry malah terkekeh dengan kelakuan mahasiswanya itu.
‘Gimana nggak keselek kalau liat cewek bening gini,’ gerutu Dimas dalam hati.
Sherry lalu duduk di sofa berhadapan dengan Dimas, lalu dengan santai mulai melahap sarapannya. Mereka makan dalam diam dan hanya memerlukan sedikit waktu untuk menghabiskan sarapan masing-masing. Sherry beranjak membereskan peralatan sarapan lalu menuju dapur dengan nampan di tangannya, meninggalkan Dimas tanpa kata.
‘Ini cewek bisa-bisanya cuek banget. Walaupun statusku mahasiswanya, tapi kan aku juga cowok. Mana ada cowok normal yang gak salting sama dia. Dasar nggak berperasaan. Tapi sarapan bareng kayak gini udah kayak pacaran aja, makan bareng di rumah ceweknya. Hihihihi,’ Dimas masih sibuk dengan gumamannya dalam hati.
“Berangkat sekarang yuk, Dim. Keburu siang.” Sontak Dimas terlonjak mendengar perkataan Sherry tersebut.
“Iya, Bu. Mari,” jawab Dimas gugup
Sherry hanya terekeh melihat tingkah lucu mahasiswanya itu.
“Bawaannya kok banyak sih, Bu?” Dimas sedikit heran dengan travelling bag kecil yang dibawa Sherry sekarang.
“Oh ini, baju ganti buat nanti sekalian gala dinner. Mau numpang mandi di hotel aja ntar pas jeda waktu sore.”
“Ooo gitu. Oiya bu, kunci mobilnya saya bawa aja. Nanti saya sama Rakha atau siapalah gitu, mau ambil mobil Ibu di kampus. Sekalian ngecek kalau-kalau ada yang perlu dibawa dari kampus.”
“Baik bener deh ini,” Begitulah tanggapan Sherry lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Dimas. Tanpa berpikiran aneh-aneh, baginya itu hanya hubungan baik antara dosen dan mahasiswanya, tidak lebih.
Sherry dan Dimas lalu memasuki mobil Dimas.
“Emm.. itu ... Ibu pake soft lens ya?” Dimas memberanikan diri bertanya tentang penampilan Sherry saat mereka sudah berada di dalam mobil.
“Iya. Kalau di kampus saya suka pake soft lens, kalau di rumah pake kacamata biasa. Tapi kadang nggak pake juga sih.”
“Minus matanya banyak ya, Bu?”
“Nggak sih. Cuma minus 1. Pake soft lens buat gaya aja sih. Menyesuaikan warna baju. Biar nggak kalah sama mahasiswi jaman now Hehehe,” Sherry terkekeh sendiri dengan penjelasannya, sedikit malu karena ternyata ada yang mengamati penampilannya.
“Oooo ... Kalau cewek gitu ya bu? Dari ujung kepala sampai ujung kaki harus diperhatikan semua? Cantik jadinya. Eh!” Dimas menutup mulutnya sendiri karena keceplosan mengatakan cantik. Dia takut Sherry berpikir kalau Dimas sedang merayunya.
“Ya cantik lah Dim. Namanya juga perempuan. Cuma mungkin tipe cantiknya beda. Apa gunanya cantik fisik kalau hatinya nggak cantik.”
Dimas menoleh ke arah Sherry, sepertinya dosennya itu sedang mengutarakan isi hati. Merasa dilihat Dimas, Sherry melanjutkan kata-katanya.
“Dulu waktu SMA, saya bukan tipe cewek gaul di sekolah. Ya ... Ke arah cupu mungkin. Penampilan nerd, temen cuma sedikit, jarang nongkrong. Yang ada cuma sekolah, ikut karya ilmiah, ekskul seni musik, paduan suara, dan bimbel. Mbosenin gak sih Dim?” Sherry tersenyum miris mengenang dirinya sewaktu SMA.
“Nggak mbosenin lah Bu kalau memang suka ngelakuinnya. Berarti ibu emang udah pinter banget ya dari dulu? Wow! Hobinya belajar terus. Nggak ada pacar jaman SMA Bu?” Dimas menanyakannya lalu segera merutuki diri sendiri setelah menoleh ke Sherry dan menyadari perubahan raut muka dosennya itu.
“Eh maaf, Bu. Saya lancang.”
“Ah, nggak papa Dim. Santai aja. Hmm ... Saya pernah punya pacar waktu SMA. Cowok gaul, anak basket gitu lah. Kebayang nggak sih Dim, cowok gaul jadian ama cewek nerd? Pasti banyak cewek yang iri kan ya? Tapi pada akhirnya saya yang harus patah hati karena cowok saya selingkuh ama cewek yang jauhhh lebih cantik.”
“Kok jahat sih mantannya Ibu?” Dimas sedikit emosi dengan cerita Sherry.
“Lha?? Ngapain kamu yang emosi Dim?” Sherry tergelak dengan tingkah Dimas
“Mantan Ibu sekarang pasti nyesel kalau tahu aslinya ternyata Bu Sherry cantik.”
“Hahahaha. Bisa aja kamu. Cuma cinta monyet jaman SMA kali. Tapi sejak saat itu, saya mulai mencintai diri saya dengan cara merawat tubuh dengan baik. Olahraga, pake skin care, pake outfit modis, lepas kacamata, tapi otak juga tetep harus di upgrade. Saya hanya tidak ingin direndahkan orang lain cuma karena penampilan luarnya saja.”
“Wow! Bu Sherry hebat. Berarti kalau sekarang banyak yang antri jadi pasangan Ibu dong? Secara Ibu kan udah paket lengkap. Cantik, pinter, dosen, baik hati pula.”
“Ah, bisa aja kamu. Saya sih masih trauma untuk menjalin hubungan. Orang tua saya kadang nyomblangin sama anak temen mereka. Tapi nggak saya ladeni.”
“Saya nggak nyangka Bu kalau Ibu punya luka hati sejak SMA.”
“Hahaha. Saking trauma nya, saya memilih untuk sekolah di Belanda, menyendiri di sana, mencoba hidup berdampingan dengan orang-orang baru. Kayak looser banget ya Dim?”
“Enggak ah Bu. Malah kayak kupu-kupu. Bermetamorfosis dari ulat yang menakutkan menjadi kupu-kupu cantik.”
“Jadi kamu ngatain saya dulu menakutkan Dim?” Sherry pura-pura marah, dan Dimas langsung tidak enak hati.
“Bu ... bu... Bukan gitu Bu. Maaf, Bu. Tidak bermaksud menyinggung perasaan Ibu.” Dimas sudah pucat dan terbata-bata meminta maaf.
“Hahahaha ... Kamu takut banget sih Dim? Saya nggak marah. Bercanda kali. Santai aja.”
“Hufttt, syukurlah Bu. Tapi saya bener-bener minta maaf kalau Ibu tersinggung.”
“Nggak apa apa. It’s not a big deal. Wah saya malah curhat ama mahasiswa nih. Tapi nggak usah bilang siapa-siapa ya Dim. Saya malu hehehe.”
“Siap Bu. Rahasia amaannn. Mari Bu, sudah sampai nih.”
“Wah nggak kerasa udah sampai aja, keasyikan ngobrol sih. Anyway, makasih ya Dim buat curhatan sama tumpangannya.”
“Saya juga mau ngucapin terima kasih, Bu buat sarapan gratisnya. Hehehe.”
“Sama-sama. Pokoknya awas aja kalau kamu ember, tak kurangin nilai mata kuliahmu.” Sherry berlagak mengancam Dimas.
“Waaaa! Ibu gak asik ah kalau ngurangin nilai segala.” Dimas pun protes.
“Iya iya, bercanda. Saya profesional kok menilainya. Tenang saja.”
Mereka pun tertawa bersama lalu masuk ke Hotel Blue Moon selaku tempat seminar dilaksanakan. Sherry merasakan sedikit beban terangkat dari hatinya. Baru kali ini dia bisa menceritakan kisah cinta SMA-nya kepada orang lain. Dan tidak disangka orang tersebut malah Dimas, mahasiswanya. Mungkin karena beberapa waktu belakangan ini Sherry kerap berinteraksi dengan Dimas, maka Sherry merasa tidak canggung untuk berbagi cerita. Ditambah lagi, akhir pekan lalu Sherry bertemu dengan mantan kekasihnya sewaktu menyendiri di pantai karena masalah orang tuanya. Sherry butuh seseorang yang mau mendengarnya.