9. Hari Pertama Seminar

1509 Kata
Pukul 07.30. Para panitia acara sudah stand by di salah satu hall Hotel Blue Moon. Peserta seminar pun sudah mulai memasuki ruangan. Akomodasi berupa tempat menginap sudah termasuk dalam paket seminar, untuk meminimalisir keterlambatan peserta. Banyak sosok tak dikenal yang menandatangani form kehadiran. Seminar hari pertama bersifat indoor activity. Awalnya dimulai dengan penyampaian materi oleh beberapa pembicara utama. Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan sesi panel presentasi pemakalah di kluster masing-masing sesuai topik keilmuan. Malam harinya diadakan gala dinner sebagai ucapan selamat datang kepada para peserta dan pembicara. Gala dinner juga dimaksudkan untuk ajang perluasan jaringan kerja sama antar institusi pendidikan, instansi pemerintah di bidang pertanian bahkan stakeholder industry pangan terkait. Sepanjang hari ini Sherry akan disibukkan dengan rangkaian acara dari pagi hingga malam. Acara sesi pertama selesai dengan lancar. Tiba saatnya waktu makan siang. Sherry duduk di sebuah meja bundar sedang menikmati makanannya bersama dosen dan karyawan yang lain. Diselingi dengan obrolan ringan, mereka menyantap hidangan dengan santai. Di sudut ruang yang lain, berkumpul para panitia dari golongan mahasiswa dan mahasiswi. Dimas menatap malas makanan yang ia ambil sendiri. Dia teringat momen sarapannya tadi pagi, jauh lebih nikmat karena bersama wanita pujaan hatinya. Namun sekarang, dosen cantiknya itu sedang tertawa riang dengan koleganya. Dimas merasa diabaikan. Apalagi tadi sewaktu si mobil, Sherry banyak mengobrol dengannya, bahkan menceritakan masa lalunya.Dia hanya mampu menghela nafas lalu memaksa mulutnya sendiri untuk melahap makanan di depannya. Ingin sekali Dimas menghampiri dan duduk di sebelah Sherry, tapi apakah itu mungkin? Tiba-tiba Dimas beranjak dari tempat duduknya. “Mau kemana Dim?” Rhaka bertanya karena kaget melihat Dimas yang tiba-tiba berdiri padahal sedetik sebelumnya masih mengunyah makanan. “Nyamperin dosen cantik,” Dimas menjawab pertanyaan Rakha sambal merogoh saku celananya. “Ya elah ni anak. Dosen sendiri mau diembat juga. Sadar woi!” Adalah Ardy yang membalas jawaban Dimas tadi. “Siapa juga yang mau ngembat sih. Kunyuk lo pada,” Dimas mengelak tuduhan Ardy. “Lha terus mau ngapain coba nyamperin Bu Sherry?” “Nih.mau ngasih ini nih,” Dimas menunjukkan kunci mobil Sherry kepada teman-temannya tersebut. “Hilih, palingan juga modus doang.” Rangga yang kini berkomentar. “Terserah kalian deh. Pokoknya aku mau kesana dulu,” Dimas pun melenggang pergi ke arah Sherry. === “Permisi, Bu.” Dimas mengawali sapaannya kepada Sherry. “Oh Dimas. Kenapa, Dim?” Sherry menjawab santai. “Ini Bu, mau menyerahkan kunci mobil Ibu sama karcis parkirnya.” Dimas menyodorkan kunci mobil dan karcis parkir ke tangan Sherry. “Oh ya. Makasih banyak ya, Dim. Terus mobil saya diparkir dimana ya?” “Di basement D1, Bu.” “Ok lah. Sekali lagi terima kasih ya. Saya udah ngerepotin terus.” “Sama-sama Bu. Saya nggak merasa direpotkan kok, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, Bu, Pak.” Dimas pun berlalu meninggalkan Sherry dan yang lainnya. Sebenarnya Dimas masih ingin berlama-lama ngobrol basa basi dengan pujaan hatinya itu, tapi dia merasa diawasi dari tadi oleh Pak Derry. Jadi ia memutuskan untuk pergi dari situ. Setelah Dimas berlalu, Pak Derry membuka suara. “Kok kunci mobil Bu Sherry ada di Dimas?” Pak Derry mulai kepo dengan perlakuan Dimas terhadap Sherry. “Oh itu Pak, saya minta tolong sama anak-anak untuk ambilkan mobil saya di kampus, soalnya kemarin pas angkut perkap kesini saya bareng anak-anak. Mobil saya nginep di kampus.” Sherry pun menjelaskan. “Baik banget tuh anak.” Pak Derry menimpali dengan intonasi yang sedikit sinis. “Iya Pak, Alhamdulillah mahasiswa kita tuh baik-baik. Tepat deh pilihannya kalau jadi panitia acara. Beres semua.” “Ah itu mah Bu Sherry aja yang terlalu memuji. Coba kalau saya yang kasih perintah, mana mau tuh anak-anak ngelakuin. Pasti adaaaaa aja alesan nolaknya. Sebel saya.” Sherry mencoba menahan tawa mendengar curahan hati tersirat dari Ketua Jurusannya itu. “Mungkin karena Bu Sherry cantik dan masih single kali, jadinya anak-anak pada modus sama Ibu. Apalagi Dimas tuh. Udah terkenal dengan sebutan playboy kampus.” Pak Dery masih melanjutkan kesinisannya. “Bapak bisa aja deh ambil kesimpulannya,” Sherry tidak bisa lagi menahan tawa. --- Sherry menjadi moderator di salah satu cluster pannel. Dimas yang bertugas mendokumentasikan kegiatan, lebih banyak menyorot ke arah Sherry. Pukul 16.00 seminar selesai. Para peserta dan panitia istirahat di kamar masing-masing, lalu pukul 18.30 berkumpul di ball room untuk gala dinner. Sherry menumpang bersih-bersih diri di kamar yang dialokasikan untuk panitia mahasiswi, karena kamar dosen perempuan sudah banyak orang. Dia lebih memilih untuk bergabung dengan para mahasiswinya. Entah mengapa demikian, mungkin karena perbedaan umur yang tidak jauh, sehingga Sherry lebih cepat akrab dengan mereka dibandingkan dengan dosen-dosen lain yang notabene sudah senior dan berumur. Sherry mulai mempersiapkan diri, memakai dress, menata rambutnya, dan mengaplikasikan sedikit make up. Mahasiswi di kamar tersebut melongo dengan kelihaian Sherry melakukan make up wajahnya sendiri. “Wowww ... Bu Sherry hebat banget MUA-nya,” Devi tak kuasa membendung kekagumannya melihat sang dosen begitu lihai menata rambut dan make up. “Ini aslinya biar hemat dek. Nggak usah pake jasa hair do and make up,” Sherry beralasan demikian. “Tapi tetep aja, Bu. Keren banget sumpah. Boleh dong Bu diadain beauty class kapan-kapan. Hehehe,” Ajeng menambahkan. Sherry hanya geleng-geleng kepala menanggapi kehebohan mahasiswinya tersebut. Selesai dengan make up and hair do, Sherry turun ke basement mencari lokasi mobilnya diparkir, lalu memasukkan barang-barang yang sudah tidak ia butuhkan untuk gala dinner nanti. Dia membuka bagasi, terlihatlah beberapa dus sepatu beraneka jenis dan juga tas-tas kecil. Memadupadankan sepatu dan tas dengan baju yang dipakainya, lalu menuju ball room. Dari basement, Sherry menaiki lift menuju ground floor hotel, tempat gala dinner akan dilangsungkan. Begitu pintu lift terbuka, jantung Sherry mendadak seperti enggan berdetak. Siapa sangka dia bertemu lagi dengan Zayn yang sedang menunggu lift terbuka. Pandangan mereka bertemu, hingga beberapa detik sebelum pintu lift akan tertutup kembali. Sherry buru-buru memencet tombol untuk keluar. Zayn yang sebelumnya berniat untuk masuk lift mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengejar Sherry. “Sherry,” Zayn menyusul langkah kaki Sherry lalu menahan pergelangan tangan Sherry agar dia mau berhenti. “Apa sih Zayn? Bisa gak sih gak usah gangguin aku terus?” “Ada waktu buat ngobrol sebentar gak?” Zayn menatap Sherry dengan memohon. “Bukannya tadi kamu mau masuk lift ya? Kenapa sekarang mau ngobrol sama aku?” Sherry menanggapi dengan jengah. “Duduk di sana dulu yuk, biar enak ngobrolnya. Please,” Zayn menyatukan tangannya tanda memohon kepada Sherry. Akhirnya usahanya pun berhasil. Sherry sudah mendahului suduk di salah satu sofa yang terletak di lobi hotel. “Ok sekarang mau ngomong apa? Aku kasih waktu lima menit.” “Pertama, aku minta nomor handphone-mu.” Zayn lalu menyodorkan handphonenya meminta Sherry mengetikkan nomornya. Entah mengapa Sherry menurutinya walaupun raut mukanya sudah malas menanggapi mantannya itu. “Udah tak ketik nih. Apa lagi? Aku masih ada kerjaan.” “Kedua, you are so beautiful as always sweety.” Zayn melontarkan kalimat yang membuat Sherry mengernyit heran dengan kelakuannya. “Are you kidding me Zayn??? Omonganmu nggak penting. Udah ya aku pergi dulu.” Sudah habis kesabaran Sherry dengan keabsurban lelaki satu ini. “Ok lah. Makasih ya kontaknya. Nomorku jangan diblokir ya.” Zayn berdiri lalu mengusap kepala Sherry. Setelah itu dia pergi ke arah lift sambil menerima telepon, meninggalkan Sherry yang masih terbengong-bengong dengan apa yang baru saja dilakukan Zayn. “Halo An, iya ini aku udah sampai lobby, lagi nunggu lift. Sabar dikit kenapa sih? Bawel banget!” " ... " “Ohh... Kamu mau turun ke lobby? Ya udah aku tunggu di sini aja.” Masih terdengar percakapan Zayn dengan seseorang di telepon. Entah dengan siapa, Sherry tidak mau tahu, walaupun ada sedikit prasangka buruk. Dengan detak jantung yang masih tidak karuan, Sherry melanjutkan langkah menuju ballroom tempat gala dinner akan digelar. Dalam hati ia masih bertanya-tanya kenapa Zayn berada di hotel ini. Bertemu dia di hotel sepertinya bukan pertanda baik. Laki-laki itu mungkin ada kencan dengan seseorang di hotel, lalu entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Pikiran Sherry sudah kemana-mana, membayangkan Zayn bermesraan di kamar hotel. Namun dia membunuh rasa penasarannya yang justru membuat Sherry tersulut emosi dan prasangkanya sendiri. Sejujurnya Sherry masih berusaha move on dari mantan satu-satunya itu, walaupun sudah hampir tujuh tahun. Namun hal terakhir yang ia lihat dahulu membuat Sherry masih merasakan sakit hati. Dia melihat Zayn berpelukan mesra dengan gadis lain sembari menyatakan cinta kepada gadis tersebut. Hal itu yang membuat Sherry memutuskan hubungan sepihak dengan Zayn, dan hanya via telepon tanpa memberi Zayn kesempatan untuk bicara. Karena hal itu pulalah Sherry memantapkan hati meninggalkan Indonesia, seperti yang dia ceritakan pada Dimas pagi tadi. “Apa tadi dia bilang? Beautiful as always? Hah! Dasar playboy cap kadal. Liat cewek bening dikit langsung sikat aja! Sorry Zayn aku bukan Sherry yang cupu lagi, yang bisa kamu bodohi sesuka hati. Aarrgghhh bikin bad mood aja sih!” “Lagian kenapa bisa ketemu di hotel coba? Pasti dia mau macem-macem tuh!” Sherry sudah negative thinking sembari menyumpah serapah mantannya itu sambil komat ķamit yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN