Ball room sudah mulai ramai ketika Sherry melangkah masuk ke dalamnya. Sherry memakai midi dress selutut berwarna hitam bersemu merah dari bahan satin lengan pendek. Rambut ia sanggul ke belakang dengan aksen helaian anak rambut bergelombang di sisi kanan dan kiri, polesan make up flawless ala Korea, sepatu platform pump berwarna merah, dan tas kecil berwarna senada dengan sepatunya. Tak ketinggalan soft lens berwarna hazel, warna yang sudah berbeda dengan yang dipakai sewaktu seminar tadi. Outfit simple namun elegan, yang membuat semua orang di ball room terpana dengan kehadirannya. Tak terkecuali Dimas. Dia berusaha mengabadikan kecantikan dosennya itu di dalam galeri foto handphone-nya secara diam-diam. Dia tersenyum mengamati foto tersebut. Dimas masih tidak menyangka di balik kesempurnaan Sherry ternyata dosen cantiknya itu menyimpan trauma tersendiri.
Gala dinner dimaksudkan untuk mengakrabkan para peserta, panitia dan juga tamu undangan seminar. Selanjutnya, diharapkan akan muncul banyak kerjasama dan jejaring kerja yang saling menguntungkan. Format acara makan malam ini bersifat santai dan menghibur, tanpa mengurangi esensi seminar itu sendiri. Rangkaian acara makan malam ini hanya sekedar makan, ramah tamah, dan ada band mahasiswa yang mengiringi. Sherry malas malasan mengikuti gala dinner karena masih terbawa emosi bertemu Zayn beberapa saat yang lalu. Kenapa dia harus bertemu lagi dengan Zayn di hotel ini? Sungguh suatu kebetulan yang tidak ia harapkan. Dia hanya duduk sendiri di salah satu kursi makan sambil mengaduk aduk makanannya dengan tidak semangat. Sesekali dia membalas sapaan koleganya, lalu kembali termenung sendiri. Hal itu tak luput dari pengamatan Dimas. Dia tadi sempat melihat Sherry berbicara dengan seorang lelaki yang hanya terlihat siluet. Dimas tidak mengetahui siapa lelaki tersebut. Setelah itu, dia melihat raut muka Sherry yang sulit Dimas artikan. Kesal, sedih, marah, bingung, entahlah. Dan sekarang pun dosen cantiknya itu masih terlihat murung.
“Bu, Ibu lagi sakit? Kecapekan ya Bu?” Akhirnya Dimas memberanikan diri untuk menanyai Sherry.
“Eh Dimas. Saya nggak apa-apa kok,” Dengan memaksakan senyum, Sherry menjawab sekenanya.
Dimas paham jika Sherry sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin berusaha menghibur. Lalu muncullah ide.
“Bu, mau tampil sama saya dan teman-teman nggak? Ibu kan bisa nyanyi sama main alat musik kan?”
“Malu ah Dim sama umur saya,” Sherry malah tergelak dengan penawaran Dimas.
“Maksudnya, Ibu belum cukup umur gitu ya Bu?” Dimas mengatakannya disertai cengiran dan jarinya membentuk huruf V.
“Dasar kamu tuh. Nggak usah bahas umur segala lah ya. Tabu buat cewek tuh. Hahaha. Ya sudah, mau perform lagu apa? Tapi kalau jelek jangan diketawain ya,” Sherry akhirnya menyetujui ide Dimas.
“Terserah Ibu aja. Ibu mau nyanyi atau main piano? Gitar? Drum?”
“Udah kayak tukang jual panci aja kamu. Apa-apa ditawarin,” Sherry geleng-geleng kepala mendengar candaan mahasiswanya tersebut.
Dimas berjalan menuju panggung lalu menggapai mic untuk mengumumkan sesuatu. Dia memanggil Sherry ke atas panggung untuk menyumbangkan sebuah lagu.
“Sebelumnya saya minta maaf jika nantinya suara saya bisa membuat para tamu undangan tersedak,” Sherry berkelakar sebelum kemudian menuju ke arah piano.
“Saya akan memainkan sebuah lagu berjudul Cinta kan membawamu dari Dewa 19,”
Denting piano mulai mengalun merdu, disusul suara Sherry yang tak kalah merdu. Riuh tepuk tangan terdengar sebagai wujud kekaguman akan performa Sherry di atas panggung. Ternyata, selain pandai di bidang akademis, Sherry juga berbakat di dunia seni.
Cinta kan membawamu. Kembali di sini.
Menuai rindu membasuh perih.
Bawa serta dirimu.
Dirimu yang dulu mencintaiku apa adanya.
Tanpa Sherry ketahui, sesosok lelaki ikut mengaguminya dari balik pintu ball room.
“Aku masih mencintaimu Sherry. Kalau saja kamu tahu apa yang terjadi denganku selama kamu pergi,” Lelaki itu bergumam yang hanya dapat ia dengar sendiri. Zayn, lelaki itulah yang sedang bersandar di tembok, termenung seorang diri. Setelah lagu selesai dinyanyikan, Zayn meninggalkan tempat itu.
Selesai menyanyikan lagu, Sherry turun dari panggung. Moodnya kini sudah lebih baik setelah mengeluarkan ekspresi melalui lagu. Dia lalu tersenyum kecil mengetahui bahwa motif Dimas memintanya naik ke panggung adalah untuk penghiburan diri. Dalam hati, Sherry berterima kasih kepada Dimas. Entah mengapa anak itu sering membantunya. Namun Sherry tidak mau berspekulasi terlalu jauh. Baginya itu hanyalah hal baik yang dilakukan oleh orang baik seperti Dimas.
“Wahhh! Suara Ibu merdu sekali. Main pianonya juga jago lho,” Dimas langsung memuji Sherry begitu turun dari panggung.
“Harusnya Ibu jadi artis aja Bu nge-band gitu hehehe,” Rakha pun ikut menimpali.
Saat ini Sherry sedang bersama panitia mahasiswa yang tadi ikut mengiringi Sherry di panggung.
“Kalian mau modus biar dapet bonus nilai mata kuliah ya?” Sherry memicingkan mata curiga kepada para mahasiswanya itu.
“Ya ampun Ibu curigaan banget sih,” Rakha berkelakar disambut dengan tawa teman-temannya.
Perasaan Sherry sudah membaik dengan mengobrol bersama mahasiswa mahasiswinya. Hingga acara gala dinner usai, Sherry sudah bisa tersenyum lagi.
Sherry menuju ke parkiran mobil untuk pulang ke rumahnya. Dimas pun demikian. Namun dia bertemu dengan seseorang saat dalam perjalanan ke basement.
“Kakak belum pulang dari tadi?” Dimas menyapa Zayn, kakaknya yang ternyata berdiri di samping mobilnya.
“Itu dosen cantik yang pernah kamu omongin dulu? Kamu dekat sama dosenmu itu?” Bukan menjawab pertanyaan Dimas, Zayn malah balik bertanya.
“Eh? Ngg ...Ya akrab biasa aja sih. Soalnya orangnya baik banget ama mahasiswanya. Iya baik banget.” Dimas menjawab dengan sedikit kelabakan.
“Kakak ngapain kepoin dosenku? Katanya dulu lebih cantikan pacar kakak daripada dosenku?” Dimas malah asyik menggoda kakaknya.
“Nama dosenmu Sherry Queensha Manggala kan?”
“Kok kakak tahu?” Dimas kaget karena Zayn mengetahui nama Sherry, bahkan dengan jelas menyebutkan nama lengkapnya.
“Dia gadis yang kakak tunggu selama ini. Dia pacar kakak sewaktu SMA,” Zayn menjelaskan dengan menerawang ke depan. Saat ini mereka masih berdiri berhadapan di samping mobil Dimas.
Mendengar penuturan kakaknya itu, Dimas teringat akan cerita Sherry tentang masa SMA-nya. Lalu tiba-tiba emosinya tersulut dan menarik kerah kemeja Zayn.
“Jadi kakak yang udah selingkuhin Bu Sherry? Kakak yang udah bikin dia sakit hati? Dasar laki-laki pengecut!” Dimas mengata-ngatai Zayn tepat di mukanya. Sontak hal tersebut membuat Zayn kaget setengah mati.
“Dari mana kamu tahu hal itu?” Zayn berkata sambil melepas tangan Dimas yang masih menarik kerah kemejanya.
“Pikir aja sendiri!” Bukan menjawab pertanyaan Zayn, Dimas malah pergi menuju kemudi mobilnya dan menginjak pedal gas meninggalkan Zayn yang masih mematung.
Zayn kini mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bukan rumah yang ia tuju, namun rumah seseorang yang sangat dirindukannya, rumah Sherry atau lebih tepatnya rumah orang tua Sherry. Zayn tidak mengetahui bahwa Sherry sudah tidak tinggal di situ lagi, karena mereka yang tidak pernah berkomunikasi untuk waktu sekian lama.
Zayn mencari kontak di handphone-nya lalu melakukan panggilan ke nomor tersebut. Dengan sangat percaya diri ia menelepon Sherry, sang mantan kekasih. Terdengar nada dering namun tak kunjung diangkat. Baru pada kali ketiga Zayn menelepon, akhirnya panggilan itu dijawab.
“Halo?” Terdengar suara Sherry di seberang telepon.
“Hai Sherry. Kamu belum tidur?” Pertanyaan basa basi Zayn lontarkan guna menutupi kegugupannya.
“Ya belum lah. Kalau udah tidur nggak bakalan bisa angkat telepon. Gimana sih!” Sherry menjawab dengan sewot.
Terdengar gelak tawa Zayn mendengar ocehan Sherry tersebut.
“Aku kangen kamu Sher. Tebak dong aku sekarang ada dimana?”
“Ya mana aku tahu Zayn. Terserah mau ada dimana. Aku tutup ya!”
“Eh tunggu tunggu, main tutup telepon aja. Aku di depan rumahmu lho Sher.”
“Hah?! Jangan bercanda deh Zayn,” Tak urung Sherry pun mengintip di balik gorden kamarnya, dan tidak mendapati Zayn ada di depan rumahnya. Lalu ia tersenyum miris. Mau saja dibohongi Zayn untuk kesekian kalinya. Begitu batin Sherry berteriak.
“Seriusan Sher, aku lihat mobil papi mamimu tapi kok nggak ngeliat mobilmu?” Memang benar Zayn berada di depan rumah, namun bukan rumah tempat Sherry tinggal.
“Huahahahaha … Kamu salah alamat Zayn,” Terdengar gelak tawa Sherry karena mengetahui kesalahpahaman Zayn akan rumah Sherry.
“Hey tuan sok tau, perlu Anda ketahui bahwa saya sudah tidak tinggal di rumah itu lagi,” Sherry berkata masih dengan usaha menghentikan tawanya.
“Nggak usah bohong deh Sher, beberapa hari yang lalu aku antar kamu pulang kesini kan.” Zayn masih tidak percaya.
“Iya memang kemarin itu aku nginep di sana karena weekend. Tapi hari-hari biasanya aku tinggal di rumahku sendiri. Udah ya aku tutup teleponnya,” Sherry lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
“Halo? Yah, kebiasaan banget main nutup telepon sembarangan,” Zayn melongo mendengar penuturan Sherry. Ia lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya sendiri. Awalnya ia ingin bersikap romantis menghampiri Sherry di rumahnya secara tiba-tiba. Namun kenyataannya ia malah menanggung malu sendiri karena salah alamat.