Seminar hari kedua diisi dengan acara field trip ke beberapa spot industri makanan, dan juga studi banding ke jurusan tempat Sherry mengajar. Moda transportasi yang dipakai adalah bus, yang sudah disediakan oleh pihak Hotel Blue Moon sebagai akomodasi seminar. Pukul 08.00 bus siap-siap berangkat dari hotel, sudah mengangkut seluruh rombongan seminar, baik peserta maupun panitia. Sherry dan Dimas pun ikut serta dalam acara ini. Perjalanan terasa biasa saja, hingga pada saat bus mengerem mendadak karena ada motor yang tiba-tiba melintas di depan bus.
Ckiiiiittttttt!
Suara decitan rem bus terdengar getir di telinga Sherry. Beruntunglah bus masih sempat mengerem dan tidak terjadi tabrakan. Semua sudah kembali aman saat bus berhenti. Namun, kepala Sherry terasa sangat sakit setelah mendengar bunyi rem.
“Ibu kenapa?” Dimas khawatir melihat Sherry memegangi kepalanya.
Belum sempat menjawab, Sherry tiba-tiba pingsan di pelukan Dimas.
“Bu Sherry!!” Dimas berteriak kaget melihat Sherry pingsan dalam dekapannya.
Bukan karena tidak ada orang yang peduli dengan Sherry, hanya saja Dimas yang terlalu panik melihat dosennya pingsan secara tiba-tiba. Tanpa pikir panjang Dimas membawa Sherry ke rumah sakit terdekat menggunakan taksi yang ia hentikan paksa.
Disinilah Dimas berada, di ruang UGD, di samping brankar tempat Sherry terbaring tak sadarkan diri. Sudah hampir 4 jam Sherry pingsan, dan selama itu pula Dimas tidak beranjak dari tempat duduknya.
===
Dua orang wanita duduk di dalam mobil. Satu sedang menyetir, dan satu wanita yang lain duduk di kursi penumpang dengan memangku gadis kecil.
“Hentikan mobilnya Hanna! Kamu jangan nekad!" seru wanita di kursi penumpang.
“Biar saja Hani! Sekalian kita mati sama-sama!” teriak wanita pengemudi.
Gubrakkkkkk!!!
Suara mobil yang menabrak pohon terdengar nyaring di telinga.
===
Perlahan mata Sherry terbuka, tangannya memegangi kepala yang terasa sakit. Baru saja Sherry mengalami mimpi aneh namun terasa nyata, seperti serpihan ingatan yang telah lama hilang. Hal itu yang membuat kepala Sherry berdenyut sakit lagi.
“Ibu sudah sadar? Saya panggilkan dokter ya,” Dimas lalu dengan sigap memanggil dokter jaga.
Dokter lalu memeriksa tanda-tanda vital Sherry lalu memberikan penjelasan.
“Kondisi pasien saat ini bagus. Pingsan mungkin dapat disebabkan karena kecapekan fisik atau bisa juga psikis. Dalam beberapa waktu ini, apakah Ibu memforsir kerja? Atau ada hal yang membuat pikiran stress?” Dokter memulai diagnosanya.
“Mmm ... Mungkin memang tubuh saya sedang protes sih Dok,” Sherry meringis mendapati pertanyaan dokter. Dia teringat perasaan kalutnya saat di pantai hingga hampir bunuh diri. Dia juga memilih untuk bekerja keras demi acara seminar untuk mengalihkan pikirannya, karena jika mengingat hal tersebut dirinya menjadi mudah marah dan sensitif. Namun Sherry memilih untuk tidak menceritakan mimpi buruk tadi kepada dokter.
Dokter menghela nafas mendengar jawaban pasiennya itu.
“Sebaiknya jangan terlalu diforsir, Bu. Sekarang badannya dipakai untuk istirahat dulu di rumah. Setelah ini Ibu boleh pulang. Akan saya resepkan beberapa obat dan vitamin. Saya juga sertakan surat ijin tidak masuk kerja jika Ibu membutuhkan.”
“Baik Dok. Terima kasih banyak.”
“Bu, saya tebus obatnya dulu ya. Ibu tunggu disini sambil istirahat.” Dimas yang sejak tadi diam mendengarkan penjelasan dokter akhirnya bersuara.
“Iya Dim. Maaf saya merepotkan kamu lagi.”
Sepeninggal Dimas, Sherry termenung mengingat mimpi yang dialaminya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dia bertanya-tanya siapa Hani? Apakah gadis kecil itu dirinya? Apa hubungan Hanna dan Hani? Lalu mengapa tabrakan itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otak Sherry. Ia berniat akan menanyakan perihal mimpi tersebut kepada kedua orang tuanya. Apakah mungkin ada memori ingatan Sherry yang hilang? Apakah dia memang pernah mengalami kejadian seperti dalam mimpi itu? Dan mendadak kepalanya dilanda sakit lagi.
“Aaarrgghhhh!” Sherry mengerang sambil memegangi kepalanya lagi. Di saat itulah Dimas kembali dari bagian administrasi. Dengan sigap Dimas menuju ke brankar Sherry.
“Kepala Ibu sakit? Apa perlu saya panggilkan dokter lagi?” Dimas cemas melihat wajah Sherry yang pucat dan masih setia memegangi kepalanya.
“Tidak perlu Dim, nanti kalau minum obat yang diresepkan pasti berkurang sakitnya,” Sherry menjawab sambil memaksakan senyum agar tidak membuat mahasiswanya itu cemas. Sherry sudah cukup banyak merepotkan Dimas belakangan ini.
“Lalu sekarang Ibu mau bagaimana? Istirahat di sini saja? Atau pulang Bu?”
“Saya mau pulang saja Dim,” Sherry mulai beranjak turun dari brankar.
“Saya antar pulang ya, Bu.” Dimas mencekal lengan Sherry yang hendak melangkah turun. Refleks Sherry menoleh ke arah lengan yang dipegang Dimas dengan tatapan kaget.
“Oh ma-maaf Bu bukan maksud saya lancang pegang-pegang Ibu,” Dimas segera melepaskan cekalan tangannya. Dia tidak ingin dosennya itu berpikir buruk tentangnya.
“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin pulang saja. Saya tidak enak merepotkan kamu terus Dim,” Sherry menghela nafas mengingat sejak menjadi panitia international conference, dia sudah banyak membuat Dimas repot padahal tidak menyangkut urusan akademik.
“Saya akan tetap mengantar Ibu pulang walau hanya naik taksi. Saya takut Ibu pingsan atau mungkin sakit kepala Ibu kambuh lagi seperti tadi,”
“Kenapa kamu baik sekali sama saya sih Dim?” Sherry bertanya kepada Dimas tanpa maksud tertentu, namun pertanyaan itu sukses membuat Dimas kelabakan untuk menjawab.
“Eh ... Itu ... Anu, Bu.” Dahi Sherry berkerut mendengar ucapan Dimas yang terbata-bata seolah sedang gugup.
“Bicara yang jelas Dim. Kenapa sampai gugup begitu sih?” Sherry terkekeh dengan tingkah Dimas yang menurutnya lucu.
‘Karena aku ingin sering dekat sama kamu,’ batin Dimas.
“Kan berbuat baik tidak ada salahnya, Bu.” akhirnya kalimat itu yang terucap dari bibir Dimas.
“Baiklah kalau kamu mau mengantarkan saya. Tapi saya mau pulang ke rumah orang tua saya saja, agar tidak sendirian waktu sakit,” Sherry menjelaskan keinginannya.
“Baiklah Bu. Sekalian biar saya juga tahu rumah orang tua Ibu.”
“Buat apa tahu rumah orang tua saya?” Sherry heran mendengar perkataan Dimas.
“Ya buat silaturahmi lah Bu,”
‘Dan melamar kamu nantinya.’ Dimas tersenyum, sepertinya tingkat kebucinannya pada Sherry sudah level akut.
Sherry dan Dimas menaiki taksi online yang sudah Dimas pesan melalui aplikasi. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah Rendy dan Hanna, orang tua Sherry.
Praaaanggggg!!!
Terdengar suara pecahan barang dari dalam rumah. Sherry bergegas masuk diikuti Dimas yang masih setia mengekornya. Sebuah piring melayang ke arah Rendy namun dia berhasil menghindarinya. Alhasil piring tersebut hancur berkeping-keping mengenai lantai.
“Kamu jahat Rendy! Dasar laki-laki b******k!” Hanna meneriakkan umpatan kepada Rendy, suaminya.
“Apa kurangnya aku? Bertahun-tahun aku sudah merawatmu dan Sherry. Kenapa kamu selalu nyakitin perasaanku? Kenapa kamu masih saja hobi selingkuh? Sekarang kamu malah tidur sama Susi! Aaaarrggghhh!!!” Kali ini Hanna melempar vas bunga ke arah Rendy.
“Apa hak kamu melarang-larang aku?! Kamu bukan siapa-siapa buatku. Bagiku kamu tidak lebih dari seorang pembunuh! Hani mati karena ulahmu!” Rendy tak kalah emosi menghadapi Hanna yang sedari tadi kesetanan melempar barang-barang.
“Apa maksud semua ini?” Sherry tiba-tiba membuka suara. Dia yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tak kuasa menahan air mata yang mulai mengalir.
“Sherry... Kamu di situ?” Rendy sangat kaget melihat keberadaan putrinya yang tak disangka ada di dekat pintu. Hanna pun melotot tak kalah kaget seperti tersangka yang sudah ketahuan melakukan kejahatan.
“Jelaskan maksud semuanya, Pi, Mi.”
“Sherry, jangan dengarkan omongan papi kamu ya nak. Papi kamu hanya akan membela diri karena dia selingkuh,” Hanna mencoba mendekat ke arah Sherry, namun suara Rendy menghentikannya.
“Diam kamu Hanna! Jangan dekati Sherry!” Dengan lantang Rendy berteriak, semakin membuat Sherry kebingungan.
“Sherry, papi bisa jelaskan semuanya. Jangan dengarkan kata-kata wanita ini,” Rendy menyebut Hanna dengan sebutan Wanita ini. Bukan lagi dengan sebutan mami.
Adegan di mimpi Sherry kembali terlintas. Nama Hani yang disebutkan tadi membuat Sherry ingat dengan penggalan mimpinya. Dia melangkah mundur sambil memegangi kepalanya. Sherry lalu masuk lagi ke dalam taksi yang masih berada di depan rumahnya. Melihat hal tersebut, Dimas langsung berlari menyusul Sherry masuk ke dalam taksi. Dia tidak paham apa yang sedang terjadi, namun yang ia tahu, Sherry tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja.
“Cepat jalan pak!” Perintah Sherry kepada supir taksi yang mau tidak mau dituruti oleh sang supir.
“Sherry ... Tunggu dulu, Nak!” Suara Rendy terdengar namun tidak dihiraukan Sherry. Dia tetap menyuruh supir untuk melajukan mobilnya.
Akhirnya taksi pun melaju meninggalkan rumah Rendy. Dimas yang duduk di samping Sherry masih kebingungan harus bagaimana melihat Sherry terus menangis sambil memandang ke arah luar. Sesekali dia memegangi kepala yang mungkin terasa sakit.
“Bu, Ibu tidak apa-apa?” Pertanyaan Dimas ini sebenarnya tidak butuh jawaban apa-apa, karena nyatanya Sherry tidak baik-baik saja.
Sherry hanya menganggukkan kepala, belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Sekarang ia malah bingung -dan lupa sejujurnya- kalau Dimas bersamanya. Mau ditaruh dimana muka Sherry di depan mahasiswanya ini? Sherry malu sekali karena Dimas harus ikut mendengarkan masalah keluarganya yang seharusnya tidak boleh diketahui orang lain. Apalagi jika itu adalah aib. Andai saja Sherry Dimas tidak bersamanya, mungkin Sherry masih akan merasa baik-baik saja walaupun setelah pertengkaran tadi. Namun kenyataannya, Dimas tanpa sengaja ikut mendengar apa yang seharusnya tidak didengar, dan itu membuat Sherry bingung harus bagaimana menyikapinya.
===
Flashback 17 tahun yang lalu
“Tante Hanna, kita mau kemana? Kok Bunda tidak diajak?” tanya seorang gadis kecil kepada Hanna.
“Kita jalan-jalan yuk. Tapi berdua saja. Ke mall belanja mainan sama beli es krim mau nggak Sher?" ajak Hanna kepada gadis kecil yang ternyata adalah Sherry.
“Mau banget, Tante. Ayo kita berangkat.” Ajak Sherry kecil dengan riang. Dia tidak tahu apa yang direncakan Hanna terhadapnya.
Senyum miring Hanna tampilkan tanpa sepengetahuan Sherry, pertanda suatu hal licik berjalan sesuai keinginannya. Mereka berdua lalu menuju tempat mobil diparkirkan. Belum sampai mesin dihidupkan, seseorang tiba-tiba ikut masuk ke dalam mobil.
“Asyikkk! Bunda akhirnya ikut jalan-jalan.” Sherry berteriak kegirangan, berbeda dengan Hanna yang terlihat kaget dan tidak suka dengan kehadiran Hani, ibu kandung Sherry.
“Iya, Bunda ikut, Nak. Biar kamu ada yang jagain,” Hani berkata sambil melirik ke arah Hanna dengan tatapan benci.
“Baiklah jika itu yang kamu mau,” Hanna lalu mengemudikan mobilnya, sementara Hani duduk di kursi penumpang dengan memangku gadis kecilnya. Saat itu umur Sherry menginjak tujuh tahun.
Di awal perjalanan tidak ada yang aneh dengan Hanna. Hingga kemudian Hanna menginjak gas menambah kecepatan di atas rata-rata saat dari arah berlawanan ada truk mendekat.
“Hentikan mobilnya Hanna! Kamu jangan nekad!" seru Hani.
“Biar saja Hani! Sekalian kita mati sama-sama! Hahahaha,” teriak Hanna seperti kerasukan setan.
Lalu mobil pun mengalami kecelakaan.
Flashback end
“Jangan pernah bahas hal tadi dan jangan pernah menceritakannya kepada siapapun! Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya,” Sherry berkata dengan nada dingin dengan tatapan kosong ke depan.
“Buat apa saya cerita ke orang lain, Bu? Saya bukan tipikal orang yang suka bergosip,” Dimas menjawab enteng.
“Hmm ... Baiklah. Saya percaya itu. Anggap saja kamu tidak pernah tahu apapun tentang saya.”
Suasana hening seketika, hanya deburan ombak yang terdengar. Sekarang Sherry dan Dimas berada di pantai, tempat yang sama ketika Sherry terseret ombak beberapa waktu yang lalu.
“Kamu bisa pergi, Dim. Saya ingin sendiri di sini. Maafkan saya selalu merepotkanmu.”
“Ibu ngusir saya?” Dimas menganga tidak percaya mendengar apa yang barusan Sherry katakan.
Sherry hanya tersenyum simpul lalu berkata dalam hati ‘Ini anak maunya apa sih? Pacar bukan, keluarga juga bukan, tapi kenapa peduli denganku?’
“Memangnya kamu mau ngapain di sini?” Akhirnya kata tersebut yang terucap.
“Ya nemenin Ibu lah. Masa iya saya ninggalin pasien yang baru saja keluar dari UGD sendirian di pantai sore-sore begini? Ntar kalau Ibu diculik, saya yang diinterogasi polisi karena jadi tersangka utamanya,” Sherry hanya menggelengkan kepala, bisa-bisanya Dimas berpikiran absurb seperti itu. Tapi hal tersebut malah membuat Sherry sedikit terhibur.
“Bu, saya tidak tahu apa masalah Ibu, seberapa berat masalah itu. Namun, apapun masalahnya, jangan patah semangat ya, Bu. Semua pasti ada solusinya. Ibu juga bisa curhat sama saya. Atau misal butuh ke pantai seperti ini lagi juga saya siap nganterin,” Dimas mengatakannya sambil nyegir kuda untuk menutupi kegugupannya, karena sejujurnya dia bingung bagaimana menghadapi Sherry saat ini. Dia takut Sherry marah ataupun menangis sedih. Karena Dimas tahu masalah Sherry bukan masalah yang ringan untuk dihadapi. Satu hal yang ingin Dimas lakukan sekarang adalah mendekap Sherry ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun hal itu mustahil untuk dilakukan, atau mungkin bisa direalisasikan dan berakhir dengan tamparan di pipi Dimas. Membayangkannya membuat Dimas merinding sendiri.
Satu tawa kecil lolos dari bibir Sherry.
“Sepertinya saya butuh tempat lain selain pantai. Saya butuh kenangan indah. Kalau di sini malah ingat kenangan buruk.”
“Kalau begitu kapan-kapan kita naik gunung aja, Bu. Asyik lho,” Dimas masih berusaha menghibur dosennya itu.
“Hmmm … Sound good,” Sherry akhirnya merasakan perasaan yang sedikit lebih baik. Begitulah dia, mudah panik dan bingung jika terjadi suatu masalah diluar kendalinya. Namun dalam waktu yang tidak lama pikiran dan emosinya bisa kembali normal. Saat merasa kalut, Sherry butuh pelampiasan pada sesuatu atau seseorang yang dapat menghiburnya. Jika tidak, bisa berakhir seperti beberapa waktu yang lalu di kala Sherry hampir terseret ombak.
“Ibu sudah lebih baik? Atau kita perlu kemana lagi agar Ibu lebih tenang?” Dimas menawarkan.
“Ke hotel aja Dim.”
“Hotel???” Dimas terkejut dengan kata-kata Sherry. “Mau ngapain Bu Sherry ngajakin ke hotel?” Dimas sudah membatin hal yang tidak-tidak.
“Ya ambil mobil terus pulang lah Dim. Sudah sore ini. Besok kan kita masih lanjut seminar. Pikiran kamu udah ngeres duluan pasti?” Telunjuk Sherry mengarah ke wajah Dimas membuat si empunya malu karena kepergok berpikir yang tidak semestinya.
“Eh nggak kok, Bu. Maafkan saya. Saya hanya kaget saja tadi,” Dimas kelabakan.
“Kamu tuh kok lucu sih, Dim. Tapi saya malah jadi punya hiburan.”
“Makasih ya, Dim.”
“Untuk apa, Bu?” Dimas pun grogi.
“Untuk hari ini. Untuk semuanya.” Sherry menoleh ke arah Dimas di sebelahnya, lalu tersenyum. Pemandangan yang dapat membuat jantung Dimas mendadak tidak sehat karena berdetak tidak karuan.
“I ... Iya, Bu. Sama-sama,” Senyum Sherry menular kepada Dimas.
Drrrrttt drrrrrttt drrrrrtttt.
Suara handphone mengagetkan mereka berdua, dan ternyata handphone milik Sherry yang berdering. Tercantum nama ‘Papi’ disana. Sherry menggeser tombol merah di layar, pertanda ia sedang tidak ingin mengangkat panggilan tersebut. Dimas memperhatikan hal itu dalam diam, enggan berkomentar.
“Saya cari taksi online dulu ya, Dim.” Sherry berkata sambil menatap layar handphone-nya membuka aplikasi taksi online. Belum sempat melakukan pekerjaannya, ada panggilan masuk lagi. Kali ini dengan nama ‘Mami’. Lagi-lagi Sherry menggeser tombol merah.
“Tidak diangkat, Bu?” Akhirnya Dimas membuka mulutnya. Sherry hanya menggeleng lalu berucap.
“Saya butuh waktu untuk mencerna semua ini. Dan saya belum siap mendengar penjelasan apa-apa.”
“Baiklah. Lakukan apapun yang menurut Ibu baik dan membuat Ibu jadi tenang. Mungkin memang perlu waktu untuk mencerna baik-baik segala persoalan yang ada. Karena akan jadi masalah baru jika kita menanggapinya dengan emosi. Dan perlu Ibu tahu, saya selalu siap mendengar keluh kesah Ibu. Ibu jangan pernah merasa sendirian ya, Bu.”
“Dimas, kamu kesambet dedemit pantai ya?” Kalimat yang Sherry lontarkan ini sontak membuat Dimas melebarkan matanya.
“Astaga Bu Sherry. Kenapa malah ngatain saya kesambet dedemit sih, Bu?” Dimas berkata memelas. Sementara Sherry menyemburkan tawanya.
“Lagian kamu ngomong sok bijak banget. Kayak umur lebih tua aja.”
“Umur bukan patokan seseorang jadi bijak lho, Bu.” Dimas protes tidak terima.
“Oke. Oke. Whatever lah.” Sherry sudah malas menanggapi dan berlalu meninggalkan Dimas yang masih melongo.
“Dimas!!! … Kok malah bengong? Ayo pulang.” Sherry berbalik, menghentikan kakinya karena melihat Dimas masih mematung di tempatnya.
“Kalau kamu masih mau bengong disini, saya tinggal saja ya.” Sherry berniat bercanda. Sepertinya dia mempunyai hobi baru yaitu menggoda Dimas.
“Ya ampun Bu Sherry tega banget sumpah. Tadi ngusir saya, terus ngatain saya kesambet, sekarang saya mau ditinggalin sendiri. Astagaaa. Salah saya apa Bu?” Kali ini Dimas seakan bermain drama. Mimik mukanya sungguh membuat Sherry tidak dapat menahan tawanya.
“Nggak usah drama juga kali Dim. Ayo masuk. Itu taksinya sudah nungguin.”
Setelah itu mereka berdua menuju Blue Moon untuk mengambil mobil yang masih terparkir di sana, lalu pulang ke rumah masing-masing.