“Lo yakin sendirian ke sana? Nggak sama gue aja, Nyu? Mumpung gue masih ada waktu senggang sekitar tiga puluh menit nih, kan lumayan buat temen ngobrol di sana. Jam segini perpustakaan sepi banget, apalagi lo mau cari buku yang ada di ujung kan? Itu tempat yang nggak pernah dijamah manusia, Nyu, gue temenin ya? Mau nggak? Gue kasihan kalau lo sendirian ke sana,” tawar Rama, beberapa jam yang lalu. Andai waktu bisa diputar kembali, pasti Abimanyu sudah menyetujui tawaran Rama. Dia akan senang tidak sendirian dan juga tidak terjebak dalam momen yang begitu canggung seperti ini, rasanya ingin sekali dia pergi dari tempat ini sekarang juga. Tapi tidak bisa. Buku yang sedang dia cari belum kunjung ditemukan, bahkan sudah puluhan kali dia mencari di tempat biasanya nangkring juga tidak ada. Cur

