BAB 47

1061 Kata
THOMAS POV Rasanya hari ini aku sangat lelah karena kesibukan di kantor. Aku melihat jam menunjukkan pukul setengah dua belas dan saatnya aku makan siang. Waktu itu Ben mengajakku makan siang bersama di kafe yang letaknya tidak jauh dari kantorku. Saat itu aku bercerita tentang kecurangan yang di lakukan oleh bagian keuangan dan aku sudah mengeluarkan orang itu dari perusahaan ku. Saat itu Ben bercerita jika bagian keuangan memang terkenal sangat buruk di mata orang banyak sehingga aku tidak salah memecat seseorang yang melakukan banyak kesalahan. " Syukurlah papa memecatnya karena orang itu terkenal suka melakukan kecurangan." Kata Ben sambil menyesap kopinya. " Dia sangat keterlaluan. Merugikan perusahaan sangat banyak." Kataku sambil mengungkapkan kekesalan ku. Tiba - tiba kami mendengar ada seseorang yang bertengkar dan saat itu Ben berusaha melerai orang yang bertengkar. Ternyata seorang wanita yang bertengkar dengan kekasihnya dan Ben berusaha melawan ketika pria itu hendak menyakiti wanita itu. Saat itu wanita itu menangis histeris sehingga Ben memeluknya dan membuat pria itu naik pitam sehingga ia berusaha hendak memukul Ben tapi pihak keamanan mulai membawa pria itu keluar dari kafe. " Berhentilah menangis, mulai saat ini pria itu tidak akan mengganggumu lagi." Kata Ben sambil memeluk wanita itu. " Terima kasih telah menolongku. Selama ini aku sering di siksa olehnya." Kata wanita itu sambil menangis. Waktu itu aku menyuruh Ben untuk mengantar wanita itu pulang ke rumah nya sehingga aku memutuskan untuk kembali ke kantor. Baru kali ini aku melihat kejadian seorang wanita yang di sakiti oleh kekasihnya dan aku tidak suka melihat wanita di sakiti. *** Saat tiba di kantor, ponselku berbunyi dan ternyata Paula yang menghubungiku. Aku tidak menyangka jika ia menelfon ku setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi. Ia berkata padaku jika ia sangat merindukan ku dan ingin bertemu dengan ku. Rasanya saat itu aku sangat malas bertemu dengan siapapun tetapi mengingat terakhir kalinya ia melakukan kesalahan bodoh membuatku harus menemuinya. Akhirnya kami janji bertemu setelah aku pulang dari kantor dan aku bisa mendengar ia sangat senang bertemu dengan ku. " Terima kasih kau mau meluangkan waktu untuk bertemu dengan ku. Aku sangat senang mendengar nya." Kata Paula di seberang telepon. " Iya sama - sama." Kataku sambil menutup telepon. Aku melihat waktu menunjukkan pukul tiga sore dan aku langsung keluar kantor dan pergi menuju ke sebuah restoran. Saat tiba disana, aku memesan tempat untuk bertemu dengan Paula dan tiba - tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Brenda dan Felix. Rasanya saat itu aku tidak tau harus berbuat apa dan Felix bertanya padaku tentang keberadaan ku di sana. Aku memberitahu nya jika aku ada pertemuan dengan klien. " Kenapa papa ada disini?" Tanya Felix sambil menatap ku dengan heran. " Papa ada pertemuan dengan klien." Jawabku singkat tanpa menjelaskan lebih lanjut. Saat itu Brenda menyapaku dan aku hanya tersenyum singkat padanya. Dari kejauhan, aku bisa melihat Paula datang dan aku langsung menghampiri nya tanpa memperdulikan Felix dan Brenda yang menatap ke arahku. Aku sengaja membawa Paula masuk ke dalam ruang pertemuan agar tampak meyakinkan jika aku tidak berbohong. Paula terlihat heran ketika aku mengajaknya ke ruang yang lebih tertutup dan aku beralasan padanya jika aku butuh ruang untuk lebih menjaga privasi. " Maaf jika kau merasa tidak nyaman berada di ruangan ini. Aku hanya ingin menjaga privasi saja." Kataku sambil menyuruhnya untuk duduk. " Aku tidak masalah asalkan aku bisa bersama mu." Kata Paula sambil memainkan rambutnya. Saat itu aku bertanya tentang kabarnya dan ia menjawab jika baik - baik saja. Tiba - tiba ia memegang tangan ku dan aku langsung melepas tangan ku darinya. Aku merasa Paula sengaja menggodaku dan aku tidak tergoda sama sekali. Saat itu aku memberitahu nya untuk mencari pendamping hidup tetapi ia tidak ingin bersama pria lain karena ia sangat mencintai ku. Aku tau Paula tulus mencintai ku tetapi aku tidak ingin memberinya harapan lebih karena aku tidak memiliki perasaan padanya. " Aku minta maaf sebelumnya tetapi asal kau tau jika aku masih mencintai almarhum istriku, Diana." Kataku sambil mengatakan yang sejujurnya padanya. " Aku tidak perduli tetapi yang jelas aku hanya ingin bersamamu. Aku sangat tulus mencintaimu jadi hargailah perasaan ku padamu." Kata Paula sambil memandangku. Waktu itu aku memberitahu nya untuk berteman saja dan hubungan kami tidak lebih dari itu. Paula menangis dan aku berusaha menenangkan nya. Aku meminta maaf padanya karena aku tidak bisa menerima cintanya padaku. Tidak beberapa lama ia berhenti menangis dan aku mengantarnya pulang ke rumah. Aku tidak menyangka jika ada seorang wanita yang sangat mencintai ku tetapi sayangnya aku tidak bisa membalas perasaan nya padaku. " Sebaiknya kau beristirahat. Maaf jika perkataan ku menyinggung perasaan mu." Kataku sambil meminta maaf padanya. " Tidak apa-apa. Aku akan berusaha menerima kenyataan ini dengan lapang dada." Kata Paula sambil menghapus air matanya. Sejujurnya aku tidak suka melihat wanita bersedih karenaku tetapi aku tidak ingin memberi Paula harapan palsu karena aku tau ia bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Tidak beberapa lama kami sampai di rumah nya dan aku menyuruhnya untuk beristirahat. Setelah itu aku pulang ke rumah dan di tengah perjalanan Felix menelfonku untuk segera pulang ke rumah karena Brenda memasak makanan untuk kami. Entah kenapa mendengar nama Brenda membuat jantung ku berdebar sangat kencang padahal tadi sore aku baru bertemu dengannya. " Kau tenang saja. Sebentar lagi papa sampai di rumah." Kataku sambil memegang ponsel. " Oke kalau begitu, kami tunggu di rumah." Kata Felix sambil mengakhiri pembicaraan di telepon. Tidak beberapa lama aku tiba di rumah dan aku mencium bau masakan yang sangat wangi. Saat itu Felix mengajakku untuk makan malam bersama dan rasanya kali ini aku salah bahagia ketika bertemu dengan Brenda. Ia terlihat sangat natural dengan penampilan nya yang sederhana tanpa riasan di wajahnya. Ia tersenyum padaku dan menuangkan makanan di atas piringku. Ia mengingatkan ku dengan Diana yang setiap hari selalu menghidangkan makanan untukku. Saat aku menyantap masakannya, aku sangat suka rasanya sehingga aku menambah lauk di piring ku. " Sudah ku duga papa akan menambah makanan." Kata Felix sambil tersenyum padaku. " Ayo tambah lagi." Kata Brenda sambil menambahkan ikan di piringku dan rasanya aku seperti di layani oleh istri ku sendiri. Sejujurnya aku sangat senang Brenda ada disini bersama kami sehingga rumah ini tidak terasa sepi. Seandainya Diana masih hidup, aku tidak akan merasakan kehampaan seperti ini. Tetapi aku yakin Diana sangat ingin melihat ku bahagia bersama Felix. Sampai kapanpun tidak ada yang bisa menggantikan posisi Diana di hatiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN