ALBERT POV
Rasanya hari ini aku sangat sibuk di toko. Beruntung ada Lucy yang membantu mengangkat barang - barang di toko.
Semakin hari penjualan barangku semakin meningkat dan aku semakin bersemangat mencari uang. Hari ini adalah hari pertama Lucy menerima gajinya dan aku memberinya komisi karena ia bekerja dengan baik selama sebulan bekerja.
Saat itu Lucy sangat senang menerima gajinya pertamanya dan ia berniat untuk menyisihkan sebagian gajinya untuk ia berikan kepada Clark.
" Terima kasih paman. Saya tidak menyangka mendapatkan gaji sebesar ini." Kata Lucy sambil menerima amplop yang berisi uang.
" Sama - sama Lucy. Om juga memberimu komisi karena kau bekerja dengan baik selama sebulan ini." Kataku sambil menyusun barang di rak.
Setelah menerima gaji, Lucy melanjutkan pekerjaan nya dengan membuat laporan keuangan. Tiba - tiba Ben datang ke tokoku dan ia sangat terkejut melihat tokoku yang sangat besar.
Waktu itu aku memperkenalkan Lucy kepada Ben dan itu pertama kalinya mereka bertemu karena sejak kecil Lucy tidak tinggal bersama Clark dan ia melanjutkan sekolah di luar kota.
Aku merasa Lucy tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ben dan Ben terlihat tidak nyaman saat Lucy memandangnya cukup lama.
" Perkenalkan ini Lucy, anak dari paman Clark." Kataku sambil mengenalkan Lucy kepada Ben.
" Senang berjumpa dengan mu. Ini pertama kalinya kita bertemu." Kata Ben sambil mengulurkan tangannya.
Saat itu Lucy menjabat tangan Ben cukup lama hingga Claudya datang menghampiri kami dan Ben melepaskan tangannya.
Aku melihat Claudya yang tidak suka dengan Lucy karena aku tau ia sangat cemburu jika Ben dekat dengan wanita lain.
Waktu itu Ben sengaja berkunjung ke tokoku yang baru dan ia mengajak Claudya ke tokoku. Tidak beberapa lama Claudya mengajak Ben pergi dan aku melihat Lucy yang terlihat kecewa saat Ben pergi bersama Claudya.
***
Entah kenapa aku merasa Lucy tidak fokus bekerja dan aku menyuruhnya untuk pulang cepat karena aku berpikir ia butuh istirahat untuk menjernihkan pikiran nya.
Tidak beberapa lama Lucy pulang duluan ke rumah dan aku membereskan toko. Tiba - tiba Wendy datang ke toko dan ia mengajakku untuk mengunjungi toko kuenya.
Saat itu Wendy terlihat sangat senang melihat tokoku yang baru dan ia berharap usahaku kali ini berjalan lancar dan tidak ada kendala.
" Aku ingin mengajakmu ke tokoku. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Kata Wendy sambil mengajakku pergi ke toko kuenya.
" Tunggu sebentar, aku mau membereskan tokoku dulu." Kataku sambil membereskan barang-barang di toko.
Setelah selesai menutup toko, aku pergi bersama Wendy dan saat tiba di tokonya, aku sangat terkejut melihat perubahan yang terjadi di toko kue miliknya.
Ternyata Wendy juga mempromosikan orang - orang untuk datang ke tokoku dan aku sangat senang karena ia membantuku.
Waktu itu Wendy membagikan komisi padaku karena aku sudah berhasil menjualkan kuenya kepada pelanggan ku. Aku berpikir uang itu akan ku gunakan untuk memesan barang untuk stok di tokoku.
" Aku ingin memberimu komisi karena sudah berhasil menjualkan kue - kueku kepada pelanggan mu. Besok aku akan menitipkan tiga puluh kue di tokomu." Kata Wendy sambil memberi amplop yang berisi uang kepada ku.
" Terima kasih Wendy. Aku tidak menyangka kau mempromosikan tokoku kepada pelanggan mu agar mereka datang ke toko ku yang baru." Kataku sambil berterima kasih kepada nya.
Wendy terlihat sangat senang membantuku dan tiba-tiba ia mengungkapkan perasaannya padaku jika ia menyukaiku dan menginginkan hubungan kami lebih dari sekedar hubungan bisnis.
Saat itu aku bingung dan tidak tau harus berkata apa padanya karena aku menganggap nya sebagai partner bisnisku.
Waktu itu aku berpamitan padanya karena aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan dan aku sempat berpikir untuk menjaga jarak darinya.
***
Aku tau Wendy terlihat sangat kecewa ketika aku memutuskan untuk pergi secepatnya karena aku tidak tau harus berkata apa padanya.
Sejujurnya aku tidak ingin memberi harapan lebih padanya karena aku tau ia seorang wanita yang baik dan pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku.
Saat ini aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun karena aku tidak ingin kecewa seperti dulu. Sudah dua kali aku mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan dan aku lebih memilih untuk fokus terhadap bisnisku.
" Ayah darimana saja? Kenapa baru pulang?" Tanya Adelle sambil membawakan tas kerjaku.
" Ayah tadi baru saja dari toko kue Tante Wendy." Kataku sambil memberitahu nya dan aku tidak melanjutkan cerita karena aku tidak ingin Adelle tau jika Wendy menyimpan perasaan padaku.
Aku tidak ingin Adelle berpikiran macam-macam terhadap ku karena ia tau aku sudah lama putus hubungan dengan Amanda.
Entah kenapa di pikiranku terlintas nama Amanda dan terbersit di dalam pikiran ku untuk menghubunginya. Aku tau Amanda saat ini sedang berduka atas kematian suaminya.
Lalu aku menghubungi nya dan tidak beberapa lama ia mengangkat telfon ku. Aku mengajaknya berbincang panjang lebar karena sejujurnya sampai saat ini aku tidak berhenti memikirkan nya.
" Aku turut berdukacita atas kematian suamimu." Kataku sambil memegang rambutku.
" Terima kasih, aku berharap kau besok bisa datang ke rumah ku karena keluarga ku mengadakan acara untuk mendoakan almarhum suamiku." Kata Amanda sambil menangis mengingat almarhum suaminya.
Saat itu aku menghibur Amanda agar ia berhenti menangis karena aku tidak ingin melihat nya bersedih. Rasanya saat itu aku sangat ingin berada di samping nya dan menenangkan nya tetapi aku tau hal itu tidak mungkin terjadi
***
Keesokkan harinya aku terbangun dan melihat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Lalu aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, aku berpakaian dan bersiap untuk sarapan bersama yang lain. Ternyata mereka sudah menungguku di meja makan dan aku ikut bergabung bersama mereka.
Sejujurnya pagi itu aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Amanda karena aku sangat merindukan nya. Setelah selesai sarapan, aku dan Lucy berangkat ke toko.
" Paman, seperti nya hari ini aku minta ijin bekerja sampai siang karena nanti aku ingin pergi ke dokter." Kata Lucy sambil meminta ijin padaku.
" Seharusnya hari ini kau tidak usah bekerja jika tidak enak badan." Kataku sambil menyetir dan aku melihat Lucy terdiam tanpa merespon perkataanku.
Aku tidak tau apa yang terjadi padanya tetapi sepertinya ia ada masalah. Tidak beberapa lama kami tiba di toko dan aku menyuruh Lucy untuk berada di kasir sambil melayani pelanggan yang datang.
Sedangkan aku yang menyusun barang - barang di toko dan tidak beberapa lama pelanggan berdatangan untuk berbelanja di tokoku.
Aku melihat Lucy seperti memaksakan diri untu bekerja dan aku melihat wajahnya yang pucat. Tiba - tiba Lucy jatuh pingsan dan aku membawanya ke dokter.