"Eh, gue gak tau mau ke mana," ucap Sihan berhenti dan tertawa konyol, namun kemudian, cewek itu menggerutu sebal dan Gina yang melihatnya hanya diam dan terus memperhatikan Sihan.
"Pokoknya, gue mau kasih pelajaran ke mereka berlima," sahut, Sihan menarik tangan Gina dan kembali ke kelas.
Ke lima T-FIVE itu, sibuk bermain game dalam kelas dan tidak sadar bahwa ada Sihan di depan mereka.
"Oh, setelah menghina orang lain gak ada inisiatif buat minta maaf, begitu?!" garang Sihan, merasa dihiraukan cewek itu menyita semua ponsel mereka berlima.
"Minta maaf, baru gue kasih," suruh Sihan.
"Kasih aja ponsel mereka, gak perlu minta maaf kalau gak ikhlas," ucap Gina dan pergi.
Sihan sendiri melototkan matanya ke arah Eagan, kunci utama dari mereka semua adalah pria itu. Sihan berkacak pinggang dan menatap Eagan dengan tajam, "gak mau minta maaf?"
Dengan sengaja, mereka menggeleng kepala.
"Heh, minta maaf cepet!"
"Gak mau, sayang," balas Eagan.
"Terus maunya, apa?"
"Maunya dicium sama kamu dulu, baru mau minta maaf," genit Eagan, Sihan menyubit lengan cowok itu dengan ganas. Jika memang cowok tersebut tidak mau, maka Sihan akan terpaksa melakukannya.
Dengan cara, menghapus semua game mereka berlima.
"Hm, udah game, apa lagi yah? Oke, kita menuju ke galeri ponsel."
Merasa bahaya dengan area galeri, ke lima anggota T-FIVE itu, kompak merebut ponsel mereka kembali.
"Astagfirullah!"
Sihan kaget dengan Eagan yang tiba-tiba merebut ponselnya sendiri, sekilas, Sihan melihat ada hal yang aneh di galeri ponsel mereka berlima.
"Kasih liat, gak?!"
"Gak boleh, ini privasi Laki-laki," jawab Eagan menaruh ponsel ke dalam saku celana.
Ke empat sahabatnya, menaruh ponsel di dalam baju mereka sehingga Sihan tidak dapat merebutnya kembali.
"Eagan, kasih. Kalau gak gue ambil sendiri," paksa Sihan.
"Jangan! Entar lo salah ambil," pekik Eagan.
Sihan akhirnya menyerah, cewek itu memalingkan wajahnya dan melihat Gina yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Sihan menghela napas, biarlah urusan ini menjadi urusan mereka, percuma jika dirinya berusaha namun Gina tetap cuek.
Eagan, cowok tersebut tertawa kecil. Hampir saja Sihan melihat hal yang tidak patut dilihat di galeri ponselnya.
"Ngapain lo ketawa?!" tanya Sihan dengan garang. Eagan heran dengan Sihan, mengapa cewek yang satu ini begitu galak? Ada bagus dan ada tidak. Yang bagusnya, pasti cowok-cowok akan berpikiran dua kali untuk mendekati Sihan, jadi dirinya berpeluang besar untuk menjadi dambaan hati cewek itu, namun, yang tidak bagusnya adalah, jika Sihan marah Eagan tidak akan yakin jika dirinya hanya dimarahi saja. Pasti ada sesuatu lain yang akan berperan.
Sebuah pukulan.
Melihat jam, sebentar lagi guru akan masuk. Eagan memiliki ide, ide yang buruk untuk mengajak Sihan bolos. Yah, Eagan ingin berduaan dengan Sihan tanpa gangguan siswa lain, jadi, jam pelajaran adalah waktu yang tepat.
"Sihan, temenin gue bentar."
"Ke mana?"
"Ada, gak usah nanya." Eagan menarik tangan Sihan tanpa sepertujuannya.
"Lo mau bawa gue ke mana, sih?!"
Eagan tidak menjawab, cowok itu terus berjalan hingga akhirnya sampai di taman sekolah.
"Yes, kita bolos."
Sihan melototkan mata dan memukul lengan Eagan dengan keras. "Eagan! Kalau mau ngajak bolos, jangan ke gue! Sama temen lo aja, sana!" kesal Sihan, kemudian Sihan meninggalkan Eagan. Cepat sekali, Eagan meraih tangan Sihan dan menahannya untuk tetap bersamanya di taman.
"Sekali-kali, dong," pinta Eagan.
"Gak, gue ketua kelas dan bukan seperti ini yang seharusnya gue contohin ke teman-teman gue. Gue punya resiko besar kalau nerima ajakan lo," balas Sihan dan menarik tangannya agak kasar.
Eagan berdecak kesal, dia lupa kalau Sihan itu ketua kelas. Sekarang, dirinya sendiri di taman dan melamun.
Pletak, sebuah botol mengenai dahi Eagan. Eagan ingin mengumpat, namun, melihat wajah dan tatapan tajam dari seorang Sihan dirinya langsung menciut.
"Ngapain diem di situ?! Ikut gue! Jangan ada bolos di antara kita."
Eagan terkekeh kemudian menyusul Sihan dengan semangat. Berhasil menyajarkan diri dangan Sihan, Eagan memberitahu cewek di sampingnya, "tak ada kata pisah di antara kita."
"Idih, hushh. Duluan sana, gue di belakang aja."
"Eh, gue aja yang di belakang. Biar gue bisa liat betapa indahnya tulang rusuk gue yang hilang," balas Eagan menampilkan jejeran giginya yang putih.
"Please, jangan senyum."
"Kenapa? Baper?" tanya Eagan, jangan lupakan dengan kerlingan genitnya.
"Jangan kepedean, tuh, ada sisa cabe di gigi lo," balas Sihan dan Eagan mendengus sebal, cowok itu mengambil ponselnya dan memperhatikan giginya, yang ternyata tidak ada cabe.
"s**t, Sihan, tungguin gue!" teriak Eagan.
Kembalinya mereka ke kelas, ternyata lagi-lagi freeclass dan inilah yang menjadi surga dunia untuk kaum T-FIVE.
"Freeclass? Hadeh, kalau gue tau mending rebahan di rumah," gerutu Sihan.
Sihan mengabaikan teman-temannya yang membuat ulah di kelas. Dirinya sudah lelah untuk menegur mereka, dalam benak Sihan biarlah mereka senang-senang untuk hari ini saja.