Setelah cukup lama hidup di Cijangkar, kini Sinar harus memulai dari nol lagi untuk mengajar di Ciharunten. Di sela-sela waktu, Khanza membuat es buntal, lalu dijual pada murid-muridnya yang mengaji. Namun, seiring berjalannya waktu, wanita kelahiran Garut itu merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Khanza yang baru saja selesai melakukan perkerjaan rumah tangga, ia memandangi suaminya yang sedang duduk di kamar seraya membaca kitab-kitab Islam. Wanita berkulit putih itu mendekati Sinar, ia duduk di samping suaminya dan terlihat ingin menyampaikan sesuatu. "A, A Sinar pan sering ngisi kajian ibu-ibu. Kumaha mun jualan sandal weh?" Khanza memberi saran. Sinar menatap Khanza dan seketika menutup kitab yang ada di tangannya. "Neng, Aa pan ngges nyarios. Rek fokus wae ka dakwah

