“Dira,” panggil Mila yang sedang memeriksa kontrakan miliknya. Sementara saat itu, Nadira keluar dari kontrakannya, akan pergi ke rumah sakit. “Bu Mila.” Nadira langsung menghampirinya, mengangguk sopan. “Lo kapan kerja lagi? Butik lagi banyak pesanan,” tanya Mila seraya berkacak pinggang, menatap sinis ke arah Nadira. “Bu, harus berapa kali bilang kalau Tama lagi dirawat di rumah sakit?” jawab Nadira sopan. Setidaknya, ia sudah terbiasa menghadapi Mila yang bicara blak-blakan. “Si Tama 'kan lagi gak sadar, kenapa lo repot bolak-balik? Lo bisa ke rumah sakit kalo abis pulang kerja,” ujar Mila seenaknya. Nadira menghela napas jengah, membuangnya secara sembarangan. Tak ingin membahas apapun lagi, Nadira berbalik ingin meninggalkan tempat itu. Namun, Mila kembali berseru sehingga

