Bab 1: Kehidupan Biasa Kael
Langit sore di Asteria selalu memancarkan semburat jingga yang menenangkan. Udara pegunungan yang sejuk membelai wajah Kael saat ia duduk di tepi ladang, memandangi bayangan Gunung Luminara yang menjulang tinggi, berdiri seperti raksasa yang menjaga desa kecilnya. Gunung itu selalu diselimuti kabut abadi, seakan menutupi rahasia yang tak pernah ingin diungkapkan.
Kael menyandarkan tubuhnya di batang pohon tua. Seperti biasa, hari-harinya dihabiskan dengan rutinitas yang membosankan: membantu ayahnya di ladang, mengangkut kayu bakar, atau berburu ikan di sungai. Tapi di balik semua itu, ada gelisah yang tak bisa dijelaskan. Seolah-olah hatinya memanggil sesuatu yang jauh dari jangkauan.
"Kael! Kau melamun lagi!" seru seorang pria paruh baya yang berdiri di jalan setapak, membawa cangkul di bahunya.
Kael tersenyum tipis. "Hanya berpikir, Ayah."
"Berpikir tak akan membuat ladang kita penuh gandum. Ayo bantu sebelum malam turun."
Kael menarik napas panjang, memaksakan senyum yang sama seperti yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun. Ia berjalan mengikuti ayahnya tanpa semangat, namun matanya sesekali kembali melirik puncak gunung yang tertutup awan.
Malam itu, Kael kembali ke rumah kecilnya yang terbuat dari kayu pinus tua. Ibunya menyiapkan sup hangat dan roti keras seperti biasanya. Makan malam berlangsung dalam diam. Ayahnya bercerita tentang ladang, ibunya mengingatkan tentang festival panen yang akan datang. Kael? Ia hanya diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar di pintu. Seorang pria tua berjubah kelabu berdiri di ambang pintu, membawa tongkat kayu yang dihiasi batu kecil bercahaya di ujungnya.
"Keluarga Kael?" tanyanya dengan suara serak.
Mereka saling berpandangan bingung.
"Aku datang mencari seorang anak muda yang memiliki ikatan dengan cahaya kuno," lanjut pria itu.
Ayah Kael mendengus. "Tidak ada cahaya kuno di sini. Kau salah rumah, Orang Tua."
Namun pria itu menggeleng pelan, matanya menatap Kael lurus-lurus, seakan menembus lapisan kulit hingga ke dalam hatinya.
"Kael, aku sudah menunggumu."
Kael berdiri kaku, tak mampu berkata apa-apa. Ada sesuatu dalam suara pria itu yang membuat hatinya berdetak lebih cepat.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Astrid, seorang pengembara yang berasal dari luar lembah. Ia mengaku membawa pesan dari dunia yang sudah terlupakan. Dunia yang bahkan di desa mereka hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur.
"Kael," katanya pelan, "kau memiliki tanda. Kristal Cahaya yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun telah memilihmu."
Kael menatap tangannya sendiri, kebingungan. "Aku? Pilih? Apa maksudnya?"
Astrid mendekat, mengeluarkan sebuah kristal kecil dari dalam jubahnya. Cahaya lembut mengalir dari permukaannya, menyentuh wajah Kael dan membuat ruangan itu tiba-tiba menjadi hangat.
"Ini... memanggilmu," bisik Astrid.
Dan entah mengapa, Kael merasa ada bagian dari dirinya yang memang memanggil kembali cahaya itu. Seolah-olah mereka pernah terhubung sejak lama, jauh sebelum ia lahir.
Ayah dan ibunya berusaha menolak Astrid, menyuruhnya pergi. Mereka takut Kael terseret ke dalam masalah yang tidak mereka mengerti. Namun malam itu, Kael tak bisa tidur. Cahaya itu terus berkilau dalam mimpinya, memanggilnya ke puncak Gunung Luminara.
Pagi harinya, tanpa sepatah kata, Kael meninggalkan rumahnya. Ia membawa kantung kecil berisi roti, pisau tajam pemberian ayahnya, dan secarik peta tua yang diberikan Astrid.
Langkahnya berat, namun hatinya terasa anehnya ringan.
Ia belum tahu bahwa perjalanannya bukan hanya menuju gunung... tapi menuju takdir yang akan mengubah dirinya selamanya.