Kabut tebal menyelimuti lereng Gunung Luminara saat Kael mendaki jalur sempit yang jarang dilewati manusia. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena medan yang sulit, tapi juga karena hatinya dipenuhi keraguan.
'Untuk apa aku melakukan ini?' pikirnya. 'Apa aku benar-benar dipilih? Atau hanya anak bodoh yang termakan dongeng tua?'
Namun, setiap kali rasa takut itu muncul, bayangan kristal bercahaya yang dilihatnya semalam kembali menari di pelupuk mata. Seolah ada suara yang berbisik dari dalam kabut, memanggilnya untuk terus maju.
Langit mulai gelap ketika Kael tiba di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi batu-batu menjulang seperti gigi monster. Di tengahnya, berdiri seorang wanita tua berjubah putih, rambutnya memutih namun matanya memancarkan kekuatan yang membuat Kael mundur satu langkah.
"Aku sudah menunggumu, Kael," kata wanita itu. Suaranya lembut, tapi mengandung kekuatan yang membuat udara bergetar.
Kael menelan ludah. "Siapa kau?"
"Astrid. Aku penjaga terakhir Lumen," jawabnya sambil mengangkat tangannya. Di telapak tangannya, kristal yang sama bersinar terang, mengusir kegelapan yang mulai merayap.
"Lumen...?" Kael mengerutkan kening. Nama itu terdengar asing, tapi juga anehnya familiar.
Astrid mengangguk. "Lumen adalah cahaya yang menjaga keseimbangan dunia ini. Tanpanya, semua akan tenggelam dalam kegelapan abadi. Dan kau, Kael, telah dipilih oleh Lumen."
Kael menggeleng keras. "Aku? Tidak mungkin. Aku hanya anak petani. Aku tidak punya kekuatan apa-apa."
Astrid tersenyum samar. "Semua penjaga yang besar selalu berasal dari tempat paling sederhana, Kael. Bukan darah atau keturunan yang membuatmu terpilih. Tapi hatimu. Dan kini, Lumen telah memilihmu untuk menjadi penjaganya."
Kael menatap tangannya sendiri, menunggu ada sesuatu yang terjadi. Tapi yang ada hanya dingin dan gemetar.
"Aku tidak bisa. Aku bahkan belum pernah bertarung, aku... aku bahkan tidak berani keluar dari desaku selama ini!" Kael berteriak, rasa takutnya memuncak.
Astrid tidak membalas kata-kata itu dengan kemarahan. Ia hanya menatap Kael dengan tatapan penuh pengertian.
"Takdir tidak menunggu mereka yang siap, Kael. Ia memanggil mereka yang berani melangkah, walaupun takut."
Hening melanda di antara mereka, hanya ditemani angin yang membawa bisikan lembut dari lembah di bawah sana.
Kael menunduk. Ia tahu hidupnya tak akan pernah kembali seperti semula. Tapi... apa ia benar-benar sanggup?
"Jika aku menolak?" tanyanya pelan.
Astrid menatapnya dalam. "Maka dunia ini akan kehilangan satu-satunya cahaya harapan terakhirnya. Nox... kekuatan gelap yang selama ini tersegel di dunia terlarang, telah bangkit. Ia akan datang, Kael. Dan tanpa penjaga, Lumen akan jatuh."
Kael menutup matanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak keras.
"Aku takut," bisiknya.
Astrid mendekat, meletakkan tangannya yang keriput di pundak Kael. "Rasa takutmu adalah kekuatanmu, Kael. Ia mengingatkanmu bahwa kau manusia. Tapi jangan biarkan ketakutan itu menutup hatimu untuk melangkah."
Hening kembali merayap. Lalu, tanpa banyak kata, Kael mengangguk pelan.
"Aku... akan mencoba."
Astrid tersenyum lebar, untuk pertama kalinya malam itu. "Bagus. Karena perjalananmu baru saja dimulai."
Kael menatap ke arah kabut yang menghalangi puncak gunung. Di sana, di balik awan gelap itu, takdirnya menanti.
Dan ia tahu, perjalanan ini akan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar anak petani.
Ia adalah Penjaga Cahaya.