Bab 3: Perjalanan Dimulai

522 Kata
Langkah Kael terasa berat saat ia meninggalkan puncak dataran tinggi tempat Astrid memberinya pesan. Jalan yang membentang di depannya seperti tak berujung, membelah hutan lebat yang dipenuhi suara-suara asing dan bayangan yang menari di sela pepohonan. Kael tak pernah meninggalkan desanya sejauh ini. Setiap desir angin yang membelai tengkuknya membawa ketakutan baru, dan setiap suara ranting patah membuatnya terlonjak. Namun ia terus berjalan. Astrid hanya memberinya satu petunjuk sebelum berpisah: "Temukan Gerbang Cahaya di Kota Thalara. Di sana, kau akan bertemu dengan orang-orang yang akan membantumu." Thalara. Kota yang hanya ia dengar dari cerita pengembara tua di pasar malam. Kota yang katanya dipenuhi penyihir, pedagang dari negeri jauh, dan... bahaya yang tak bisa dibayangkan oleh anak desa sepertinya. Malam pertama di perjalanan, Kael hanya tidur berselimut mantel tipis di bawah pohon tua, ditemani suara serigala yang terdengar dari kejauhan. Ia memeluk lututnya, menatap bintang-bintang di langit yang terasa lebih dingin dari biasanya. 'Apakah aku benar-benar bisa melakukan ini?' Keesokan harinya, saat fajar menyingsing, Kael melanjutkan perjalanan menuju jalan utama yang menuju Thalara. Namun di tengah perjalanan, suara gaduh menarik perhatiannya. Kael mengintip dari balik semak, matanya melebar saat melihat sekelompok bandit mengelilingi seorang pemuda berjubah hitam. Pemuda itu berdiri santai, memegang pedang tipis berkilau perak. "Serahkan kantongmu kalau kau ingin hidup, anak kota!" teriak salah satu bandit. Namun pemuda itu hanya menghela napas, seolah-olah ancaman itu hanyalah gangguan kecil. "Dengan senang hati... jika kalian bisa mengambilnya dariku," jawabnya dingin. Seketika, pertempuran meletus. Kael terpana saat melihat gerakan pemuda itu. Cepat. Mematikan. Seolah-olah ia menari di antara bandit-bandit itu, dan dalam hitungan detik, para bandit roboh satu per satu, tak mampu menyentuh bahkan ujung jubahnya. Kael menahan napas, matanya membelalak. Siapa dia...? Pemuda itu mengusap pedangnya dengan kain, lalu menoleh ke arah Kael yang sembunyi. Tatapannya tajam seperti elang, membuat Kael membeku di tempat. "Kau tidak pandai bersembunyi," katanya pelan, berjalan mendekat. Kael meneguk ludah, berdiri dengan gugup. "Ma-maaf. Aku... aku hanya lewat..." Pemuda itu memiringkan kepala, menatap Kael dari atas ke bawah. "Anak desa, sendirian di jalanan seperti ini? Kau cari mati?" Kael merasa darahnya mengalir cepat. Ia ingin membantah, tapi tak mampu. Apa yang dikatakan pemuda itu benar. Ia memang nyaris mati kalau bertemu orang-orang seperti bandit tadi. "Aku... sedang dalam perjalanan ke Thalara," jawab Kael akhirnya. Pemuda itu mengangkat alis. "Thalara? Apa urusan anak petani sepertimu di kota penuh penyihir dan pemburu kepala itu?" Kael ragu. Haruskah ia percaya pada orang ini? Namun sebelum ia bisa menjawab, pemuda itu tersenyum miring. "Namaku Lysander," katanya sambil memasukkan pedangnya ke sarung. "Dan kau beruntung. Aku juga menuju ke Thalara. Jika kau tak ingin mayatmu membusuk di pinggir jalan, ikutlah denganku." Kael memandangi punggung Lysander yang mulai berjalan tanpa menoleh lagi. Ada sesuatu yang aneh dari pemuda itu. Ketenangan yang dingin, namun juga aura gelap yang sulit dijelaskan. Namun, di tengah ketakutannya, Kael tahu satu hal: Ia tak bisa menghadapi perjalanan ini sendirian. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Lysander. Tanpa ia sadari, itu adalah langkah pertama yang akan membawanya ke dalam intrik dunia yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan. Dan Lysander... adalah awal dari semua misteri yang akan mengubah segalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN